
Foto: Fotosearch
Idealnya, sih, wanita seusia kita berpikir dan bertindak secara matang. Apalagi menurut tahapan perkembangan dalam ilmu psikologi usia 25-30 tahun, tuh, sudah termasuk masa dewasa.
“Kalau sudah dewasa sebenarnya manusia diharapkan bisa berperilaku, berpikir, dan mengelola perasaannya secara baik. Nah, oversharing hal-hal pribadi di media sosial jadi terkesan sebagai karakteristik orang yang tidak matang. Pasalnya, orang yang matang diasumsikan dapat memilah-milah, mana hal-hal yang bisa dia bagikan di media sosial dan mana hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri,” jelas Dinastuti (Dina), Kepala Bagian Psikologi Klinis di Fakultas Psikologi UNIKA Indonesia Atma Jaya.
Dina juga menambahkan adanya aturan tidak tertulis di media sosial mengenai hal-hal yang pantas atau tidak pantas dibagikan sering kali ‘menjebak’ seseorang sehingga jadi sharing seenaknya. Nah, seseorang yang sering ‘berkeluh-kesah’ di media sosial sudah pasti memiliki alasan pribadi. Menurut Dina berikut tiga alasan umum mengapa banyak orang galau di media sosial:
1/ Ingin mengekspresikan diri secara bebas
Dia merasa nyaman dengan dirinya sendiri sehingga tidak terlalu peduli terhadap perkataan maupun tanggapan orang lain.
2/ Ingin mencari perhatian atau simpati
Ini merupakan perilaku yang memang mencari pertolongan (cry for help) karena sudah tidak tahu harus mencari bantuan di mana. Meski memiliki pacar maupun teman untuk curhat, mereka merasa belum cukup, tuh.
3/ Ingin eksis di media sosial
Dia merasa senang jika mendapatkan respons dari orang lain mengenai aktivitasnya di media sosial. Semakin banyak orang yang merespons atau mengikuti kegiatannya di media sosial, dia semakin senang. Mereka inilah yang ingin disebut sebagai ratu media sosial (queen of social media) yang mencari pengakuan di media sosial.
Apakah Anda termasuk di antaranya? (f)
Baca juga:
Merekam Cinta dengan Tagar di Media Sosial
6 Hal Wajib Dihindari Saat Galau
Pamer Kemesraan di Media Sosial, Yay or Nay?
Topic
#psikologi


