Urap Adas Aik serta Umai dengan Crunchy Ikan Seruyuk jadi hidangan pembuka. Foto: IG @ayotelusuri
Sedih hati kita melihat kebakaran hutan dan ladang di berbagai daerah di Indonesia yang berlarut-larut—di ribuan hektare hutan di Kalimantan, di Papua, dan Sumatra Selatan.
Padahal kita tahu bahwa hutan adalah paru-paru dunia, serta sumber daya hayati nan kaya yang menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan, dan dijaga oleh para perempuan pemberani. Mereka menanam, memanen, mengolah, hingga melindungi hasil hutan untuk bahan pangan keluarga maupun masyarakat lebih luas.
Seniman Pangan Indonesia, Javara Indonesia, serta The Asia Foundation pun rutin menggelar Jamuan Puan Rimba, acara bersantap dengan makanan yang diolah dari hasil hutan Indonesia, sebagai bentuk apresiasi dan menjaga keberlanjutan sumber daya hayati tersebut.
Mereka bekerja sama dengan Women Forest Defenders, program yang memperkuat para perempuan penjaga hutan agar tugas mereka terus berlanjut dalam melestarikan hutan.
Jamuan Puan Rimba yang Femina nikmati akhir September lalu jadi sebuah momen yang penuh makna, di tengah isu karhutla yang membuat emosi kita terus bergejolak. Kali ini ada bahan pangan dari hutan di tiga wilayah yang ditampilkan, yaitu dari Sumatra Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat.
Beragam bahan yang tumbuh di hutan dikemas lebih modern, termasuk Tempoyak dan Terasi Kluwak. Foto: Dok. Femina
Setelah lidah kita digugah dengan kesegaran Lobe-Lobe Lemonade (NTB) yang kaya vitamin C, Urap Adas Aik (NTB) jadi hidangan pembuka. Sajian urap direinterpretasi dengan bahan-bahan dari hutan, dengan rasa unik dressing daun herba.
Makanan ini berdampingan dengan Umai dengan Crunchy Ikan Seruyuk (Kaltara), ceviche versi kearifan lokal yang memadukan tuna segar dengan cabai hutan dan bawang merah, serta jeruk liar.
Kesegaran rasa gurih autentik ikan tuna ditemani kerenyahan Seruyuk, ikan endemik dari Sungai Kayan di Kalimantan Utara, yang dipanen saat bulan purnama.
Sup Masam Ancau (Sumsel) jadi hidangan selanjutnya. Sup ikan patin dengan tambahan batang rotan muda nan lembut (Umbut Rotan) ini enak banget dipadankan Tempoyak atau saus durian yang telah difermentasi. Gurihnya lingering meski suapan terakhir telah habis.
Menjelang hidangan utama, palet kita dibersihkan Granita Terong Belanda (Sumsel). Rasa asam-manis sedikit pahit yang khas dari es serut ini membuat lidah kita siap menyambut hidangan selanjutnya.
Gadung dengan Jamur Gerigit yang gurihnya bikin nagih, berkat umami dari hutan. Foto: IG @ayotelusuri
Sebagai main course, Jamuan Puan Rimba menyuguhkan Gadung dengan Jamur Gerigit (NTB dan Sumsel). Gadung adalah sejenis umbi liar yang perlu teknik tersendiri dalam mengolahnya, dengan dikeringkan berminggu-minggu, agar tidak lagi ‘beracun’ atau memabukkan.
Gadung disajikan bersama jamur gerigit, jamur liar yang tumbuh di batang pohon mati atau terluka, biovetsin dengan rasa umami alami. Paduan keduanya memiliki rasa umami kuat dan gurih. Enak banget jadi lauk atau karbo. Tak heran jika Femina tambah beberapa kali!
Menu lainnya adalah Nasi Subut (Kaltara), paduan beras yang dimasak dengan jagung, ubi, dan kacang merah. Bukan cuma lezat, hidangan ini juga memberi tekstur rasa yang bikin Femina tentunya merasa tak cukup sekali makan.
