
Foto: Stocksnap.io
Di buku berjudul Happy City, Transforming Our Lives Through Urban Design, Charles Montgomery juga menulis hasil penelitian tentang kota di Swiss. Ia menemukan bahwa gangguan psikosis –termasuk skizofrenia- paling umum terjadi di kota yang minim interaksi sosial para warganya. Charles berkesimpulan, makin kita terhubung dengan keluarga dan komunitas tempat tinggal kita, akan makin berkurang pula risiko kita mengalami penyakit seperti flu, serangan jantung, stroke, kanker, dan depresi.
Hubungan bertetangga berkorelasi dengan kebahagiaan. “Menjalin persahabatan dengan orang lain dalam lingkungan rumah kita adalah obat penawar dari stres. Efeknya ke anak pun menjadi lebih baik. Ketika orang dewasa punya pertemanan, maka anak-anak mereka akan terhindar dari efek stres orang tuanya,” tulis Charles.
Charles juga menggambarkan hubungan antara sense of belonging dan trust. Mereka yang punya tingkat kepercayaan tinggi pada komunitas sekitarnya, biasanya adalah mereka yang sudah memiliki sense of belonging. Adapun, sense of belonging itu amat dipengaruhi oleh adanya interaksi sosial dengan tetangga. “Komunikasi dengan tetangga itu sesungguhnya sepenting komunikasi dengan teman dekat dan keluarga kita,” tulis Charles.
Hal senada dikemukakan sosiolog perkotaan, Dr. Linda Darmajanti, MT,. Hal yang menjadi ukuran kualitas kehidupan sosial antara lain adanya kedekatan dengan lingkungan sekitar, partisipasi dalam kegiatan, dan adanya kepedulian serta sikap saling menolong pada tetangga lingkungannya. “Keberadaan fasilitas umum dan ruang publik seperti taman memang bisa sangat membantu terciptanya kualitas kehidupan sosial yang lebih baik. Sayangnya, infrastruktur inilah yang masih minim di Jakarta,” katanya.
Adakah keterkaitan antara bentuk hunian dengan gaya bertetangga? Misalnya, warga kompleks perumahan dengan warga yang non perumahan, atau apartemen, mana yang lebih baik kehidupan sosialnya?
“Tentu ada hubungan antara desain hunian dengan gaya bertetangga,” ujar Marco Kusumawijaya, Arsitek dan Pendiri Rujak Center for Urban Studies. Dalam sejarah, tatanan kota-kota lama di Indonesia, Marco merujuk pada bangunan yang dibangun arsitek keturunan Belanda, Herman Thomas Karstens. Beberapa di antaranya, Gedung Kesenian Sobokartti di Semarang, rancangan permukiman Candi Baru dan Mlaten di Semarang, serta perumahan murah Kwarasan di bagian barat daya Kota Magelang. Karstens biasanya merancang permukiman dengan jalan-jalan kecil yang melebar di tengahnya, bertujuan untuk memberi ruang hijau. “Sebetulnya, bentuk fisik semacam ini juga didesain untuk memberi kesempatan orang untuk saling berinteraksi,” jelas Marco.
Ada kesan bahwa kawasan perumahan warganya cenderung individualis. Hal ini tidak bisa digeneralisasi. Ia memberi contoh, di Kota Yogyakarta misalnya, ada gejala yang menarik. Ada satu kompleks perumahan yang warganya bisa sangat guyub. Padahal, orang-orang yang tinggal di Yogyakarta sangat beragam, mereka datang dari berbagai daerah, memiliki beragam pekerjaan, pendidikan, serta latar belakang ekonomi. Ini menyebabkan asimilasi budaya.
“Jadi, tidak bisa dikatakan bahwa orang yang tinggal di dalam kompleks, umumnya membentuk orang menjadi lebih individualis. Kalau bangunan fisiknya begini, maka pasti tidak ada interaksi. Tidak bisa dikatakan seperti itu. Yang terjadi, orang bisa mengubah lingkungannya,” tuturnya.
Dalam sejarah arsitektur, pernah ada contoh nyata tentang hubungan fisik antara sebuah desain bangunan dengan tingkat kejahatan. Sebuah apartemen bernama Pruitt- Igoe, di Missouri, Amerika Serikat, adalah contoh nyata tentang kegagalan desain yang akhirnya dihancurkan oleh pemerintah setempat.
Apa yang salah? Bangunan tersebut tidak cukup ventilasi, toiletnya dipakai bersama, koridornya yang gelap rawan pencopet, kurangnya ruang publik, dan pemeliharaan infrastruktur yang tidak dijaga, membuat sebagian besar penghuninya memilih hengkang, hingga akhirnya mereka yang bertahan hanyalah mereka yang berasal dari kelas ekonomi terbawah yang rentan menjadi pelaku kriminal.
Tentu hal ini menjadi PR bagi para arsitek urban di Indonesia, bagaimana mendesain hunian yang tidak mentah-mentah mengadopsi desain dari luar negeri semata, tetapi juga bisa menangkap budaya lokal. Angin segarnya, di tengah segala keterbatasan dan kondisi Kota Jakarta, belakangan di beberapa tempat sudah mulai muncul solidaritas --selain masalah kriminalitas dan kematian warga-- bermunculan solidaritas dalam hal mengurus sampah, merawat taman, serta dalam hal pencegahan wabah penyakit, seperti demam berdarah. Keberadaan grup WhatsApp ataupun Blackberry Messenger di antara warga komunitas, turut menghidupkan interaksi sosial.
“Sekarang, bisa kita lihat, beberapa inisiatif warga untuk meningkatkan kualitas kehidupan sosial mereka. Di kawasan Pondok Indah misalnya, warga sekitar bekerja bakti memperbaiki taman, warga di perumahan suburban, memanfaatkan ruang publik untuk kegiatan aerobik atau yoga, dan sebagainya. Hal seperti ini adalah kesempatan untuk membangun,” jelas Marco.
Memang, menunggu kehidupan sosial di kota berubah menjadi lebih baik dengan berpangku tangan pada pemerintah dan pembangunan infrastruktur saja, rasanya tidak akan membantu. Kita tidak tahu kapan itu akan terwujud. Semua orang pada dasarnya bisa, kok, mengubah kota. Seperti juga yang dicontohkan oleh Marco, untuk mengubah kota, kita harus mulai dengan mengubah diri kita sendiri. (f)


