Penyakit sel sabit merupakan salah satu penyebab anak menderita anemia yang wajib diwaspadai para orang tua. Foto ilustrasi: FreepikHari ini, 19 Juni 2025, diperingati sebagai Hari Penyakit Sel Sabit Sedunia (World Sickle Cell Day); sel sabit atau sickle cell adalah salah satu penyebab anemia pada anak yang sangat berbahaya dan wajib diwaspadai para orang tua.
Anemia bisa berhubungan dengan jumlah sel darah merah yang kurang atau memiliki bentuk yang tidak normal. Kelainan bentuk ini disebut dengan penyakit sel sabit atau sickle cell anemia. Berikut adalah 5 faktanya yang harus diketahui orang tua!
1/ Bentuknya tak biasa
Penyakit sel sabit adalah kondisi ketika bentuk sel darah merah mengalami anomali. Kondisi ini membuat sel darah menjadi kaku dan tidak seelastis sel darah merah normal.Sel sabit juga mudah pecah saat melewati pembuluh darah kecil sehingga dapat menyumbat aliran darah di pembuluh kecil. Pasokan oksigen ke berbagai bagian tubuh pun berkurang, sehingga memicu komplikasi pada berbagai organ.
Saat terjadi anemia dan eritrosit (sel darah merah) berjumlah kurang dari batas wajar, tentu menjadi krusial karena dapat menyebabkan kekurangan zat besi, vitamin B12, hingga dapat menimbulkan penyakit kronis.
2/ Perlu lebih banyak zat besi
Orang dengan kondisi ini membutuhkan lebih banyak zat besi. Dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia bertajuk Anemia pada Anak, Prof. Dr. dr. Harapan Parlindungan Ringoringo, Sp.A, Subsp.H.Onk(K) dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi IDAI, menjelaskan bahwa makanan seperti daging sapi, ayam, ikan, juga hati ayam, sangat membantu penyerapan zat besi hingga 10%-15%.Buah dan sayuran seperti jus jeruk, pir, apel, mangga, brokoli juga bisa membantu anak terhindar dari anemia. Hindari roti, kafein, susu, kacang-kacangan karena dapat mengurangi penyerapan zat besi.
3/ Bisa mengganggu kemampuan motorik dan kognitif
Kekurangan zat besi juga dapat mengganggu proses mielinisasi (pembentukan lapisan pelindung saraf) dan penyediaan energi untuk sel otak. Hal ini bisa mengganggu perkembangan motorik, kognitif, perilaku, bahkan pendengaran dan penglihatan anak.“Bila metabolisme otak terganggu karena retensi zat besi, ini bisa mengganggu proses kognitif, penglihatan, dan pendengaran. Namun ini bisa terjadi ketika sudah terjadi selama 2-3 tahun tanpa penanganan,” ujar dr. Parlin.
4/ Ketahui gejalanya untuk pencegahan
Mencegah lebih baik dari mengobati. Segera periksakan ke dokter jika anak menunjukkan gejala seperti:- Pusing
- Pucat
- Jantung berdebar
- Terasa mau pingsan
- Sesak napas
- Mudah marah
- Cepat lelah
- Nyeri dada dan persendian
- Penglihatan terganggu
- Memar di tangan dan kaki.
5/ Dulu berbahaya, kini punya harapan
Setiap tahun, sekitar 500.000 bayi di dunia lahir dengan penyakit sel sabit. Dulu, harapan hidup bagi penderita penyakit ini sangat rendah, hanya sampai usia 21 tahun.Namun, berkat kemajuan teknologi di bidang kesehatan, seperti transplantasi sumsum tulang dan pengobatan yang teratur, penderita memiliki harapan hidup hingga berusia 50 tahun bahkan lebih. Apalagi jika mereka menjalani gaya hidup sehat dan mendapatkan perawatan rutin.
Anemia sel sabit adalah kondisi serius yang bisa memengaruhi kualitas hidup anak jika tidak ditangani sejak dini. Pola makan sehat, pemantauan rutin, dan kesadaran orang tua adalah kunci untuk membantu anak tumbuh optimal meski hidup dengan kondisi ini.
Jangan abaikan gejala anemia pada anak. Konsultasikan dengan dokter dan pastikan kebutuhan zat besi anak terpenuhi setiap hari.
Baca juga:
Mirip Demensia, Ini 4 Gejala Utama Anda Kekurangan Vitamin B12
Mengenal Zinc, Primadona Baru untuk Imunitas Tubuh
Alasan Mengapa Vitamin D Penting Bagi Sistem Imun Anda
Ghina Athaya
Topic
#AnemiaAwareness #KesehatanAnak #ZatBesiUntukTumbuh




