
Foto: dok. pribadi
Tahun 2001, Michael Reynold Tagore (36) hanya mahasiswa desain grafis di University of Technology Sydney, Australia, yang mengagumi efek visual film Lord of The Rings karya Peter Jackson. Satu dekade kemudian, ia bisa mewujudkan impiannya menembus Hollywood dan bekerja sama dengan sang idola, menghasilkan efek visual yang tak kalah indah dalam The Hobbit.
Dari Kartun hingga Monster
Trilogi film The Hobbit menjadi fenomenal karena memiliki efek visual yang begitu nyata. Meski hanya rekaan, semua tokoh seolah benar-benar hidup. Satu nama anak bangsa muncul di antara sekian banyak animator kelas dunia yang terlibat di film itu. “Dalam film ini, saya bertugas sebagai pembuat efek visual, yakni memoles warna dan tekstur tiap tokoh sesuai permintaan sutradara,” jelas pria yang kerap disapa Reynold ini.
Trilogi The Hobbit adalah sebagian film yang pernah Reynold kerjakan. Hingga saat ini, pria kelahiran Surabaya, 24 Mei 1979, itu sudah pernah terlibat dalam film Hollywood box office, seperti Dawn of The Planet of The Apes, The Wolverine, Man of Steel, Iron Man 3, dan Happy Feet 2.
Bukan hanya aktor dan aktris yang butuh perjuangan untuk menembus ranah perfilman Hollywood, desainer efek visual juga. Bila akhirnya Reynold mampu menaklukkan surga industri perfilman dunia, itu tentu berkat ketekunan dan kerja kerasnya.
Sebelum menggeluti bidang efek visual film, Reynold pernah menjadi ilustrator di perusahaan edukasi di Singapura selama beberapa tahun. Pernah pula ia menjadi desainer 3D di sebuah perusahaan game di Australia, hingga akhirnya dikontrak perusahaan VFX Company di Sydney untuk bergabung di film Happy Feet 2.
“Saya memulai karier ini dari bawah, dengan cara melamar ke berbagai perusahaan. Dari ratusan lamaran yang saya kirim dahulu, hanya ada tiga perusahaan yang memanggil. Lainnya gagal,” kenang Reynold, yang saat ini bekerja di Weta Digital, sebuah perusahaan film asal New Zealand yang menjadi pemasok film-film box office Hollywood.
Berbagai kegagalan justru membuat Reynold makin penasaran. Bukannya putus asa, ia malah tambah sibuk mengutak-atik teknologi 3D yang hasilnya ia kirimkan ke Warner Bross. Di sinilah Reynold menemukan pencerahan karier. Seorang produser film Hollywood pun mengontaknya karena tertarik pada hasil desain Reynold di salah satu karakter. “Tokoh monster Troll dan Orc di film The Hobbit adalah salah satu hasil karya saya. Puas rasanya menyaksikan hasil akhirnya di film. Benar-benar sesuai dengan imajinasi saya,” kata pria yang hobi main game ini, antusias.
Reynold mengaku menikmati pekerjaan sebagai pembuat efek visual film. Menurut pria penyuka soto ayam ini, profesi tersebut menuntutnya selalu up to date dengan teknologi software maupun teknik menggambar. “Efek visual dalam film merupakan hal yang sophisticated. Tiap kali nonton film, saya selalu mengamati tampilan visualnya sedetail mungkin. Ini menjadi inspirasi untuk menghasilkan karya lebih baik lagi,” kata pria yang segera memetik hasil kerjanya di film Fast and Furious 7, Batman vs Superman: Dawn of Justice, dan Maze Runner ini, tersenyum.
Diakuinya, karier sebagai desainer efek visual memang terbilang spesifik. Banyak orang yang masih belum paham benar profesi tersebut. Bahkan, ada beberapa yang menyamakannya dengan pekerjaan animator. Padahal, menurut Reynold, dua profesi itu sangat berbeda. “Tugas animator menggerakkan model 3D, sedangkan desainer efek visual bertugas memoles warna dan detail permukaan karakter dalam film,” jelas pria yang masih lajang ini.
