Profile
Maryam Mirzakhani, Jenius Matematika dari Iran

8 Mar 2016


Banyak wanita di seluruh dunia memberi  Maryam Mirzakhani (38)  tepuk tangan, saat wanita kelahiran Teheran, Iran, itu dianugerahi Fields Medal dari International Mathematicians Union (IMU) tahun 2014 dalam International Congress of Mathematicians di Seoul, Korea Selatan. Bukan karena ia berhasil mematahkan dominasi pria, tapi lebih karena ia mampu memberi inspirasi bagi wanita untuk menekuni bidang sains, terutama matematika.

Si Kutu Buku yang Suka Tantangan
Rumit, kebanyakan itu yang terlintas di kepala orang yang tidak menekuni matematika, saat menyaksikan presentasi Maryam dalam video yang diunggah Universitas Harvard di Youtube, tentang teori dynamics module space of curves selama sekitar  satu jam.  Tapi bagi Maryam, matematika adalah sesuatu yang sangat menarik.  

"Memecahkan soal matematika itu seperti seorang detektif yang berusaha memecahkan teka-teki dan menghubungkan berbagai bukti-bukti dalam memecahkan sebuah kasus.  Saya merasa inilah bidang yang ingin saya tekuni,” ujar wanita bertubuh mungil dan berambut pendek ini. Menurutnya, menguraikan  teori matematika secara panjang lebar itu sama seperti menulis novel, cita-citanya dahulu.

Ya, Maryam mengatakan, dulu ia punya cita-cita menjadi penulis novel. Ini karena di masa kecil ia sangat hobi membaca buku apa saja. Kesenangan yang aman, apalagi saat itu ia masih tinggal di Iran yang baru selesai diguncang perang dengan negara tetangganya, Irak. ”Di jalan menuju sekolah, ada toko buku besar yang sering saya datangi. Karena tidak bisa mengintip isi bukunya, sering kali saya membeli buku tentang apa saja,” ujarnya. 

Ia mengaku, saat duduk di sekolah menengah pertama, nilai matematikanya juga tidak bagus, karena saat itu ia belum tertarik menekuni matematika. Namun, pikirannya berubah di tahun terakhir SMP. ”Kakak lelaki sayalah yang membuat saya tertarik menekuni matematika. Ia sering bercerita tentang hal yang ia pelajari di sekolah. Hal pertama tentang matematika yang membuat saya terkesan adalah saat ia mengungkap rahasia tambah-tambahan. Solusinya sangat menarik. Sepertinya ia membaca teori itu dari jurnal sains. Itulah pertama kali saya melihat serunya memecahkan soal matematika,“ kisahnya.

Seiring ketekunannya mempejalari matematika, nilai matematikanya saat lulus SMP pun  bagus. Maryam melanjukan SMA di Farzanegan, Teheran, sekolah yang dikelola oleh Iran’s National Organization for Development of Exceptional Talents. Bakatnya diketahui guru-gurunya yang membimbing Maryam secara intensif, lalu mengirim Maryam mengikuti berbagai lomba matematika.

Pada tahun 1994 dan 1995, ia meraih medali emas dalam olimpiade matematika di Iran. Setelah lulus S-1 dari Sharif University of Technology tahun 1999, Maryam  mendapat beasiswa dari Universitas Harvard, Amerika Serikat. Ia menyelesaikan tesisnya dan meraih gelar Ph.D pada tahun 2004, lalu mengajar di Stanford University hingga kini.  
           
Maryam yang meraih gelar profesor pada usia 31 tahun ini punya cara unik saat memecahkan soal matematika. Ia senang mencorat-coret segala teorinya dalam bentuk gambar, di atas kertas,  di mana saja. Ia bisa menggelar kertas di lantai atau sambil duduk-duduk di bangku taman. Kalau sudah begitu, ia tampak sangat asyik.

”Anak saya mungkin menyangka saya seorang pelukis,” katanya. Ia tidak bermaksud menumpahkan segala hitungannya secara detail di atas kertas, tapi menggambar teorinya di atas kertas membuat pikirannya lebih fokus.
           
Ia mengaku bekerja perlahan, tapi fokus dan konsisten dalam waktu lama, serta tidak mudah terintimidasi. Suaminya, Jan Vondrak (38), pakar matematika dan komputer yang berkebangsaan Ceko, melihat hal ini saat mereka masih pacaran dan sering jogging bersama.
“Dengan tubuhnya yang mungil dan langkahnya tidak lebar, awalnya saya bisa lari jauh di depannya. Tapi, setelah beberapa waktu saat saya berhenti karena lelah, ia masih terus lari dengan kecepatan yang sama,” ujar Jan tentang istrinya. Sementara rekan-rekan kerja Maryam menilainya sebagai orang yang sangat optimistis dan tidak mudah putus asa.

Menurutnya, salah satu yang membuat tak banyak orang, terutama wanita, menekuni matematika adalah karena di saat remaja, mereka yang jago matematika itu tidak terlihat keren. ”Saya mengalaminya,” ujarnya.

