"Hai seksi, mau ke mana... Abang antar, yuk!" (diikuti dengan siulan menggoda).
"Duh, goyangan pinggulnya maut!"
"Duh, goyangan pinggulnya maut!"
Itu beberapa kalimat yang sering terdengar saat kita menjadi salah satu dari banyak wanita yang pernah digoda di ruang publik. Mereka yang berani, mungkin akan balik memberi respons pedas. Tapi, tak jarang perasaan takut, malu, dan bahkan sungkan kerap membuat wanita hanya diam tertunduk. Bahkan, karena takut menyalahi budaya Timur yang ramah, justru meresponsnya dengan sopan. Padahal, komentar-komentar tadi adalah pelecehan dalam bentuk verbal. Apa yang menjadi batasan masuk dalam ranah pelecehan, dan bagaimana menghadapinya? Sadari posisi Anda sebagai korban, dan belajarlah kepada para survivor yang bersedia membagikan kisah mereka kepada femina.
Pahami Artinya
Sebanyak 65% wanita atau 104 juta wanita mengalami pelecehan di ruang publik. Hasil survei yang dilakukan oleh organisasi nirlaba asal Amerika Serikat, Stop Street Harassment (www.stopstreetharassment.org) --yang resmi berbadan hukum di tahun 2012-- menjadi pijakan penanganan bentuk pelecehan yang kerap disepelekan sebagai bentuk candaan yang ‘wajar’. Sebab, masih begitu banyak yang tidak sadar bahwa mereka telah menjadi korban!
Berikut ini yang termasuk dalam kategori street harassment atau pelecehan di ruang publik: catcalls atau komentar-komentar iseng, komentar seksual yang bersifat eksplisit, pernyataan seksis, penghinaan yang bersifat homophobia, rabaan, kerlingan atau kedipan mata, dan serangan fisik. Pelecehan di ruang publik ini membatasi akses dan mobilitas di ruang publik, dan merupakan bentuk kekerasan gender, yang tak lain adalah pelanggaran hak asasi manusia. Ini harus dihentikan!

Cerita Para Survivor
Siapa pun bisa menjadi korban pelecehan di ruang publik. Cerita para survivor ini menjadi pembelajaran yang tidak perlu terulang, deh...
Jalanan Bisa Rawan
"Peristiwa pelecehan telah saya alami sejak masih di bangku sekolah. Dari disuitin, dicolek, dipeluk dari belakang, payudara saya disentuh, sampai ada yang sengaja memperlihatkan kemaluannya di depan saya. Reaksi saya pada saat terjadi jelas menjerit kaget karena merasa tidak siap dan malu minta ampun. Selain itu, jelas saya marah luar biasa. Merasa tersinggung dan terluka kehormatan saya.
"Hal yang paling menyakitkan terjadi saat saya masih berprofesi sebagai penyiar radio. Saat itu saya baru saja turun dari angkutan umum, berjalan menuju tempat bekerja ketika seorang pria yang mengayuh sepeda datang dari arah berlawanan dan meremas payudara saya. Saya kaget dan marah. Spontan saya tendang roda sepedanya dan berteriak. Sayang, jalanan sepi. Orang itu buru-buru kabur entah ke mana. Saya tidak pernah memperhitungkan bahwa peristiwa ini bisa terjadi di jalan yang biasa saya lalui sehari-hari." Nimas Aksan, 35, Staf Bea Cukai
Pria Asusila di Angkot
"Kejadiannya sudah lebih dari lima tahun yang lalu, tetapi masih terasa segar seperti baru terjadi kemarin. Saya sedang menghadiri sebuah acara di Kota Malang. Saya memilih kendaraan umum angkot, yang waktu itu memang dalam kondisi penuh. Di samping saya duduk laki-laki yang sedang tidur, atau pura-pura tidur, sampai saya merasa ada yang menggerayangi paha dan perut saya. Awalnya saya kira tidak sengaja, tapi rupanya hal ini berulang. Saya pukul dan singkirkan tangannya. Tapi dengan diam, karena saya tidak ingin mengundang keramaian. Saya pandangi dia dengan mata melotot, dan pria itu hanya menunduk.
"Eh, bukannya takut, dia ulangi lagi! Saya sudah dalam tahap ingin berteriak, tapi malu. Malu kalau ketahuan menjadi korban yang digerayangi. Takut orang justru menyalahkan posisi saya, karena tak jarang korban pelecehan sering mendapat stigma sebagai wanita nakal dan ‘mengundang’. Berhubung sudah tidak tahan lagi, saya pukul kepalanya dengan telapak tangan. Semua penumpang melihat saya dengan aneh. Bukannya mencari tahu, mereka malah memberikan ekspresi terganggu. Pria asusila tadi yang malah jadi lebih berani dan berteriak, 'Apa, sih?' Saya hanya bisa melotot, kata-kata saya tercekat di tenggorokan, tak bisa keluar saking marahnya. Ketika saya akhirnya memutuskan turun dari angkot, barulah saya menangis. Saat itu saya benar-benar merasa bodoh. Kenapa mesti malu dan gengsi? Kita adalah korban. Untuk alasan apa pun juga, jangan biarkan orang melecehkan kita. Pelaku harus diberi pelajaran!" Yamini Soedjai, 35, Pengacara Publik (f)
Foto: Fotosearch, femina
Topic
#pelecehanverbal


