Profile
Naila Novaranti, Atlet dan Pelatih Terjun Payung di 47 Negara

30 Nov 2017



Foto: Agustina Selviana

BUKAN ASAL NEKAT
Terjun payung tadinya hanyalah pilihan spontan. Naila awalnya berkarier sebagai sekretaris di sebuah perusahaan minyak di
Amerika Serikat, kemudian pindah menjadi tenaga marketing di perusahaan parasut tempatnya sekarang bekerja.
Ketertarikannya pun bermula dari melihat para penerjun payung berlatih di dekat kantornya.

“Saat itu saya tidak sedang berusaha menantang diri sendiri, atau menantang bahaya. Saya hanya ingin mencoba. Eh, ternyata malah ketagihan,” ujar putri dari pasangan Mulianov Setiadi (63), pensiunan pegawai negeri, dan Nanny Rahmi (60), ibu rumah tangga, ini.

Menjadi penerjun payung bahkan tidak pernah ada dalam daftar cita-citanya. “Saya tadinya ingin jadi pramugari, biar bisa jalan-jalan ke luar negeri,” lanjutnya. Namun, ia mengaku sejak muda sudah menggilai berbagai macam olahraga kompetisi, seperti basket.

“Saat teman-teman yang lain mempersiapankan diri mengikuti ujian akhir SMA, saya malah membolos untuk bertanding basket,” kisahnya, tertawa. Tidak sia-sia, kenekatannya ini telah membuahkan beasiswa baginya. Bahkan, meski sibuk menggeluti olahraga basket, prestasi akademisnya di sekolah tetap tinggi.

Lucunya lagi, meski mengaku tomboi, Naila ternyata pernah menjuarai kompetisi modeling saat SMA! “Hadiah kompetisi modeling ini pun akhirnya saya belikan sepatu basket merek Nike,” ujarnya, bernostalgia.

Tidak seperti yang dipikirkan banyak orang bahwa terjun payung itu berbahaya, bagi Naila olahraga ini justru sangat aman. Bahkan, jauh lebih aman daripada menyetir mobil! Data terakhir dari United States Parachute Association (USPA) dan National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) mengungkap perbandingan angka kematian yang mencolok, yaitu 21 (pada penerjun payung), dibanding 35.092 (pada pengendara mobil).

“Bahkan, risiko bahayanya jauh lebih rendah dibanding risiko penumpang pesawat terbang yang 50:50. Sebab, kami memiliki alat teknologi penyelamatan berupa payung cadangan yang akan terlontar secara otomatis, saat payung utama tidak bekerja,” jelas wanita pemegang sertifikat pelatih terjun payung jenis belly flying (posisi perut menghadap ke bawah) dari USPA ini.

Bagaimanapun, terjun payung merupakan jenis olahraga yang melatih keberanian, komitmen, fokus, dan perhitungan yang tepat. “Dengan kecepatan jatuh gaya gravitasi yang mencapai 225 km/jam, meleset perhitungan satu atau dua detik saja bisa berakibat fatal!” tegasnya. Ia pernah mengalami insiden saat payungnya tidak bisa terbuka di ketinggian sekitar 3.000 kaki.

“Saya harus melakukan langkah cutaway (memotong tali parasut utama) untuk mengaktifkan parasut cadangan. Semua ini harus dilakukan dalam hitungan tidak lebih dari tiga detik,” kisah Naila, mengungkap pengalaman paling kritis sebagai penerjun payung. Tak hanya harus sigap menghadapi krisis di angkasa, Naila juga pernah beberapa kali retak atau patah tulang, bahkan engsel persendian lututnya pun pernah lepas.

“Tidak boleh ada keraguan atau ketakutan,” tekan Naila lagi. Bahkan, ketika payungnya gagal mengembang, ia tidak sempat membayangkan apa jadinya hidup ketiga putranya, jika ia akhirnya jatuh dan meninggal. “Kita bicara soal survival. Saya akan melakukan apa pun yang bisa saya lakukan agar saya bisa mendarat dengan selamat. Itu misi utama saya,” lanjut ibu dari Tommy Ed Short JR (14), Patrick Jelovcan (11), dan Anthony Dominic Hayhurst (7).

Keluarganya sudah cukup kebal dengan pilihan hidup Naila sebagai seorang penerjun payung. Agar tidak ada rasa waswas yang berlebihan, Naila kerap mengajak anggota keluarganya, seperti adik perempuannya dan ketiga anak-anaknya, untuk menjajal terjun payung. Awalnya, ia mengenalkannya lewat olahraga parasailing untuk merasakan sensasi terbang di bawah payung udara.

“Jika ada kesempatan, saya akan mengajak mereka liburan ke Singapura untuk menjajal sensasi terjun payung di dalam ruangan saat berlatih di wind tunnel. Mereka sangat menyukainya!” cerita Naila. Kini, anak-anaknya sudah berani terjun payung solo!

Ia mengakui bahwa untuk bisa fokus sebagai atlet dan pelatih terjun payung, dukungan keluarga sangat vital sifatnya.
“Apalagi jika ada kompetisi, saya bisa meninggalkan anak-anak di Indonesia hingga seminggu atau dua minggu. Beruntung
sekarang ada teknologi seperti Facetime, sehingga kapan pun saya bisa terkoneksi dan berkomunikasi dengan anak-anak dan keluarga di tanah air,” ungkap Naila, yang harus bolak-balik Tangerang-AS- Inggris, lega.

Suaminya, Christopher David Ings, adalah marinir angkatan bersenjata Inggris, yang tergabung dalam tim terjun payung Red Devils – Resimen Parasut tentara Inggris yang bergengsi. Bahkan, pertemuannya dengan sang suami juga terjadi di lokasi pertandingan terjun payung.

“Saat itu saya jatuh dalam posisi salah, dan terluka. Dia yang menolong dan membawa saya ke rumah sakit,” ungkapnya, tentang ‘cinta lokasi’ mereka yang mirip cerita romansa dalam film. Sebisa mungkin sang suami akan mengambil cuti untuk datang dan menyemangati Naila saat bertanding. Baru-baru ini mereka bahkan melakukan terjun wingsuit berdua di atas Candi Prambanan. “Pokoknya saya ingin terjun payung terus sampai tua!” ujarnya, menutup cerita. (f)

 


Topic

#wanitahebat, #profil

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?