Istana Balai Besar. Foto: Dok. AirAsiaAda daerah yang memikat karena kemegahan gedung-gedung modernnya. Ada pula yang mengundang rasa penasaran karena bentang alamnya. Kelantan menawarkan sesuatu yang berbeda.
Kawasan di pesisir timur Semenanjung Malaysia mengajak kita mengenal sebuah destinasi melalui cerita budaya yang diwariskan dan bertahan.
Perjalanan bersama AirAsia dalam rangka menjajal rute baru Jakarta-Kota Bharu menjadi kesempatan Femina untuk mengenal Kelantan lebih dekat.
Saat menyambut media, Timbalan Menteri Besar Kelantan, Yang Berhormat Dato’ Dr. Mohamed Fadzli Bin Dato’ Haji Hassan, menyampaikan harapan atas terbukanya kolaborasi antara Kelantan dan Indonesia. Tak hanya di sektor pariwisata, kerja sama juga diharapkan berkembang ke bidang wisata kesehatan, perdagangan, pendidikan, hingga investasi.
Melalui perjalanan ini, Femina mengenal lebih dekat budaya, sejarah, dan kekayaan kuliner yang menjadi identitas Kelantan.
Sambutan sarat makna
Begitu tiba di Kota Bharu, suasana langsung terasa berbeda.Di kawasan Jalan Mahmud, tidak jauh dari Stadion Sultan Muhammad IV, rombongan disambut dengan pertunjukan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Kelantan.
Pertunjukan Silat Kelantan. Foto: Dok. FeminaDentuman gendang membuka pertunjukan Silat, seni bela diri Melayu yang telah diwariskan turun-temurun.
Namun yang menarik, silat di Kelantan tidak hanya menampilkan kekuatan. Setiap gerakan justru tampak anggun, diiringi alunan serunai yang membuatnya lebih menyerupai tarian daripada pertarungan. Ketangkasan dan kelembutan berpadu dalam setiap langkah, memperlihatkan filosofi masyarakat Melayu yang menjunjung keseimbangan.
Kesenian Kertok Kelapa, dahulu untuk menghalau burung di sawah. Foto: Dok. FeminaSuasana kemudian berubah ketika bunyi ritmis Kertok Kelapa mulai terdengar. Dahulu, alat musik sederhana dari kayu merbau dan tempurung kelapa ini digunakan petani untuk menghalau burung di musim panen. Kini, fungsinya telah berubah menjadi kesenian pada berbagai acara budaya.
Tak kalah menarik adalah Gasing Uri, permainan tradisional yang menguji ketahanan putaran gasing.
Berbeda dengan Gasing Pangkah (dimainkan saling berbenturan), Gasing Uri dimainkan untuk melihat siapa yang mampu membuat gasing berputar paling lama. Di baliknya, tersimpan filosofi tentang kesabaran dan konsentrasi.
Atraksi Gasing Uri. Foto: Dok. FeminaPerjalanan budaya ditutup pada malam terakhir melalui pertunjukan Dikir Barat. Dikir Barat bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk menyampaikan pesan, humor, hingga kritik sosial melalui musik.
Puluhan penampil duduk berderet sambil bernyanyi, bertepuk tangan, dan bergerak mengikuti irama musik tradisional. Liriknya berdialek Kelantan atau Melayu, memancarkan energi yang terasa begitu kuat hingga penonton larut dalam suasana.
Dikir Barat hadirkan gerakan ritmis. Foto: Dok. FeminaJejak Kesultanan
Salah satu yang paling membekas adalah wisata ke Istana Balai Besar, bangunan yang berdiri sejak 1845.Dari luar, arsitekturnya tampak sederhana dengan dominasi kayu cengal dari Pasir Puteh. Namun di balik dinding-dindingnya tersimpan sejarah panjang yang berlanjut hingga kini. Ini adalah kesempatan istimewa bagi Femina, karena istana ini masih menjadi lokasi istiadat Diraja Kelantan (upacara resmi Kesultanan Kelantan) dan tidak dibuka untuk umum.
Karipap, Kuih Koleh Kacang, dan Pulut Lepa. Foto: Dok. FeminaMohd Izaan, Pegawai Pentadbiran Pejabat Sultan Kelantan, menjelaskan bahwa Istana Balai Besar bukanlah kediaman keluarga kerajaan pada masa kini, melainkan balairung tempat berlangsungnya berbagai istiadat penting.
“Istiadat rasmi pertama yang direkodkan di sini ialah penerimaan surat persahabatan daripada Raja Chulalongkorn pada tahun 1905,” ujarnya.
Di sela kunjungan, rombongan dijamu tiga kudapan khas Kelantan. Ada Pulut Lepa (pulut bakar) yang dibungkus daun pisang, Kuih Koleh Kacang dengan rasa manis yang lembut, serta Karipap hangat berisi kentang berempah kari.
Interior Istana Balai Besar berbahan kayu cengal. Foto: Dok. FeminaBalai utama dibagi menjadi empat fungsi berbeda.
1/ Ruang A diperuntukkan bagi keluarga kerajaan.
2/ Ruang B ditempati para pembesar negeri.
3/ Ruang C menjadi tempat penerima anugerah.
4/ Ruang D disediakan bagi para pendamping penerima penghargaan.
Seluruh susunan kursi menghadap Singgahsana, yang selesai dibangun pada 1925 dan hingga kini masih digunakan dalam setiap upacara resmi Kesultanan.
Singgasana Raja Kelantan masih digunakan dalam upacara Kesultanan. Foto: Dok. AirAsia, Dok. FeminaYang tidak kalah menarik adalah sistem tata air di kawasan istana.
