Trending Topic
Cermin Tak Percaya Diri

10 Sep 2013


Kepopuleran penasihat spiritual, atau apa pun istilahnya, dalam suatu masyarakat bisa jadi cermin masyarakat itu sendiri. Menurut Munjid, popularitas semacam ini hanya terjadi dalam masyarakat yang menempatkan spiritualisme pada tingkat yang sangat penting. ”Pada masyarakat sekuler, di mana agama menjadi urusan pribadi, jabatan penasihat spiritual jadi tidak umum,” ujar Achmad Munjid, dosen Center for Religious and Cross-Cultural Studies, Pascasarjana Universitas Gajah Mada.

Tetapi, tidak begitu dengan praktik paranormal. Pada masyarakat yang paling sekuler, di mana masyarakatnya  mementingkan segala sesuatu  yang bersifat keduniawian dan kebendaan sekalipun, praktik paranormal masih tetap ada.    

Secara bijak, Karlina tak memandang populer atau tidaknya praktik paranormal sebagai hal yang baik atau buruk. Yang ia kritisi adalah sebagian orang yang sedikit-sedikit minta nasihat kepada penasihat paranormal. ”Gaya hidupnya memang sudah modern, tapi cara berpikirnya tidak. Ia tidak percaya pada kekuatan diri sendiri, tapi malah berpegang pada kekuatan lain,” ujar Karlina Supelli, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Apalagi praktik paranormal itu sering membuat seseorang melakukan hal-hal di luar batas kewajaran, seperti mandi menggunakan darah hewan, menikahi banyak wanita perawan, dan lain sebagainya. ”Yang perlu diwaspadai adalah praktik ini digunakan untuk mencari keuntungan pribadi, tak hanya uang tapi juga seks.

Harga yang harus dibayarkan untuk sebuah ’nasihat’ paranormal itu pun sering kali sangat mahal dan tidak masuk akal,” ujar Karlina, prihatin. Meski begitu, paranormal masih laris dicari. Sebenarnya, apa yang membuat seseorang begitu ketergantungan pada penasihat spiritual yang paranormal itu?
 ”Ini menunjukkan banyak orang mengidap krisis kepercayaan diri dalam bertindak. Orang jadi tidak percaya diri tanpa meminta pertimbangan dan bantuan dari pihak lain,” kata Munjid.

Sebenarnya, jadi sedikit ironis saat seseorang berusaha mengatasi masalah yang real, nyata, biasa terjadi sehari-hari, dengan cara yang dianggap tidak real, dan di luar cara yang biasa dilakukan sehari-hari. Sebagai contoh, sudah sewajarnya pelajar yang menghadapi ujian akan belajar dengan tekun, dan mungkin ia akan berdoa. Namun, karena tekanan dan kekhawatiran yang sangat berat, ia tetap merasa tidak percaya diri, sehingga merasa perlu pergi ke seseorang yang mampu mengatasi masalahnya dengan cara di luar kebiasaan, seperti membawa jimat yang telah diberi mantra atau mengenakan benda-benda pembawa keberuntungan, dan lain sebagainya.

Contoh lain, saat seseorang maju dalam sebuah pemilihan calon wakil rakyat atau pemimpin daerah, misalnya. Dalam sebuah kompetisi politik, kemampuan, tim, dan strategi  mestinya bisa mengatasi persoalan. Tapi, meski semua sudah ia miliki, ia masih merasa harus melakukan hal yang melampaui semua itu, dan biasanya merujuk pada dunia paranormal.

”Semua itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia bisa dikategorikan sebagai nervous society, artinya masyarakat yang serba khawatir. Ini terjadi karena kompetisi yang sangat tinggi, sehingga orang dilanda kekhawatiran di luar batas, dan membuat tindakannya menjadi tidak rasional,” jelas Munjid. Yang pasti, logika seseorang jadi tidak ’jalan’ saat nervous.

Saat dunia sudah serba modern, namun praktik perdukunan dan paranormal itu masih ada, maka yang terjadi adalah paradoks, bertentangan. ”Saat rasional dan perhitungan logis seharusnya diutamakan, tapi, pada praktiknya cara-cara irasional masih terjadi. Itu yang saya sebut sebagai krisis,” jelas Munjid.
   
Di sisi lain, Karlina menilai, ini terjadi karena kesukaan masyarakat pada hal-hal instan, konsumtif, atau yang mudah saja. Mendengarkan para penasihat itu lebih mudah ketimbang Anda merenung, mengolah rasa, dan mempertimbangkan berbagai hal sendiri untuk menentukan tindakan. 

Selain konsumtif, menurut Karlina, masyarakat kita cenderung ikut-ikutan tren, termasuk memiliki penasihat spiritual. Bahkan, tren ini jadi semacam gengsi karena banyak selebritas, sosialita, dan pejabat punya penasihat spiritual.
”Banyak orang lebih memilih cara perdukunan untuk mengobati penyakit meski akhirnya memperlambat kesempatan sembuh. Uang yang keluar pun tidak sedikit. Namun, yang lebih memprihatinkan adalah keputusan-keputusan politik yang diambil dengan dasar kepercayaan pada yang gaib,” komentar Karlina.
Tepatkah jika menentukan momentum tepat untuk menerapkan kebijakan tertentu harus disesuaikan dengan angka-angka keberuntungan yang dikatakan paranormal kepercayaan?



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?