
1/ Benarkah Pemilih Wanita Tidak Lagi Apatis?
Pemilihan umum jadi salah satu indikasi demokrasi. Sebelum pilkada 2018, tahun lalu femina pernah menggelar survei yang dilaksanakan secara online pada 17-24 Januari 2017. Menurut responden, mereka mengikuti kampanye melalui berbagai media, mulai dari televisi, koran, majalah, hingga media sosial.
Mereka mengikuti dan mencari tahu, tidak saja calon-calon yang bertarung dalam kontes pilkada, tetapi juga program-programnya apa. Sebuah kemajuan. Apakah ini merupakan salah satu indikasi bahwa wanita kini tidak lagi apatis? Simak pendapat ahli tentang pemilih wanita di SINI.
2/ 4 Alasan Utama Wanita Tidak Memilih Calon Kepala Daerah Pada Pilkada 2018
Untuk menangkap aspirasi wanita terhadap pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018, Femina Group, Accenture, dan Jurnal Perempuan, menggelar survei Pemimpin Pilihan Perempuan yang dilaksanakan secara online pada Maret hingga pertengahan Mei 2018 lalu.
Survei yang dilakukan secara kuantitatif ini diikuti oleh 1.580 wanita 15 tahun keatas dari seluruh Indonesia bertujuan untuk melihat sosok pemimpin ideal di mata wanita dan bagaimana wanita melihat dinamika politik di Indonesia saat ini.
Dari hasil survei tersebut banyak terungkap fakta menarik. Salah satunya adalah alasan wanita untuk tidak memilih pasangan calon kepala/wakil kepala daerah. Baca alasannya di SINI.
3/ Joko Widodo : Pilihan Boleh Berbeda ,Tetapi Kita Tetap Bersaudara
Berbeda dengan pilkada DKI tahun lalu, suasana pilkada serentak di berbagai daerah kali ini terasa lebih damai. Banyak TPS yang tidak sekadar menjadi tempat mencoblos, tapi tempat halal bihalal. Suasana lebaran masih terasa.
Beberapa tokoh masyarakat, termasuk Presiden Joko Widodo, dan lembaga masyarakat seperti Majelis Ulama Indonesia, menyampaikan imbauan agar masyarakat bisa melakukan pemilihan dengan aman, menerima setiap hasil yang diperoleh, dan saling menghormati dan menghargai perbedaan pilihan. Simak rangkumannya di SINI.
4/ Wanita Masa Kini Memperhatikan Rekam Jejak KDRT dan Poligami Calon Pemimpin Politik
Menurut Anita Dhewi dari Jurnal Perempuan meluasnya isu feminisme dan berkembangnya kesadaran atas hak-hak perempuan sedikit banyak juga berpengaruh terhadap wanita dalam menentukan pilihan politiknya.
Kriteria calon pemimpin yang tidak berpoligami, tidak melakukan KDRT, tidak terlibat tindak kekerasan terhadap wanita menjadi persyaratan yang dipandang penting oleh sebagian wanita. Ini sesuai dengan hasil survei yang dilakukan Femina Group, Accenture, dan Jurnal Perempuan. Seperti dijelaskan di SINI.
5/ 8 TPS Unik Pilkada 2018. Seru!
Ada beragam cara untuk menarik minat warga datang menyalurkan aspirasinya di ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018. Mulai dari petugas KPPS yang mengenakan busana kerajaan Tiongkok, sampai yang memakai kostum pocong!
Ada pula yang menyediakan photo booth ala instagram untuk pojok narsis. Setidaknya, dengan cara ini mereka tidak perlu kena pidana kurungan maksimal 2 tahun atau denda maksimal 36 juta gara-gara selfie di bilik suara, atau memotret surat suara yang sudah dicoblos (Peraturan Bawaslu No.13/2018 & UU No. 10/2016, pasal 187a ayat 1).
Simak beberapa TPS berkonsep unik di ajang Pilkada 2018 yang dihimpun oleh femina dari berbagai media sosial di SINI. (f)
Baca Juga:
Percayalah, Suara Anda di Pilkada 2018 Bisa Memberi Perubahan
Ternyata, Figur Pemimpin yang Jujur dan Berintegritas yang Disukai Pemilih Wanita
Topic
#beritahebohsepekan


