Jamuan Puan Rimba (dari kiri searah jarum jam): Granita Kacang Merah, Lobi-Lobi Mocktail, Kue Bawang Betumpuk, Main Course, Sayur Batang Talas, Sambal Payang, Appetizer, Dessert. Foto: Dok. Javara Indonesia
Di akhir pekan kedua di tahun baru ini, Femina menikmati makan siang istimewa di Javara Culture, Jakarta.
Bukan saja menunya adalah kombinasi hidangan sambutan untuk tamu dari Sumatra Selatan (Muara Enim - Semende), Nusa Tenggara Barat (Lombok Tengah) dan Kalimantan Utara (Malinau), tapi juga karena bahan-bahannya langsung dibawa dari daerah asalnya (sekitar 120 bahan!), diambil dari pedalaman hutan Indonesia.
Siang itu, Femina jadi salah satu tamu di Jamuan Puan Rimba, yang dipersembahkan oleh Women Forest Defenders dari tiga wilayah tersebut, Seniman Pangan Indonesia, Javara Indonesia, serta The Asia Foundation.
Acara ini, bersama pop-up market yang menampilkan bahan-bahan olahan Women Forest Defenders, adalah ruang pengenalan publik atas praktik Perhutanan Sosial yang dikelola oleh perempuan.
Hasil karya para peserta program Women Forest Defenders selama mengikuti pelatihan dijual di pop-up market. Foto: Dok. Femina
Mereka menjalankan pengelolaan hutan lestari yang menjaga keanekaragaman hayati, memperkuat kedaulatan pangan lokal, serta meningkatkan penghidupan perempuan dan komunitas.
Program Perhutanan Sosial telah membuka ruang bagi komunitas yang menggantungkan penghidupannya dari hasil hutan untuk mengelola kawasan hutan secara legal dan berkelanjutan.
Apalagi perempuan memegang peran penting sebagai pengelola, pengolah hasil hutan, penjaga pengetahuan lokal, sekaligus penggerak ekonomi keluarga dan komunitas.
Melalui program Women Forest Defenders (WFD), The Asia Foundation mendukung dan memperkuat inisiatif perempuan pengelola Perhutanan Sosial sebagai pengambil keputusan dan pengelola usaha berbasis hasil hutan non-kayu.
Para peserta WFD mendapat ilmu baru di kebun yang dikelola Seniman Pangan. Foto: Dok. Javara Indonesia
“Hutan adalah supermarket tanpa tagihan,” ujar Helianti Hilman, food biodiversity entrepreneur, menggambarkan begitu banyak kekayaan hutan yang bisa diolah untuk makanan kita.
“Perempuan adalah aktor kunci yang memastikan hutan kita selamat,” kata Helianti, sehingga keaneragaman hayati Indonesia sebagai salah satu yang terbesar di dunia pun terjaga.
Di Jakarta, peserta program WFD mendapat pelatihan intensif selama hampir seminggu, yang dirancang untuk memperkuat kapasitas para perempuan pengelola hutan dalam pengolahan pangan, pengembangan resep, pemasaran produk berbasis hasil hutan non-kayu bersama para pakar di bidang pangan.
Jamuan Puan Rimba jadi acara puncaknya, mengajak para tamu menikmati kekayaan alam Nusantara, sekaligus mengangkat nilai pangan hutan di mata kuliner modern dengan menampilkan akar tradisi dan prinsip keberlanjutannya.
Dua host siang itu, Helianti Hilman dan Chef Wira Hardiansyah, promoter of ancient food, mengajak Femina dan para tamu lainnya bertualang rasa menikmati versi elevated hidangan dari Sumsel, NTB, dan Kaltara. Benang merahnya, hidangan-hidangan tersebut biasanya disajikan untuk tamu istimewa.
“Runtutan tata kelola hutan yang baik menghasilkan sustainability,” kata Helianti Hilman. Foto: Dok. Javara Indonesia
Lobi-Lobi Mocktail yang segar dari NTB jadi welcome drink menyambut kami sebelum duduk di meja makan yang telah ditata cantik oleh para peserta program WFD. Setelah itu, sambil membangun networking, kami bisa mencicipi welcome snack berupa Kue Bawang Betumpuk dari Kaltara dengan Sambal Terung Belanda dari Sumsel.
