
Foto: Freepik
Menerapkan jaga jarak atau social distancing memang tidak semudah mengatakannya. Jangankan dengan keluarga sendiri, menjaga jarak fisik dengan orang yang tidak kita kenal pun terkadang masih ‘kecolongan’. Ini wajar, sebab selama hidup kita memang terbiasa berdekatan dengan orang lain.
Saat ini, di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia, seluruh negara menyerukan social distancing. Tapi, apakah manjaga jarak ini bernar-benar bisa mengurangi risiko tertular COVID-19?
Jurnal medis The Lancet menerbitkan penelitan mengenai efektifitas social distancing dan penggunaan masker terhadap penularan virus yang menyerang saluran pernafasan. Dari data yang didapat dari 16 negara di 6 benua ini, risiko penularan virus lebih rendah jika menjaga jarak minimal 1 meter. Risiko ini bisa diperkecil lagi dengam melakukan #3M lainnya, yaitu memakai masker dan mencuci tangan.
Walau saat ini diajurkan untuk di rumah saja, ada kalanya kita harus keluar dan bertemu dengan orang. Saat seperti ini, kita harus sadar dan waspada dengan lingkungan yang beresiko dalam penularan virus. WHO menyebutkan ada setidaknya 3 tempat atau situasi yang memiliki risiko penularan yang cukup tinggi, yang disebut dengan istilah Three Cs:
1/ Crowded Place
Tempat yang terdapat banyak orang. Walaupun orang-orang ini tidak berdekatan, risiko penyebaran virus tetap tinggi.
2/ Close-contact settings
Keadaan saat beberapa orang saling berdekatan. Misalnya beberapa orang yang melakukan percakapan dalam jarak dekat. Situasi ini lebih berisiko dari crowded place.
3/ Confined and enclosed space
Ruang terbatas dan tertutup. Berada bersama beberapa orang dalam ruangan seperti ini lebih berisiko dibanding close-contact setting. Terlebih lagi jika ventilasi di ruangan tersebut tidak baik.
Risiko penularan akan semakin tinggi jika ketiga situasi di atas ada dalam satu waktu, orang berkerumun dan berdekatan di ruang tertutup. Hindari segera!

Topic
#ingatpesanibu, #3M, #satgascovid, #covid-19, #jagajarak