Nasi Subut yang kaya tekstur dan rasa; Kerupuk Talas yang crunchy-nya enak banget. Foto: Dok. Femina
Lauk untuk menemani Nasi Subut dan Gadung pun sangat beragam—para peserta makan siang jadi penasaran ingin segera mencicipi setiap hidangan.
Ada Sate Pusut (NTB), sate lilit khas Lombok yang dibuat dari daging cincang, kelapa parut, dan rempah-rempah lokal. Daging satenya wangi, gurih, lembut, dan memiliki cita rasa khas.
Ada juga Pepes Tain Kemangi (NTB) dengan tampilan luar mirip otak-otak. Bedanya, makanan ini terbuat dari ampas kelapa sisa pembuatan minyak kelapa, yang dibungkus daun pisang dengan tambahan potongan udang, dan dikukus. Pepes ini lembut, manis-gurih, dan cocok dimakan langsung atau bareng sate. Yummy!
Pepes Tain Kemangi dan Sate Pusut; rasanya mungkin tidak familiar, tapi enak banget.... Foto: Dok. Femina
Hidangan protein lainnya adalah Malbi (Sumsel), daging semur berbumbu rempah-rempah harum, yang dimasauk perlahan selama berjam-jam. Pantas saja begitu digigit, dagingnya serasa lumer di mulut, nyam....
Untuk menyeimbangkan cita rasa di hidangan utama, Jamuan Puan Rimba menyajikan Sayur Mata Cumi (NTB). Berisi Kacang Lebui dengan tojan dan kemangi, mata cumi yang dimaksud adalah tampilan Kacang Lebui seperti mata cumi di dalam sayur dengan kuah benar-benar sedap ini!
Hutan sebagai sumber bahan pangan kita juga kaya akan beragam bahan untuk membuat sambal. Dan itu terbukti lewat tiga sambal, yaitu Sambal Payang (Kaltara) dari kluwak, Sambal Beberuk (NTB) dari potongan terung, serta Sambal Kemang (Sumsel) dengan buah kemang yang rasanya manis dan asam tajam.
Tiga sambal dengan ragam permainan rasa, Sayur Mata Cumi dan Malbi. Foto: Dok. Femina
Efek crunchy yang wajib ada di menu kita adalah Rempeyek Bekai (Kaltara), rempeyek dengan irisan daun bekai, daun endemik di Kaltara yang merupakan biovetsin, serta Kerupuk Talas (NTB). Daun talas digoreng kering ternyata rasanya nikmat banget!
Jamuan Puan Rimba yang menyorot beragam bahan makanan hutan di Sumsel, Kaltara dan NTB itu ditutup dessert Es Krim Cokelat Antutan (Kaltara), yang menyajikan es krim cokelat Antutan dengan cacao nibs Antutan.
Dua minuman, Kopi Semendeu (Sumsel) dari biji kopi yang tumbuh di hutan kawasan Semendeu serta Teh Pala (NTB), jadi pamungkas makan siang. Rasa pahit khas Kopi Semendeu dan kesegaran teh tanpa gula itu mengunci petualangan rasa yang penuh kehangatan siang itu.
Es Krim Cokelat Antutan (atas); Granita Terong Belanda dan segelas kecil Kopi Semendeu yang kaya rasa meski tanpa gula. Foto: Dok. Femina
Hidangan dari hutan ini juga digelar di forum Bangkok Climate Active Week 2026 awal Oktober lalu, untuk menyuarakan aksi iklim berbasis komunitas.
Semoga hutan kita di mana pun kembali teduh, tidak dibakar lagi, dan kita bisa terus menikmati kekayaan hayatinya dalam bermacam hidangan menggugah rasa dan daya. (f)
Baca juga:
Dari Hutan ke Meja Makan, Bertualang Rasa di Jamuan Puan Rimba
Wonderful Indonesia Gourmet Membimbing Dunia Menelusuri Gastronomi Jakarta dan Bali
Mulai Januari Ini, Binte Biluhuta, Sei Sapi, dan Kue Talam Ternikmat di Four Seasons Jakarta
Zornia Harisantoso
Topic
#kuliner




