
Foto: Dok. Teater Koma
Di kawasan yang kumuh, jorok, gelap, dan berbau busuk, sekalipun, cinta bisa tumbuh. Seperti yang dirasakan pada Roima, seorang bandit kelas teri, yang jatuh hati kepada Tuminah, seorang Pekerja Seks Komersial. Padahal ia sudah punya pacar, Julini, si waria. Namun nasib baik sepertinya memang tak pernah berpihak pada mereka yang terimpit di antara kemegahan ibukota. Bahagia hanyalah sebuah angan-angan, apalagi kemudian tempat mereka bernaung habis dimakan api. Yang tersisa kemudian hanyalah masa depan yang gelap dan suram.
Itulah inti cerita Opera Kecoa, yang dipentaskan secara dramatis lewat nyanyian dan gerak oleh Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki tanggal 10 – 20 November 2016. “Setelah 31 tahun semenjak pentas pertama, ternyata lakon ini masih bisa menjadi potret keadaan masa kini. Semoga penonton dapat mengambil pesan moral yang berusaha kami sampaikan dalam lakon ini," tutur Nano Riantiarno, penulis naskah dan sutradara Teater Koma.
Lakon karya Nano Riantiarno ini pertama kali dipentaskan Teater Koma pada tahun 1985, juga di Graha Bhakti Budaya. Namun, pada tahun 1990, lakon ini dilarang pentas di Gedung Kesenian Jakarta dan tidak diberi izin pentas keliling ke Jepang. Kemudian di tahun 1992, dipentaskan dengan judul “Cockroach Opera” oleh Belvoir Theatre di Sydney, Australia. Seiring dengan perubahan arus politik, lakon ini diperbolehkan dipentaskan lagi di Gedung Kesenian Jakarta pada tahun 2003.
Pementasan Opera Kecoa tahun 2016 ini didukung oleh Ratna Riantiarno, Budi Ros, Rita Matu Mona, Dorias Pribadi, Alex Fatahillah, Daisy Lantang, Sri Yatun, Ratna Ully, Raheli Dharmawan, Julius Buyung, Ina Kaka, Ledi Yoga, Dodi Gustaman, Sir Ilham Jambak, Bangkit Sanjaya, Rangga Riantiarno, Adri Prasetyo, Tuti Hartati, Bayu Dharmawan Saleh, Didi Hasyim dan Joind Bayuwinanda.
Nyanyian dengan lirik-lirik gubahan N. Riantiarno kali ini diiringi komposisi musik almarhum Harry Roesli dengan aransemen Fero Aldiansya Stefanus, tata gerak garapan Ratna Ully serta bimbingan vokal Naomi Lumban Gaol. Penataan busana oleh Alex Fatahillah, tata artistik dan tata cahaya panggung digarap oleh Taufan S. Chandranegara, didukung oleh Pimpinan Panggung Sari Madjid, pengarah teknik Tinton Prianggoro serta Pimpinan Produksi Ratna Riantiarno, di bawah arahan Co-Sutradara Ohan Adiputra dan Sutradara N. Riantiarno. (f)
Topic
#Teater



