
BEBASKAN DIRI DARI PENJARA MENTAL
Segelas besar air kelapa hijau dan jamu beras kencur terhidang di meja tamu menemani obrolan kami siang itu. Air kelapa hijau memang terkenal memiliki khasiat untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh dari penyakit dan mencegah dehidrasi.
Sementara itu, dalam tradisi masyarakat Jawa, jamu beras kencur biasa digunakan untuk meningkatkan vitalitas dan menghilangkan pegal-pegal atau masuk angin. Namun, utamanya, dua minuman yang tak pernah absen tiap harinya adalah kopi tanpa gula dan air hangat. Kadang-kadang saja ia minum jus kurma di pagi hari.
Kampanye memang telah usai, mengikuti kemenangannya sebagai Gubernur Jawa Timur. Namun, ini tidak berarti Khofifah bisa bersantai atau istirahat. Aktivitasnya tetap penuh. Saat femina berkunjung, di ruang tengahnya yang digelari karpet telah duduk menanti beberapa rombongan tamu dari berbagai daerah untuk bertemu dengannya. Menurut salah satu stafnya, kunjungan tamu ini nyaris tak berhenti!
Khofifah melayani satu per satu tamunya. Duduk sebagai satu-satunya wanita di tengah kerumunan para pria, bukan menjadi hal baru baginya. Mengenakan busana muslim warna kuning gading, penampilan Khofifah hari itu tampak cerah. Aura wajah seorang pemimpin terpancar jelas dari wajah dan sikapnya.

Siang itu, kami membuka obrolan dengan membahas beberapa temuan menarik dalam “Survei Pemimpin Pilihan Wanita”. Survei daring yang merupakan kolaborasi antara femina dengan Accenture Indonesia dan Jurnal Perempuan ini mengambil momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang berlangsung serentak di Indonesia.
Salah satu temuan menarik yang menjadi bahasan kami adalah hasil yang mengatakan: hanya 6% saja wanita yang memilih sesama wanita sebagai pemimpin atau kepala daerah. Sebanyak 22% reponden wanita lebih memilih pemimpin laki-laki dengan tiga alasan utama, yaitu pemimpin pria lebih mobile, atau lebih leluasa bergerak daripada wanita (56%) yang masih dianggap terbatas ruang gerak karena masalah fisik dan tuntutan gendernya di ruang domestik. Pemimpin pria juga dianggap lebih rasional (52%) dan lebih berwibawa (45%).
Uniknya, apa yang terjadi di Jawa Timur bisa dibilang berbanding terbalik dengan hasil survei. Sebagai wanita pertama yang terpilih sebagai gubernur di Jawa Timur, Khofifah berhasil mendobrak tradisi bahwa hanya laki-lakilah yang bisa menjadi kepala daerah. Ia bahkan menang dengan suara terbanyak di ajang pilkada yang berjalan serentak di Indonesia, dengan jumlah suara di atas kemenangan Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) dan Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat).
Soal mobilitas, Khofifah tak usah diragukan lagi! Tiga tahun menjabat sebagai Menteri Sosial, sudah 34 provinsi ia jalani. Di antara berbagai provinsi dan kabupaten tersebut, ia bahkan menjadi menteri atau pejabat negara pertama yang datang berkunjung. Ia mengunjungi Kabupaten Jaya Wijaya, Papua, lalu Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dan di Kabupaten Padang Lawas di Sumatra Utara.
Dalam seminggu tayangan pemberitaan dari kegiatannya bisa 3-4 kali muncul live di TV. Ini belum menghitung kegiatannya mengunjungi anggota Muslimat NU di daerah-daerah yang jumlahnya sudah mencapai 35.000 di seluruh Indonesia.
Menurut Dwi Ari Kusuma, salah satu staf pribadi Khofifah, saat akhir pekan, Khofifah masih memakai 50% waktu istirahatnya itu untuk berkeliling ke daerah-daerah. Ia ingin memastikan bahwa bantuan sosial yang dikawalnya melalui berbagai program Kemensos benar-benar sampai ke sasaran.
Khofifah bukan anak pengusaha, bukan anak pejabat, bukan anak jenderal atau guru besar, dan bukan anak kiai besar. Ini harus dijadikan bagian dari perspektif perempuan untuk bisa berjuang, bekerja keras, dan tetap punya harapan terjun ke dunia politik.