Dikunjungi Gandalf
Diakui Reynold, menggambar sudah menjadi kegemarannya sejak kecil. Dahulu, dalam sehari ia bisa menghabiskan 10 kertas HVS untuk menuangkan imajinasi dalam bentuk gambar. Namun, akibat terlalu sering menggambar, Reynold yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar jadi kurang konsentrasi menerima pelajaran utama di sekolah. Akibatnya, nilai rapornya turun, plus mendapat teguran dari guru.
Kejadian itu sudah tentu membuat Ben Tagore dan Herlin Finanta, kedua orang tua Reynold, marah besar. Mereka sempat menyuruh putra bungsunya itu berhenti menggambar agar lebih fokus ke pelajaran sekolah. “Ayah dan ibu saya mengatakan, hobi saya menggambar tidak ada gunanya. Tapi, saya tak peduli. Saya masih suka curi-curi kesempatan menggambar, meski dilarang orang tua,” kenang Reynold, tertawa.
Kian yakin ingin berkarier di bidang seni gambar, selepas SMA, Reynold pun memutuskan mendalami ilmu desain grafis S-1 di Universitas Tarumanegara, Jakarta. Lulus dengan baik, pria yang mengaku masih suka kangen masakan sang ibu ini kemudian melanjutkan S-2 di jurusan ilmu desain grafis di University of Technology, Sydney, Australia.
Selama kuliah itulah Reynold mengasah skill mendesain dan memperluas networking hingga bisa terlibat dalam film-film berskala Hollywood. Baginya, teori desain 3D yang ia dapatkan di bangku kuliah tak cukup mampu membentuk profesionalisme sebagai desainer efek visual.
Karenanya, di luar kuliah, Reynold juga tetap rajin meng-update ilmu secara online dari beberapa website desain, seperti gnomon workshop atau digitaltutor. “Masih banyak orang yang menganggap ilmu desain itu mahal. Padahal, seiring majunya teknologi, edukasi desain bisa didapat dengan murah di internet,” papar Reynold.
Menurutnya, bidang desain terkait erat dengan kreativitas. Lulus kuliah dengan predikat cum laude terbilang percuma bila tidak diimbangi dengan skill mendesain yang mumpuni. Reynold percaya, kemahiran dan jam terbang seorang desainer akan bertambah seiring waktu dan pengalaman.
“Desainer di Amerika Serikat memang lebih unggul karena kemahiran mereka telah teruji. Saya percaya, kemahiran bisa dilatih. Selama ada kemauan untuk maju, desainer Indonesia pasti bisa bersaing di tingkat internasional,” papar Reynold, mantap.
Saat ini, Reynold merasa puas dan bangga bisa mewujudkan impiannya terlibat dalam proyek film Hollywood. Ia mengaku masih sulit percaya bisa bekerja di perusahaan besar, Weta Digital, dan terlibat kerja sama dengan orang-orang hebat, seperti desainer grafis Gino Acevedo dan sutradara Peter Jackson. “Saya sempat starstruck saat Sir Ian McKellen, pemeran Gandalf di Lord of The Rings, mengunjungi meja kerja saya. Badan saya sampai gemetaran saking groginya,” kenang pria yang semasa kecil pernah bercita-cita jadi chef ini.
Berbagai pencapaian internasional yang membanggakan sudah berhasil ia capai. Meski begitu, Reynold masih menyimpan keinginan bisa kerja bareng sutradara Steven Spielberg dan Quentin Tarantino. Karenanya, walau terbilang sudah mahir mendesain, Reynold masih aktif berlatih gambar di rumah, agar tak kalah dengan desainer maupun artist lain. “Di Hollywood, bidang yang saya geluti ini sarat persaingan. Makanya, saya harus terus menambah ilmu agar tetap bisa berkompetisi dengan artist lainnya. Saya ingin karya saya bisa membuahkan piala Oscar,” pungkas Reynold. (f)




