Sex & Relationship
Alasan Seseorang Suka Menguntit Pacar

7 Jun 2016


Foto: Fotosearch

Namanya juga lagi jatuh cinta, tentunya, nih, kita selalu ingin berinteraksi dengan pacar. Kalau pun nggak bisa bertemu langsung, sekadar menyapanya di dunia maya atau melalui WA juga sudah bikin kita puas. Yang penting, bisa berinteraksi dengannya.
 
Sah-sah saja, sih, ingin dekat dengan pacar—asal nggak berlebihan. Jika setiap saat kita melihat IG plus mengecek WA di ponselnya, artinya kita sudah bertindak nggak wajar, tuh. Bukannya bikin senang, menguntit pacar bikin dia nggak nyaman. Waduh!
 
Batas normalnya, nih
Begitu tiba di kantor, kita baca Twitternya. Jam makan siang, kita mengiriminya WA sekaligus memastikan lagi status-statusnya di akun situs jejaring sosialnya. Di malam hari pas bertemu dengannya, diam-diam kita buka ponselnya. Seharian kita aktif, deh, memantau si dia.
 
Menurut psikolog M. Nisfiannoor, tindakan ini bisa disebut normal jika sejak awal kita memang sudah berkomitmen dengan pacar. Artinya, kita dan pacar sama-sama setuju untuk terus saling mengontrol keberadaan masing-masing. Sebaliknya, kita masuk kategori nggak normal jika memantaunya diam-diam.
 
“Sikap ini terlalu berlebihan. Selain melanggar privasi pacar, kita juga menghabiskan seluruh energi untuk menguntitnya. Aktivitas lain yang lebih penting justru ditelantarkan,” jelas Nisfian.
           
Pengalaman & pola asuh
Ada beberapa alasan mengapa seseorang cenderung menguntit pacar. Salah satunya, pengalaman. Bisa saja, tuh, sebelumnya kita pernah dikhianati pacar. Makanya, saat punya pacar baru, kita jadi rajin memantaunya karena khawatir pengalaman buruk itu terulang.
 
Selain diri sendiri, pengalaman orang lain juga turut berpengaruh. Nasib buruk teman atau orang terdekat kita dengan pacarnya bisa membuat kita kurang percaya dengan cowok.   Hasilnya, curigaan mulu, deh.
           
Kurangnya kepercayaan diri juga berperan penting. Misalnya di dalam hati kita cemas si dia bakal berpaling ke cewek lain yang lebih cantik dan hebat. Pada akhirnya, kita pun selalu memata-matai si dia.
           
“Selain tiga alasan itu, pola asuh juga dapat membentuk kebiasaan menguntit seseorang. Jika saat kecil kita biasa menerima pola asuh yang otoriter, ketika dewasa kita berisiko mengikuti kebiasaan ortu ke kita: yaitu mengontrol si dia secara berlebih. Pola asuh yang permisif juga berpengaruh. Gara-gara selalu diizinkan melakukan segala hal, begitu dewasa kita menganggap menguntit sebagai hal yang wajar,” jelas Nisfian.
 
Bikin tersiksa
Kebiasaan menguntit, tuh, cuma bikin kita tersiksa. Memang, sih, kita bisa mendapat kepuasan jika si dia memang terbukti nggak selingkuh. Tapi selama proses 'pengintaian', tenaga dan pikiran kita bakal terkuras, tuh. Setelahnya kita pasti merasa lelah!
 
“Mengecek keberadaan pacar sampai tengah malam tentu melelahkan. Bukan nggak mungkin kondisi fisik kita menurun dan akibatnya kita jatuh sakit. Kita bahkan berisiko stres alias tertekan karena kecurigaan kita sendiri,” tambah Nisfian.
           
Yang lebih parah lagi, sih, jika si dia ternyata selingkuh atau gemar berakrab ria dengan banyak cewek. Selain menyalahkan lingkungan, kita akan merasa mendapat pembenaran atas tindakan menguntit selama ini. Nggak heran, deh, kita akan mengulangi kebiasaan buruk ini pada orang-orang terdekat lainnya.
 
Pentingnya komunikasi!
Curiga si dia selingkuh atau bermain mata dengan cewek lain? Jangan langsung memantaunya melalui akun-akun di situs jejaring sosialnya, dong. Daripada berlaku ala detektif, mendingan kita berkomunikasi langsung dengan pacar.
           
Komunikasi adalah kunci keberhasilan hubungan. Daripada curiga terus menerus, lebih baik tunjukkan rasa sayang padanya, termasuk melalui kepercayaan dan perhatian. Dengan begitu, dia akan membalasnya dengan hal yang sama,” kata Nisfian.
           
Kita sudah terlanjur mengintai si dia dan sulit berhenti? Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah menempatkan diri kita di posisi si dia. Bayangkan, deh, kira-kira kita senang, nggak, jika si dia getol menguntit kita?
           
“Jika merasa nggak nyaman, artinya kita mesti menguatkan tekad untuk berhenti menguntitnya. Dalam hal ini kita nggak bisa mementingkan diri sendiri. Pertimbangkan, deh, perasaan orang lain,” tambah Nisfian. (f)
           
 
 


Topic

#pengembangandiri

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?