Profile
Sains, Religi, dan Manusia di Mata Premana Wardayanti Premadi, Doktor Astrofisika Wanita Pertama Indonesia

17 Jun 2017


Tentang Sains dan Kehidupan Iman

Sejak kanak-kanak rasa penasaran tentang kedahsyatan alam raya telah menjejali otak Nana dengan berbagai pertanyaan. Apakah matahari bisa lupa terbit? Di mana Tuhan? Jika ada kehidupan selain di bumi ini, bagaimana mereka mengenal Tuhan? Semua pertanyaan itu menuntun wanita kelahiran Surabaya, 13 Juli
1964, ini menggeluti dunia sains sebagai profesi.

Pelajaran IPA di sekolah membuatnya terkesan pada banyaknya fakta tentang alam yang berhasil dihimpun manusia. Nana belajar bahwa makin banyak ia menemukan fakta tentang alam, makin ia tahu bahwa banyak yang belum diketahuinya.“Sungguh pengalaman yang amat merendahkan hati. Saya ingin pengalaman itu menjadi hidup saya sehari-hari. Saya sadar saya perlu belajar, dilatih, dilengkapi, dan ditempa,” ujar lulusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (1988) ini.

Ketika banyak orang cenderung memisahkan sains dan kehidupan iman, Nana justru sebaliknya. Menurut pendiri sekaligus Ketua Bandung Society for Cosmology and Religion (BSCR) ini, pencarian imani, dalam agama mana pun, ingin menemukan apa yang paling luhur dalam kehidupan. Sains bertujuan menemukan apa yang paling esensial pada manusia dan kehidupan.

“Agama dan sains berperan sinergis dalam menyetir hidup seseorang. Apa yang esensial dan luhur tadi melebur pada keutuhan manusia. Pencarian yang tulus yang dilakukan oleh seseorang, saya duga akan mengantarkannya pada pemahaman ini,” tutur Nana, filosofis.

Menurutnya, sistem yang membangun dialog antara agama dan sains harus terus dikembangkan untuk mengembalikan kepercayaan bangsa Indonesia pada nilai-nilai luhurnya. Perbedaan agama, suku, dan budaya harusnya tidak menjadi sumber pemecah belah. Sebaliknya, dalam sistem manusia, keanekaragam terbukti memperkaya peradaban.

Lebih dari itu, menurutnya, keanekaragaman membantu kita berefleksi. Kita jadi lebih mengenal diri dengan bercermin pada tetangga kita. “Saya menyadari ini dari perspektif astronomi, yaitu bahwa kita memahami Bumi kita dengan lebih baik setelah mengenali planet-planet lain. Pemahaman yang membuahkan respek dan saling melindungi,” lanjutnya. 

Langkah Nana mengabdi di bidang astronomi selama hampir tiga dekade seolah tak terbendung. Kontribusinya pun diapresiasi International Astronomical Union (IAU), yang mengabadikan namanya sebagai nama asteroid yang mengorbit di antara planet Mars dan Jupiter. Simak kisahnya di laman selanjutnya.
 


Topic

#wanitahebat

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?