Trending Topic
Mengapa Anak di Indonesia Saat Ini Tidak Bisa Divaksinasi Covid-19?

20 Jan 2021


Foto: Shutterstock
 
Uji Coba Vaksin Covid-19 Untuk Anak-Anak

Tujuan pemberian vaksin Covid-19 bukan hanya memproteksi diri dari terjangkit virus Covid-19. Idealnya, program nasional pemberian vaksin Covid-19 juga untuk menghentikan penyebaran virus ini. Oleh karena itu diharapkan sebanyak-banyaknya masyarakat mendapatkan vaksin ini termasuk anak-anak.

Walau kasus positif Covid-19 pada anak memiliki angka yang kecil dibangingkan dengan kelompok usia dewasa, bukan berarti anak-anak tidak perlu divaksin. Anak-anak memang terlihat seperti tidak menularkan virus Covid-19. Padaha justru sebaliknya, mereka justru bisa menjadi carrier yang membahayakan para orang tua.

Saat ini beberapa perusahaan yang memproduksi vaksin Covid-19 sedang melakukan uji coba penggunaan pada anak-anak. Salah satunya adalah Pfizer, yang memulai uji klinis  pada anak usia 12 tahun mulai Oktober 2020 lalu.  Uji klinis akan melibatkan 3000 relawan berusia 12 hingga 18  tahun. Hingga saat ini, belum ada hasil uji klinis tersebut. Sedangkan vaksin Covid-19 milik Pfizer yang saat ini sudah digunakan bisa diberikan kepada anak usia 16 tahun ke atas.

Dikutip dari fiercebiotech.com , vaksin Sinopharm yang dikembangkan oleh China National Biotec Group (CNBG) diklaim bisa digunakan hampir segala umur dan ampuh melawan banyak varian virus. “Uji melawan jenis virus baru di Inggris sedang dilakukan dengan hasil awal sementara yang baik. Vaksin ini bisa menginduksi perlindungan,” kata ketua CNBG Yang Xiaoming.

Vaksin pertama yang sudah diizinkan penggunaannya secara masal Desember lalu ini bisa digunakan kepada anak-anak dan remaja. Sebelumnya, vaksin ini telah mengantongi izin penggunaan darural di bulan Juli 2020. Yang Xiaoming mengaku hingga kini perusahaanya tidak menemukan perbedaan keamanan dan efektifitas antar kelompok umur.

"Anak-anak berusia 3 sampai 17 tahun bisa menerima vaksin CNBG," ujar Yang. Catatannya adalah bahwa pada anak 3-5 tahun, sistem imun tubuh masih dalam perkembangan awal, "Mereka harus diobservasi secara hati-hati jika diputuskan divaksinasi," tambahnya.

Hasil uji klinis yang dilakukan menunjukkan tingkat efikasi 79,34 persen. Tingkat kemampuannya membangun antibodi dalam tubuh mencapai 99,52 persen. Dari data yang dikumpulkan, efek samping yang muncul terbatas kepada nyeri di sekitar lokasi suntikan, sakit kepala, nyeri otot, dan demam.

CNBG juga mengeksplorasi teknik dan dosis yang berbeda-beda dalam uji klinis yang dilakukannya. Hasilnya, diketahui vaksin memberi efek terbaik ketika suntikan dosis yang kedua berjangka 3-4 bulan dari yang pertama. Kini, CNBG sedang mengamati jangka waktu proteksi yang mampu ditawarkan.

Yang Xiaoming juga menjelaskan bahwa delapam bulan yang lalu kelompok pertama telah menerima dosis vaksin, dan hingga kini masih terlindungi. Data CNBG menunjukkan ada perlindungan setidaknya untuk enam bulan, dan masih dilakukan uji coba apakah kemampuan itu masih ada untuk delapan bulan atau lebih.


Topic

#IngatPesanIbu, #3M, #satgascovid-19, #covid-19

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?