Trending Topic
Di Antara ‘Belantara’ Pilihan

5 Mar 2014


Di era modern ini, kita memang dihadapkan dengan samudra pilihan dan hak istimewa untuk memilih pilihan apa pun yang Anda sukai. Namun, di sisi lain, era media sosial juga telah memberikan kita ‘kekuasaan’ untuk menjadi influencer bagi orang lain. Memang, dengan strategi yang tepat, Anda bisa menggerakkan massa menjadi pengikut Anda. Tapi, jika strateginya salah, Anda mungkin akan berhadapan dengan banyak orang yang siap mencoret Anda dari daftar teman mereka.  
   
Menurut sosiolog perkotaan, Roby Muhamad, ini masalah yang wajar dihadapi masyarakat modern. “Makin maju kita, makin banyak pilihan yang kita hadapi. Maka,   kita akan  makin bingung harus memilih di antara sekian banyak pilihan itu. Dan akhirnya berkelompok adalah satu cara yang dibuat manusia untuk menavigasi dirinya di antara ‘belantara’ pilihan itu,” paparnya.      
   
Jika kita memiliki kelompok yang membantu mengarahkan kita dalam memilih, beban kita dapat berkurang. Dengan berkelompok, kita memang bisa saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman, sehingga kita bisa membuat pilihan yang lebih baik. Dampaknya, kualitas kebahagiaan hidup kita pun bisa meningkat.
   
Meski pilihan kita dapat dipengaruhi oleh kelompok sosial kita, menurut dosen psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Adriana Ginanjar, MPsi, pada dasarnya ada tiga hal utama yang memengaruhi keputusan manusia saat memilih:
  1. Kebutuhan, dimulai dari kebutuhan dasar sandang, pangan, dan papan. Tapi, di era modern seperti saat ini, dengan kondisi ekonomi yang lebih baik, kebutuhan manusia sudah melampaui kebutuhan dasarnya. “Sekarang, ada kebutuhan atas eksistensi diri atau status. Misalnya, orang tak lagi memilih mobil karena kebutuhannya saja, tapi ada simbol status yang ingin ia representasikan lewat mobilnya itu. Demikian juga dengan pilihan gaya hidup, seperti olahraga, restoran, gadget, hingga tujuan liburan,” jelas Adriana.
  2. Nilai yang ia anggap penting dalam hidupnya, seperti agama, kontribusi terhadap masyarakat, kekuasaan, hingga prestise, memengaruhi bagaimana seseorang memilih kelompok pertemanan, barang, hingga aktivitas sosial.
  3. Ciri kepribadian orang tersebut. Pilihan orang yang ekstrover tentu akan berbeda dengan yang introver.
Pernyataan Qaris Tadjudin, jurnalis dan pengamat gaya hidup, membenarkan pemaparan Adriana. Menurutnya, gaya hidup yang kita pilih bukan sekadar fashion style pilihan kita, musik yang kita sukai, olahraga yang kita gandrungi, atau cara kita bergaul. “Gaya hidup merupakan representasi dari karakter kita. Semua yang kita pilih menunjukkan siapa kita,” jelasnya.

Tren gaya hidup sendiri secara global ditentukan oleh industri. Industri mode menentukan apa yang jadi tren di musim ini, industri musik menentukan genre musik apa yang menjadi tren kali ini, dan seterusnya. “Memang, industri juga melihat apa yang terjadi dalam masyarakat. Tapi, yang menentukan tren secara langsung adalah industri. Nah, medialah pihak yang menyebarluaskannya,” lanjut Qaris.

Akhirnya, untuk menguatkan pilihan yang telah diambil, muncullah kelompok-kelompok atau komunitas yang terbentuk dari kesamaan minat anggotanya. “Organisasi semiformal ini banyak terbantu oleh kemajuan teknologi. Dahulu, hanya orang-orang yang memiliki kekuasaan dan akses terhadap media, seperti mahasiswa, tokoh masyarakat, atau politikus, yang bisa mendirikan organisasi.

Kini, siapa pun bisa berorganisasi dengan bantuan teknologi,” papar Roby.
Komunitas itu dijadikan kendaraan untuk menyebarkan benih-benih kebaikan atau manfaat dari pilihan yang telah mereka buat, mulai dari olahraga, pola makan, parenting, dan pilihan gaya hidup lainnya. Tujuannya adalah mengajak lebih banyak orang untuk mengadopsi pilihan gaya hidup yang sama dengan mereka, sehingga lebih banyak orang pula yang merasakan manfaat yang mereka rasakan.

Meski begitu, tak sedikit pula yang bergerak sendirian. Berusaha menjadi influencer bagi kelompok masyarakat di sekitarnya, minimal bagi teman-temannya. Lagi-lagi, kemajuan teknologi memegang andil besar di sini. “Kini,  siapa saja memiliki media untuk berbicara kepada massa yang lebih luas. Dengan begitu, mereka bisa mencoba menjadi influencer atau agent of change bagi kelompok di sekitarnya,” jelas Qaris.

Eka Januwati



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?