Kue Bawang Bertumpuk ini mirip rempeyek, namun bedanya ia hanya dimasak menggunakan tepung beras dan daun bekai.
Daun bekai adalah daun endemik khas suku Dayak Kenyah (Kabupaten Malinau, Kaltara), yang merupakan biovetsin. Bentuk daunnya lebar, tidak berbau, dan saat dimakan langsung biasa saja, namun ia adalah penyedap rasa alami.
Selalu ada sambal khas di tiap daerah; terasi vegan dari Kaltara; penataan jamuan diusahakan tanpa plastik. Foto: Dok. Femina
Kue Bawang Betumpuk dicocol Sambal Terung Belanda yang pedasnya segar, pas banget menunggu hidangan pembuka!
Hidangan pembuka pun hadir: Lawar Pakis dari Kaltara dipadukan Kue Bubuw dari Sumsel. Lawar Pakis mirip urap, sementara kue bubuw seperti bubur sumsum dijadikan kue–kenyal, lembut, manis. Surprisingly, paduan keduanya menggugah lidah!
Kemudian, Sayur Batang Talas dari NTB jadi hidangan berkuah yang hangat--tapi enak juga untuk dinikmati dingin. Ada kacang merah di dalamnya, juga potongan daun bekai.
Menurut Chef Wira, yang menyiapkan hidangan bersama para peserta WFD, untuk semua hidangan di Jamuan Puan Rimba, selain garam dan gula, ia hanya memakai penyedap rasa alami dari hutan, seperti daun bekai, juga jamur gerigit.
Jamur gerigit, yang tumbuh dari batang pohon mati atau terluka, dan ada di seluruh Indonesia. Namun tidak di semua daerah mengonsumsinya, meski jamur ini adalah biovetsin untuk cita rasa gurih atau umami alami.
Selanjutnya, hidangan utama dari Jamuan Puan Rimba tiba–sebuah harmoni dari masakan ketiga wilayah. Ada Ketan Grigit yang padat dan gurih serta Brengkes Ikan/Pepes yang lembut sedikit asam dari Sumsel, lalu Ayam Beberuk (enak banget!), Sambal Beberuk, dan Ares (bagian dalam batang pisang muda) dari NTB, juga Sambal Payang dari Kaltara.
Sambal Payang adalah sambal terasi versi vegan. Ia terbuat dari buah sejenis kluwek (kuhek atau selayat) yang difermentasi. Rasanya gurih mirip terasi, dengan aroma kuat. Enak untuk cocolan, dan rasanya unik, terutama bagi Femina yang baru pertama kali mencicipinya.
Sebelum menikmati dessert, palate cleanser disajikan, berupa Granita Kacang Merah dari NTB–manis dengan tambahan serai dan jahe. “Versi asli dari minuman ini biasanya disajikan kepada mereka yang mau mendaki Gunung Rinjani,” jelas Chef Wira.
Kue Bawang Betumpuk + Sambal Terung Belanda; Sambal Payang, Ketan Grigit + Brengkes Ikan/Pepes, di atasnya ada Ayam Beberuk dan Sambal Beberuk + Ares; Kue Celilong + Kue Jambu Hutan. Foto: Dok. Femina
Kue Jambu Hutan dari Sumsel dan Kue Celilong (mirip serabi Solo) dari NTB menutup jamuan siang itu. Keduanya disajikan bareng selai jambu hutan yang memiliki rasa khas manis-asam. Selai ini cocok jadi cocolan untuk beragam camilan.
Lewat petualangan rasa berkesan bersama Jamuan Puan Rimba, kita kembali disadarkan betapa hutan tropis Indonesia kaya akan produk hutan non-kayu yang non-eksploitatif.
Selain itu, acara ini jadi pengingat bahwa hutan adalah ruang penghidupan yang jika dikelola secara lestari dan adil akan memberi manfaat yang nyata bagi perempuan dan komunitas. Pastinya, juga akan memperkuat kedaulatan pangan kita. (f)
Baca juga:
Indonesia Bawa Tempe Hingga Madu di Terra Madre Asia Pacific 2025 di Filipina
Huhate, Tradisi Lestari dan Keunggulan Indonesia bagi Industri Tuna Nasional
Berkenalan dengan Mikroalga, Sumber Nutrisi Super Lawan Stunting
Zornia Harisantoso
Topic
#kuliner




