Profile
Khofifah Indar Parawansa, Konsisten Berjuang Di Jalur Sepi

7 Jan 2019

 

BEBASKAN DIRI DARI PENJARA MENTAL
 
Segelas besar air kelapa hijau dan jamu beras kencur terhidang di meja tamu menemani obrolan kami siang itu. Air kelapa hijau memang terkenal memiliki khasiat untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh dari penyakit dan mencegah dehidrasi.
 
Sementara itu, dalam tradisi masyarakat Jawa, jamu beras kencur biasa digunakan untuk meningkatkan vitalitas dan menghilangkan pegal-pegal atau masuk angin. Namun, utamanya, dua minuman yang tak pernah absen tiap harinya adalah kopi tanpa gula dan air hangat. Kadang-kadang saja ia minum jus kurma di pagi hari.
 
Kampanye memang telah usai, mengikuti kemenangannya sebagai Gubernur Jawa Timur. Namun, ini tidak berarti Khofifah bisa bersantai atau istirahat. Aktivitasnya tetap penuh. Saat femina berkunjung, di ruang tengahnya yang digelari karpet telah duduk menanti beberapa rombongan tamu dari berbagai daerah untuk bertemu dengannya. Menurut salah satu stafnya, kunjungan tamu ini nyaris tak berhenti!
 
Khofifah melayani satu per satu tamunya. Duduk sebagai satu-satunya wanita di tengah kerumunan para pria, bukan menjadi hal baru baginya. Mengenakan busana muslim warna kuning gading, penampilan Khofifah hari itu tampak cerah. Aura wajah seorang pemimpin terpancar jelas dari wajah dan sikapnya.
 
 
Siang itu, kami membuka obrolan dengan membahas beberapa temuan menarik dalam “Survei Pemimpin Pilihan Wanita”. Survei daring yang merupakan kolaborasi antara femina dengan Accenture Indonesia dan Jurnal Perempuan ini mengambil momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang berlangsung serentak di Indonesia.
 
Salah satu temuan menarik yang menjadi bahasan kami adalah hasil yang mengatakan: hanya 6% saja wanita yang memilih sesama wanita sebagai pemimpin atau kepala daerah. Sebanyak 22% reponden wanita lebih memilih pemimpin laki-laki dengan tiga alasan utama, yaitu pemimpin pria lebih mobile, atau lebih leluasa bergerak daripada wanita (56%) yang masih dianggap terbatas ruang gerak karena masalah fisik dan tuntutan gendernya di ruang domestik. Pemimpin pria juga dianggap lebih rasional (52%) dan lebih berwibawa (45%).
 
Uniknya, apa yang terjadi di Jawa Timur bisa dibilang berbanding terbalik dengan hasil survei. Sebagai wanita pertama yang terpilih sebagai gubernur di Jawa Timur, Khofifah berhasil mendobrak tradisi bahwa hanya laki-lakilah yang bisa menjadi kepala daerah. Ia bahkan menang dengan suara terbanyak di ajang pilkada yang berjalan serentak di Indonesia, dengan jumlah suara di atas kemenangan Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) dan Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat).
 
Soal mobilitas, Khofifah tak usah diragukan lagi! Tiga tahun menjabat sebagai Menteri Sosial, sudah 34 provinsi ia jalani. Di antara berbagai provinsi dan kabupaten tersebut, ia bahkan menjadi menteri atau pejabat negara pertama yang datang berkunjung. Ia mengunjungi Kabupaten Jaya Wijaya, Papua, lalu Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dan di Kabupaten Padang Lawas di Sumatra Utara.
 
Dalam seminggu tayangan pemberitaan dari kegiatannya bisa 3-4 kali muncul live di TV. Ini belum menghitung kegiatannya mengunjungi anggota Muslimat NU di daerah-daerah yang jumlahnya sudah mencapai 35.000 di seluruh Indonesia.
 
Menurut Dwi Ari Kusuma, salah satu staf pribadi Khofifah, saat akhir pekan, Khofifah masih memakai 50% waktu istirahatnya itu untuk berkeliling ke daerah-daerah. Ia ingin memastikan bahwa bantuan sosial yang dikawalnya melalui berbagai program Kemensos benar-benar sampai ke sasaran.
 
Khofifah bukan anak pengusaha, bukan anak pejabat, bukan anak jenderal atau guru besar, dan bukan anak kiai besar. Ini harus dijadikan bagian dari perspektif perempuan untuk bisa berjuang, bekerja keras, dan tetap punya harapan terjun ke dunia politik.

