
Kalau dulu masyarakat Tiongkok bisa melihat orang berciuman di jalanan hanya di film-film luar negeri, kini hampir di tiap sudut Beijing mereka bisa menemui adult stores yang menjual aneka sex toys dan film-film porno. Belum lagi, lebih dari 80% sex toys yang dijual di dunia, diproduksi di Tiongkok, oleh lebih dari 1 juta orang yang bergerak di industri yang berkembang pesat ini.
Dulu, berkencan dan berpacaran di Tiongkok tujuan akhirnya adalah pernikahan. Dalam masyarakat yang melihat bahwa seks dan pernikahan adalah semata urusan meneruskan garis keturunan ini, tidak aneh kalau orang tua akan memilihkan teman kencan, bahkan memilihkan restoran tempat kencan untuk anaknya.
Sementara sekarang, orang muda Tiongkok dibombardir oleh seks ke mana pun mereka menoleh. Berselancar di internet, mereka dihujani gambar-gambar menjurus, bahkan dari tempat-tempat yang sebetulnya bukan pornografi. Padahal, menurut Jemimah Steinfeld, penulis Little Emperors and Material Girls: Sex and Youth Culture in Modern China, tidak semua lingkungan sosial di Tiongkok sudah sepenuhnya terbuka soal seks. Akhirnya generasi muda pun mengalami pertentangan nilai.
Di satu sisi, orang masih hidup di lingkungan yang menganggap seks adalah tabu. Tapi, saat berpaling ke internet, mereka dicekoki berbagai pop up yang mengusik nafsu. “Ini adalah saat yang membingungkan,” kata Steinfeld.
Memang, Tiongkok bukan hanya Hong Kong, Beijing, atau Shanghai, melainkan bangsa yang begitu besar. Sehingga, menggeneralisasi semua orang seiya sekata dengan Sex and The City pun tidak mungkin. Namun, sexual revolution di Tiongkok, seperti yang dikupas dalam buku Behind The Red Door, terjadi dengan cepat, tapi tidak terang-terangan. Kondisi ini salah satunya tergambar dalam film-film Cina yang beredar di pasaran, yang pada umumnya masih belum berani dalam menampilkan adegan seks atau nudity.
Menurut Andibachtiar Yusuf, sutradara dan pengamat film, soal sensualitas sinema Mandarin belum sepenuhnya mengikuti jejak Hollywood. Dari segi visual, mereka belum terlalu berani untuk menampilkan full nudity. “Sama seperti film-film di Indonesia, semuanya dibuat cukup untuk membuat penontonnya berimajinasi sendiri, apa yang kira-kira terjadi selanjutnya,” kata sutradara Romeo Juliet (2009), yang sempat tayang di Hong Kong International Festival, ini.
Ia juga melihat, banyak dari film Mandarin beberapa tahun belakangan ini yang justru masih terasa seperti sinetron Indonesia, di mana posisi wanita, kalau tidak tertindas, biasanya masih nomor dua dibanding pria, termasuk dalam hubungan seks. Pria melakukan lebih banyak action, sementara wanitanya pasrah saja.
“Adegan seks dalam film Mandarin kebanyakan masih konvensional. Terlibat dalam posisi missionary. Quickie ala Hollywood terjadi di seluruh penjuru rumah. Sedangkan quickie ala Mandarin paling-paling terjadi di sofa ruang tamu,” ungkap pria yang akrab dipanggil Ucup ini.
Dari jalan cerita, Ucup menilai sinema Mandarin juga masih mengikuti plot yang konvensional dan konservatif, di mana hubungan seks kebanyakan dilandasi cinta. “Jarang ada cerita tentang one night stand. Semua pasangan yang berhubungan seks, kalau bukan suami-istri, setidaknya hubungan mereka menuju ke arah yang serius,” katanya, sambil mengontraskan dengan situasi sosial di kota-kota besar Tiongkok, di mana pasangan yang belum menikah sudah banyak yang tinggal bersama.
Ia juga membandingkan, di film-film Mandarin keseksian wanita biasanya dilihat dari kacamata karakter lain. “Untuk menampilkan kesan seksi seorang wanita, biasanya ada karakter pria yang menoleh, menggoda, atau berkomentar sesuatu. Berbeda dengan Hollywood, di mana karakter wanitanya digambarkan seksi dan sensual dengan sendirinya,” ujar Ucup.(f)



