
Foto: TN
Di gelaran Ubud Food Festival akhir Mei lalu, Kopernik membukakan mata penonton festival pada kenyataan yang ada di 20 juta rumah tangga miskin lewat sesi yang menyentuh, Ibu Inspirasi-Wonder Women Indonesia.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan karbon monoksida dari pembakaran kayu pada kompor tungku mendekatkan ibu dan anak yang digendongnya kala memasak pada risiko penyakit gangguan pernapasan. Sebagai solusi, NGO yang berdiri untuk mendistribusikan teknologi sederhana ke masyarakat terpencil itu memperkenalkan kompor biomassa. Sekitar 10.000 kompor biomassa telah digunakan di Asia dan Afrika.
Kompor biomassa menghemat hingga 60% bahan bakar, mengurangi polusi ruangan, dan memasak lebih cepat. Bahan bakarnya mudah ditemukan, seperti serpihan kayu, cangkang kemiri, biji/cangkang sawit, batok kelapa, dan kulit jagung. Teknologi ini menghentikan perjalanan jauh wanita pedesaan ke hutan (yang terkadang dilakukan bersama anak) untuk mencari dan memikul kayu bakar. Waktu yang terbuang percuma ini kini bisa digunakan untuk hal lain yang dapat memperbaiki taraf hidup.
Mama Kris (Larantuka, Flores) dan Ibu Suryati (Aceh Utara) diboyong Kopernik untuk mendemokan masakan tradisional, tumis udang dan nasi goreng sorgum Flores, menggunakan kompor biomassa. Sorgum ditanak hingga setengah matang untuk menghemat energi, lalu dimatangkan sepenuhnya di dalam Tas Mantap Slow Cooker, kantong berinsulasi tebal dari Kopernik yang menyimpan panas.
“Mama Kris dan Ibu Suryati ada dalam program pemberdayaan ekonomi perempuan milik Kopernik, Ibu Inspirasi. Mereka mendistribusikan kompor biomassa dan Tas Mantap demi kebaikan hidup wanita sekitar,” ujar Saraswati Ratnanggana, Senior Communications Officer Kopernik.
Pelatihan wirausaha yang mengiringi produk Kopernik akhirnya juga memicu para Ibu Inspirasi untuk berbisnis di bidang lain. Sebagai dukungan, Kopernik kembali memikirkan teknologi tepat guna demi mempermudah bisnis. (f)
Trifitria Nuragustina
Topic
#kompor