Selama kampanye, hingga saat ini tiap harinya ada 5 hingga 6 titik ia kunjungi. Berawal di pagi hari dengan blusukan ke pasar-pasar, lalu siangnya ia mulai mengunjungi pelaku UKM. Kemudian, di sore hingga malam hari, ia berdiskusi dengan tokoh politik dan organisasi. Apabila calon pemimpin lain memilih naik helikopter atau pesawat untuk menghemat waktu saat berkunjung ke daerah-daerah, seperti Jember, Banyuwangi, dan Madiun, Khofifah justru memilih jalan darat atau naik mobil.

Dalam perjalanan darat inilah ia memiliki banyak waktu untuk saling berinteraksi dengan para stafnya, untuk saling bertukar pikiran sekadar bercanda, bernyanyi, atau makan durian bersama di pinggir jalan.
 
“Saat perjalanan jauh, saya selalu membawa grup pengamen jalanan Surabaya untuk ikut. Jadi, sepanjang jalan kami bisa bernyanyi bersama,” ungkap Khofifah, tentang caranya menikmati ‘me time’ di tengah kesibukan.
 

Apakah anak-anaknya tidak pernah protes? Kali ini ia sangat beruntung. Saat berkarier sebagai menteri, kelima anaknya sudah di usia mandiri. Bersama almarhum suaminya, Ir. H. Indar Parawansa, M.Si.. ia dikaruniai 4 anak, yaitu Ima Patimasang (25), Jalaluddin Mannagalli Parawansa (22), Yusuf Mannagalli (21), dan Ali Mannagalli (18).
 
Ima menyelesaikan kuliah di Manchester, Inggris. Jalal, adiknya, kuliah di Beijing, Cina, sementara Yusuf pernah mondok di salah satu pesantren di Mojokerto dan saat ini ia merampungkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Sementara si bungsu Ali, saat itu juga mondok di pesantren.
 
“Sejak awal yang saya tekankan adalah kualitas pertemuan, karena saya jarang di rumah. Jadi, saya agak heran jika ada keluarga yang secara kuantitatif pertemuannya terjaga, tapi saat bertemu sibuk bermain gadget,” ujar Khofifah, yang memaksimalkan gadget untuk membangun komunikasi saat saling berjauhan dengan anak-anaknya.
 
Anak-anaknya justru merasa bangga dengan sepak terjang dan visi kuat Khofifah dalam berkarier. Sejak ia menjabat di legislatif, menjadi menteri, hingga saat Khofifah memutuskan pulang kampung untuk membangun Jawa Timur. Jabatan prestisius di Dewan Perwakilan Rakyat, menteri, hingga kini sebagai gubernur terpilih juga tidak membuat gaya hidup mereka berubah secara esensi.
 
Teman-teman di lingkungan pergaulan ketiga putranya mendadak heboh, saat saluran TV menayangkan secara langsung momen pencoblosan pilkada, saat putranya, Jalaluddin, memberikan sambutan dalam bahasa Mandarin, dan dalam acara talkshow di mana Khofifah tampil bersama anak-anaknya. Mereka baru tahu bahwa selama ini mereka berteman dengan anak menteri dan calon Gubernur Jawa Timur!
 
“Saya merasa tidak ada yang harus berubah dari tradisi kehidupan kami di keluarga,” ucap Khofifah. Saat menjadi menteri pun ia tidak memakai jasa sopir. Dulu, almarhum suaminya, Indar Parawansa, yang mengantarnya ke kantor.

Di usia 53 tahun, setelah 22 tahun mengayuh bahtera rumah tangga, suaminya berpulang ke pangkuan Allah saat sedang menjalankan tugas di Palu, Sulawesi Tengah, Januari 2014. Ia memang diketahui tengah bertarung melawan diabetes, dan sempat mengeluhkan luka di jari kaki yang tidak sembuh-sembuh.
 
Kini, bersama keempat anaknya, mereka terus menjalankan warisan semangat hidup dari almarhum suami dan ayah mereka tercinta. “Anak-anak saya, ya, anak-anak saya. Be yourself. Ibu hanya bisa berdoa, anak-anak harus bekerja keras dan belajar dengan baik. Dan, saya sangat bersyukur doa ini dijaga betul oleh anak-anak saya,” ungkap Khofifah dengan kebanggaan seorang ibu. (f)
 
Baca Juga:

Rina Trisnawati, Lewat Tintin Chips Berdayakan Ibu-Ibu Yang Memiliki Anak Disabilitas

Potensi Wanita Asia di Mata Dr. Indigo

8 Perempuan Supreme: Sakdiyah Ma’ruf
 
 
 


Topic

#profil, #politikus, #wanitakarier

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?