
Foto: 123RF
Di usia 30-an, terjangkit penyakit kelamin menjadi salah satu ketakutan saya. Bagi sebagian orang, kondisi keuangan yang semakin stabil ternyata berbanding lurus dengan keinginan untuk berbuat nakal.
Seorang teman saya yang mengaku tidak aktif secara seksual di usia 20-an, ternyata memulai hobi kencan bebasnya ketika berusia 31 tahun, saat kariernya makin menanjak sebagai eksekutif muda di sebuah perusahaan tambang.
Dengan alasan tidak nyaman – dan kelangkaan stok di lokasi tambang tengah hutan Kalimantan tempat dia bekerja, dia pun hampir tak pernah memakai pengaman saat berhubungan badan. Bisa ditebak, dengan hobi gonta-ganti pasangan, dalam hitungan bulan teman saya itu pun terjangkit penyakit gonorrhea. Pengobatan yang makan waktu lama membuat dia akhirnya kapok berhubungan tanpa pengaman dan memilih berkomitmen seks dengan satu orang saja. Pengalaman teman saya ini sudah cukup membuat saya paranoid dan selalu memakai pengaman saat berhubungan seks.
Sama seperti pria-pria lain di usia 30-an, bertahan lama di ranjang sempat menjadi obsesi bagi saya. Sebuah obsesi global yang dipahami betul oleh klinik-klink masalah seksual dan puluhan perusahaan farmasi yang beramai-ramai menawarkan beragam obat kuat yang bisa membuat Anda perkasa layaknya Bima atau Samson. Bombardir iklan dan promosi pun makin hari makin mengaburkan batasan “tahan lama” tersebut. Misalnya, seorang pesohor pria Indonesia yang menjadi bintang iklan minuman suplemen pria mengaku bisa bertahan 4-5 jam sebelum ejakulasi berkat produk yang dipromiskannya. Isinya? Aneka ragam tanaman herbal dari berbagai pelosok dikemas dalam bentuk pil atau minuman kesehatan dan diiklankan sebagai “sahabat pria untuk memuaskan pasangan.”
Tentu saja, at the end of the day, pola hidup sehat adalah kunci menjaga performa kita di tempat tidur. Apakah anda bisa bertahan sampai berjam-jam atau dalam hitungan menit saja, tidak menjadi tolok ukur kepuasan pasangan. Satu hal yang pasti, sejak zaman Masters & Johnson sampai era buku panduan seks “The Joy of Sex” dan novella heboh “Fifty Shades of Grey”, pemanasan yang memuaskan akan bermuara pada hubungan seks yang memuaskan juga
Karena foreplay yang lama, artinya eksplorasi yang kita lakukan pada tubuh dan titik-titik erotik pasangan juga lebih lama dan mendalam yang akan berujung pada ledakan orgasme saat hubungan seks yang sebenarnya.
Dihantui Masalah Medis
Memasuki usia 40, saya tidak lagi menganggap keperkasaan di ranjang sebuah prioritas. Well, bukan berarti saya lalu berubah menjadi pria loyo yang tidak bisa memuaskan pasangan. Di usia ini, ada sebuah kekhawatiran yang lebih menggangu pikiran saya disbanding urusan seks belaka. Ya, apalagi kalau bukan masalah prostat. Kelenjar prostat bentuknya seperti kelenjar kecil yang letaknya antara penis dan kandung kemih dan berfungsi memproduksi air mani. Meski ukurannya hanya sebesar buah kenari, kalau mengalami pembesaran, ia akan menjadi seukuran buah jeruk.
Dua masalah medis prostat lain selain pembesaran adalah peradangan dan kanker prostat. 15 persen pria di usia 40 mengalami masalah pada prostatnya. Berolahraga teratur, banyak minum dan tidak menunda-nunda buang air kecil adalah pencegahan masalah prostat sejak dini yang saya lakukan dan menjadi rutinitas yang tak bisa ditawar lagi.
Saya tidak tahu kekhawatiran seks apalagi yang akan muncul jika saya menginjak usia 50, 60, atau – kalau saya masih beruntung – 70 tahun. Boleh jadi, tidak akan ada lagi kekhawatiran soal seks karena semua masalah seputar urusan ranjang telah teratasi berkat beragam penemuan teknologi di masa depan. Satu hal yang pasti, mitos-mitos semcam “si jempol besar” akan terus menghiasi obrolan seks para ABG, sampai tiba waktunya muncul pendidikan seks memadai yang bukan sekadar tempelan dalam kurikulum sekolah kita.(f)
Johannes Kambey (Kontributor)