Menurut wanita yang senang berolahraga ini, memang tidak semua orang harus jadi ahli matematika. Tapi, banyak orang sejak awal sudah menolak untuk mempelajari matematika sehingga belum apa-apa sudah keburu ’alergi’ pada pelajaran itu. ”Matematika bakal tampak sangat rumit, tidak berguna, dan tidak menyenangkan kalau kita tidak tertarik untuk mempelajarinya. Hanya mereka yang tekun dan sabar mempelajarinya, yang dapat melihat keindahan matematika,” ujar Maryam.
 
Sekelas Nobel
Kecerdasan ibu dari Anahita Vondráková ini sudah lama diakui oleh American Mathematical Society yang memberinya penghargaan Bluementhal Award untuk penelitiannya di bidang matematika murni pada tahun 2009, dan Satter Prize, penghargaan khusus bagi wanita yang dianggap berkontribusi besar dalam penelitian matematika, pada tahun 2013.

Namun, Fields Medal yang disebut Nobel Matematika, karena tidak ada penghargaan Nobel untuk bidang Matematika, yang membuat namanya jadi pembicaraan. International Mathematicians Union (IMU) telah menyelenggarakan penghargaan Fields Medal ini  tiap 4 tahun sekali, sejak tahun 1936.
Tiap kali penghargaan dipilih 2 atau 4 ahli matematika berumur di bawah 40 tahun. Selama 78 tahun penyelenggaraan, penghargaan ini selalu jatuh pada pria. Itu sebabnya, kemenangan Maryam dianggap istimewa. Yang unik, penghargaan itu diserahkan oleh wanita presiden pertama Korea Selatan, Park Geun-Hye.

”Kesuksesan Mirzakhani merupakan simbol perubahan besar dan saya harap ini bisa mendorong banyak wanita lainnya untuk terlibat di bidang matematika. Kita butuh lebih banyak wanita. Saya bangga akan hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah IMU ini," kata Presiden IMU, Ingrid Daubechies, seperti dikutip melalui Time.

Kemenangannya juga menjadi kebanggaan warga Iran. Ra'd Charity Organization, sebuah organisasi yang semula dibentuk untuk mendukung orang berkebutuhan khusus untuk mendapat pendidikan lebih tinggi, di Teheran, Iran memberikan penghargaan kepada Maryam. Penghargaan itu diterima oleh ayahnya, Ahmad Mirzakhani.

Ucapan datang dari menteri dan pakar di Iran. Namun, kemenangannya ternyata menimbulkan kebingungan bagi media di Iran yang menampilkannya dalam laporan berita. Maryam ditampilkan dengan dua versi. Ada media yang merekayasa foto Maryam mengenakan kerudung, ada yang menghilangkan rambut pendeknya, memberi latar di belakang foto segelap rambutnya, dan ada yang memilih tidak menampilkan fotonya sama sekali.
Namun, dalam akun Twitter-nya, Presiden Iran, Hassan Rouhani, yang mengucapkan selamat, menampilkan foto Maryam yang berambut sangat pendek, apa adanya. Iran memang memiliki aturan cukup ketat bagi wanita untuk menutup rambut di muka umum.

Secara tak langsung, cerita Maryam juga membuka mata dunia tentang pendidikan di Iran yang tak banyak diketahui dunia. Dalam wawancaranya dengan berbagai media, Maryam menceritakan bahwa Iran, yang berbentuk Republik Islam, memberi kesempatan bagi wanita untuk menuntut ilmu sama tingginya dengan pria. Ia menyelesaikan program sarjana di Sharif University of Technology, Teheran, Iran. Sebuah kampus yang tidak dikhususkan bagi wanita. Hal ini menunjukkan, di Iran,  kesempatan terbuka bagi wanita untuk masuk ke semua bidang.

"Ini sebuah kehormatan besar bagi saya. Senang rasanya kalau kemenangan saya ini bisa mendorong wanita ilmuwan dan ahli matematika untuk maju. Saya yakin nantinya akan ada lebih banyak wanita yang memenangkan penghargaan serupa,” ujarnya, dalam konferensi pers setelah menerima penghargaan. ”Di luar sana banyak wanita ahli matematika yang mengerjakan hal-hal hebat, kok,” ujarnya, tersenyum.
           
Maryam sepertinya tidak begitu peduli dengan segala pujian yang dilimpahkan kepadanya dan tidak punya ambisi untuk jadi idola atau contoh ideal wanita yang jago matematika. Menerima penghargaan di ajang prestisius, pernah jadi target baginya saat remaja, tapi kini ia hanya ingin sorotan yang mengarah padanya segera berlalu sehingga ia bisa segera kembali fokus pada penelitiannya. Ia sudah punya rencana selanjutnya, memecahkan teka-teki lain.
Ia memang selalu menyukai tantangan. Tiap kali, ia memecut dirinya untuk mencari tantangan yang lebih besar. “Kita harus mengabaikan buah-buah yang tumbuh di tempat rendah dan mudah dipetik. Ini memang tidak mudah. Kita seperti menyiksa diri saat mencoba mencapai sesuatu yang sulit. Tapi, hidup memang tidak mudah, bukan?” ujarnya, bijak.

“Anggap saja kita seperti tersesat dalam hutan dan harus mengerahkan segala pengetahuan dan kemampuan kita untuk menemukan jalan keluar dengan berbagai cara. Kita bisa menemukan jalan keluar,“ ujarnya lagi, tentang memecahkan soal matematika. (f)

 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?