
Ade Silvia, 26, Menikah, Karyawan
Awal pacaran, saya dan suami, Bagas Rizki (26), selalu bertengkar. Kondisi ini menjadi proses kami saling mengenal dengan lebih baik.
Setelah dua tahun melewati masa adaptasi, hubungan kami mulai berjalan mulus. Ketika ada masalah, kami berusaha mencari solusinya bersama. Hingga tahun 2015, kami memutuskan menikah, walau sebenarnya kami sama-sama sedang meniti karier. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa menikah akan menjadi penghalang mengejar mimpi. Kalau memang sudah satu tujuan dan sama-sama serius, mengapa harus menunda?
Dalam memilih pasangan, saya tidak neko-neko. Saya juga tidak terlalu mendengarkan apa kata orang, termasuk ketika saya sudah bekerja dan pasangan saat itu masih kuliah. Yang terpenting, saya nyaman dengan karakter suami saya. Ia sangat sabar dan mengenal diri saya.
Keyakinan besar saya di awal pernikahan rupanya tidak setegar batu karang. Saat saya mengandung anak pertama, suami justru berhenti dari pekerjaannya. Tentu saja saya panik, karena rencana kami harus berubah. Jujur, ini ujian besar bagi saya di awal pernikahan yang belum genap satu tahun. Kehamilan dan beban pikiran membuat emosi saya tidak terkontrol.
Untung Bagas bisa lebih sabar. Kami melihat lagi rencana-rencana yang sudah kami buat. Termasuk mengatur keuangan, karena otomatis pemasukan rutin saat itu hanya dari gaji saya. Akhirnya, kami bisa melewati masa-masa itu, hingga anak kami, Emir Mahira, lahir. Suami juga menunjukkan komitmennya dengan berusaha keras mencari pekerjaan. Kini, ia sudah kembali mendapat pekerjaan yang lebih baik.
Intinya adalah saling terbuka. Sekarang, tiap akhir minggu kami meluangkan waktu untuk ngobrol berdua di kamar dan sharing tentang apa yang terjadi selama satu minggu ini. Sedikit banyak ritual sharing ini membuat hubungan kami makin erat.
Tantangannya kini adalah pola asuh anak. Banyak masukan pola mendidik anak yang kami terima, tidak hanya dari keluarga, tapi juga lingkungan sosial. Sebagai orang tua baru ini seperti mencari jalan yang tepat di hutan belantara membesarkan anak. Kami tak menutup diri. Bagi kami, usulan apa pun dari keluarga dan teman akan kami terima, meski tak semua akan kami laksanakan. Paling hanya dari orangtua dan kakak-kakak. Bukan karena kami tidak menghargai saran mereka, tapi mana yang nyaman dan cocok saja buat kami berdua dan si kecil tentu.
Baca cerita Naya yang menolak seks bebas di halaman berikutnya
Faunda Liswijayanti
Topic
#millennialmanual