Kompleks ini dikelilingi saluran air sejak masa lampau sebagai sistem pengendali banjir. Saat banjir besar melanda Kota Bharu pada tahun 2014, kawasan istana tetap kering berkat kombinasi kanal, pintu air, dan pompa yang masih berfungsi dengan baik.
Ini bukti bahwa pengetahuan arsitektur tradisional ternyata telah memperhitungkan kondisi alam jauh sebelum teknologi modern berkembang.
Istana Jahar kini Museum Adat Istiadat Diraja Kelantan. Foto: Dok. FeminaIstana yang menyimpan tradisi kehidupan
Perjalanan berlanjut menuju Istana Jahar, bangunan berwarna kuning yang kini jadi Museum Adat Istiadat Diraja Kelantan.Istana ini pernah menjadi tempat bersemayam Sultan Ismail Ibni Sultan Muhammad IV sepanjang tahun 1920-1944. Kini, setiap ruangnya menghadirkan gambaran kehidupan keluarga kerajaan, mulai dari prosesi kelahiran hingga pernikahan.
Diorama Istiadat Melenggang Perut di Museum Adat Istiadat Diraja Kelantan. Foto: Dok. FeminaSalah satu tradisi yang paling menarik perhatian adalah Istiadat Melenggang Perut, upacara kehamilan putri kerajaan memasuki usia tujuh bulan.
Prosesi tersebut memadukan doa keselamatan dengan tradisi bidan Melayu sebagai harapan agar ibu dan bayi selalu berada dalam lindungan.
Diorama Istiadat Pijak Tanah di Museum Adat Istiadat Diraja Kelantan. Foto: Dok. FeminaTradisi lain yang juga unik adalah Istiadat Pijak Tanah.
Dalam adat Kesultanan Kelantan, seorang putra atau putri raja tidak diperkenankan menginjak tanah sebelum menjalani upacara khusus. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap bumi sekaligus doa agar sang anak memperoleh kehidupan yang baik ketika mulai menapaki dunia.
Selain kedua adat tersebut, masih banyak diorama yang menggambarkan rangkaian adat istiadat diraja Kelantan, mulai dari kelahiran, pertunangan, pernikahan, hingga berbagai upacara kebesaran kerajaan.
Di bagian belakang istana terdapat Balai Senjata, yang menyimpan koleksi keris, lembing, badik, kelewang, serta berbagai senjata tradisional yang dahulu digunakan Kesultanan Kelantan.
Rumah Melayu Kelantan Tiang 12 dibangun sekitar tahun 1870. Foto: Dok. FeminaRumah Tiang 12, jejak arsitektur Melayu Kelantan
Di sela perjalanan, Femina berkesempatan mengunjungi Rumah Melayu Kelantan Tiang 12, salah satu rumah tradisional yang kini semakin langka.Sesuai namanya, rumah ini ditopang oleh 12 tiang kayu utuh tanpa sambungan, dengan struktur yang terbagi menjadi Rumah Induk, Rumah Tengah, dan dapur. Ciri khas lainnya terlihat pada atap pelana dengan papan pemeleh melengkung yang menjadi identitas arsitektur Melayu Kelantan.
Menurut Pengerusi Pertubuhan Cakna Komuniti dan Warisan Malaysia Profesor Adjung (UiTM) Johan Ariff Ismail, Rumah Tiang 12 bukan sekadar hunian, melainkan cerminan kearifan masyarakat Kelantan dalam membangun rumah yang kokoh, fungsional, sekaligus selaras dengan iklim dan budaya setempat.
Kini, keberadaannya semakin langka karena sebagian besar bagian rumah yang tersisa telah berusia lebih dari satu abad.
Kusen pintu Rumah Melayu Kelantan Tiang 12 dilangkahi sebagai simbol penghormatan. Foto: Dok. FeminaTak jauh dari sana, kami melanjutkan kunjungan ke Ayu Fashion, salah satu produsen batik Kelantan yang mempertahankan pengerjaan secara manual.
Batik Kelantan memiliki karakter yang berbeda dari batik Indonesia, dengan motif yang banyak terinspirasi flora tropis seperti bunga, daun, dan sulur, dipadukan warna-warna cerah seperti merah, kuning, hijau, biru, dan ungu yang mencerminkan semangat masyarakat pesisir timur Malaysia.
Batik Kelantan dengan dominasi motif floral. Foto: Dok. FeminaDi ruang produksi, para perajin dengan sabar mencap maupun mencanting lilin, memberi warna, hingga menjemur kain satu per satu.
Setiap tahap dikerjakan dengan ketelitian tinggi, mengingatkan bahwa selembar batik tidak pernah lahir secara instan. Di balik setiap motif tersimpan waktu, kesabaran, dan keterampilan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Rombongan FamTrip AirAsia mencoba membatik di Ayu Fashion, Kota Bharu. Foto: Dok. FeminaMelihat langsung proses tersebut menjadi penutup yang terasa pas bagi perjalanan menyusuri budaya Kelantan.
Setelah mengenal seni pertunjukan, memasuki balairung Kesultanan, hingga mengunjungi rumah tradisional, akhirnya kami memahami bahwa warisan budaya di negeri ini tidak hanya tersimpan di museum atau istana. Ia tetap hidup, dikerjakan, dirawat, dan diteruskan oleh masyarakatnya hingga hari ini. (f)
Baca juga:
Tiga Hari dalam Tenang, Menemukan Wajah Lain Pulau Perhentian
18 Menu Baru TAMU Menjelajahi Rasa dari Aceh hingga Lombok
VW Tour, Movie Night, hingga Floating Dinner, Cara Menikmati Sisi Lain Kamandalu Ubud
Laili Damayanti
Topic
#FamTripAirAsia, #VisitKelantan, #TravelKelantan




