Profile
Irni Palar, Berani Keluar dari Comfort Zone

6 Jun 2016



Foto: Ai Hikmatullah

“Credit card is women’s best friend,” begitu mungkin ungkapan yang tepat di era transaksi serba elektronik seperti sekarang. Sesungguhnya, di balik segala kepraktisan kartu plastik itu, ada peran besar Irni Palar (44), wanita yang menduduki posisi puncak di salah satu prinsipal kartu debit dan kredit terbaik dan terbesar di dunia. Sebagai Direktur & Country Manager MasterCard Indonesia, Irni bercerita tentang tantangan yang dihadapinya di industri finansial di Indonesia.
 
Target ke Gen Y
Berpostur tinggi, rambut panjang tergerai rapi, penampilan Irni sangat feminin dan elegan. Membawahi tim kecil sejumlah 11 orang, Irni menyandang pekerjaan yang tidak ringan. “Di banyak negara maju, penggunaan transaksi elektronik sangat besar, sekitar 70%. Hampir sebagian besar transaksi dalam kehidupan sehari-hari, tak perlu lagi menggunakan uang tunai,” jelasnya.

Ia memberi contoh, di Korea, perbandingan jumlah mesin Electronic Data Capture (EDC) dibandingkan populasi adalah 20:1, dalam arti 20 mesin EDC banding 1 penduduk. Jika kita bandingkan dengan Indonesia, perbandingannya adalah 1:1.000, satu mesin EDC untuk 1.000 penduduk. Jangankan menggunakan transaksi elektronik dengan kartu, jumlah pemegang rekening bank saja masih sangat minim. Tak heran, di Indonesia, 95% transaksi masih menggunakan uang tunai.  

“Di Indonesia, sebanyak 80% penduduknya tidak punya rekening bank. Hanya 20% yang punya rekening bank. Mereka yang punya rekening di 2-3 bank itu rata-rata hanya ada di kota besar,” ujar Irni, yang bergabung dengan Mastercard Indonesia sejak September 2012. Angka ini menunjukkan betapa pemahaman tentang finansial masyarakat Indonesia masih sangat kurang. Tantangan inilah yang harus dihadapi oleh Irni dalam menggenjot transaksi elektronik.  
Kendati demikian, Irni yakin, pasar kartu debit dan kredit di Indonesia masih sangat besar. Tingkat konsumsi yang sangat tinggi dan pertumbuhan kelas menengah yang terus bertumbuh, potensial untuk digarap ke depannya. “Bahkan kalau kita lihat, kota-kota kedua atau ketiga setelah Jakarta, seperti Surabaya, Medan, punya pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” tuturnya.  

Menurut pengamatan Irni, memang ada persepsi umum bahwa mereka yang memiliki kartu kredit, punya tendensi untuk overspend. Terlebih lagi, karakteristik orang Indonesia cenderung compulsive buyer. Padahal, jika dilihat dari sisi penerbit kartu kredit, hal itu bisa dijembatani dengan banyaknya program dan benefit yang ditawarkan untuk konsumen. Misalnya, dengan promo diskon, gratis belanja tertentu, cicilan 0%, point rewards, cicilan untuk uang muka sekolah, dan sebagainya. "Menurut saya, semua itu kembali ke pengguna. Bagaimana kita mendisiplinkan diri dalam membayar, dan tetap bisa menikmati semua benefit di kartu,” tuturnya.   

Irni menilai, wanita punya peran strategis sebagai ‘manajer keuangan’ keluarga. “Perlu ada edukasi pemahaman, kartu kredit enggak hanya untuk belanja. Pada akhirnya,  tiap orang harus bisa mengelola keuangan pribadinya. Pakai keuntungan yang diberikan semaksimal mungkin,” saran Irni, yang mengatakan, wanita lebih punya emotional responsibility terhadap utang kartu kredit. Statistik menunjukkan, pada konsumen wanita, umumnya mereka akan berusaha untuk membayar  utangnya on time.

Saat ini, perbankan juga sedang melirik generasi millennial sebagai pasar baru yang potensial. Memang benar bahwa dari sisi usia, kemampuan spending mereka masih kecil. Tapi, mereka adalah generasi masa depan, sehingga edukasi harus dimulai dari mereka. Berdasarkan statistik, penggunaan kartu di kalangan generasi ini juga sangat tinggi, sekitar 50% transaksi mereka sudah menggunakan pembayaran elektronik. Bandingkan dengan kalangan generasi X, yang hanya sekitar 10%-15% orang untuk hal serupa.

 “Mereka adalah karakter generasi yang lebih cepat adaptasi dan tidak ragu untuk mencoba hal baru. Mereka maunya serba cepat, praktis, dan fungsional,” kata Irni, yang mengatakan, MasterCard memprediksi bahwa ke depannya penggunaan kartu akan berkurang, karena orang lebih suka bertransaksi melalui smartphone-nya langsung. Bukan tidak mungkin, ke depannya,  generasi millennial ini yang akan memopulerkan tren pembayaran yang mengawinkan media sosial dengan banking.

Irni memberi contoh, transaksi e-commerce yang dari waktu ke waktu terus meningkat,  sangat dekat dengan generasi ini. “Bank harus bisa memahami karakter generasi ini. Seperti apa gaya hidup dan perilaku online mereka. Kami harus bisa mengawinkan antara consumer behavior dengan produk yang tepat,” tuturnya. 
 
Masih Dominasi Pria
Harus diakui, di industri finansial dominasi pria masih kuat, terutama untuk posisi leader. Wanita bergelar Bachelor of Business Administration dari Portland State University, Oregon, Amerika Serikat, ini mengawali kariernya di perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Irni tak membayangkan sebelumnya bahwa pilihannya untuk menyeberang ke industri keuangan ternyata adalah pilihan tepat.

“Waktu mau pindah dulu sempat ragu karena membayangkan, di dunia finansial akan sangat membosankan dan monoton. Tapi  ternyata, bukan itu yang saya temukan. Justru dinamikanya sangat menarik,” kenang Irni, yang memutuskan untuk bergabung dengan American Express (Amex), institusi penerbit kartu kredit.

Sewaktu di Amex, Irni harus banyak berhadapan dengan merchant, seperti hotel, resto, toko, dan butik. “Profesi ini menuntut saya harus bertemu banyak orang. Saya jadi mengerti filosofi bisnis para pengusaha yang sukses membesarkan bisnisnya mulai dari usaha kecil,” tutur Irni, yang jabatan terakhirnya di Amex adalah sebagai Head of Global Establishment Services.

Setelah 8,5 tahun di Amex, Irni pindah ke Bank Mega. “Tugas saya waktu itu, menentukan produk apa, sih, yang tepat untuk segmen tertentu. Di sini, banyak kesempatan untuk saya bisa bertukar pikiran, kebutuhan konsumen tentang produk kartu itu seperti apa. Saya jadi bisa mendapatkan gambaran tentang kelebihan dan kekurangan transaksi elektronik dari sudut pandang konsumen,” paparnya. Menjabat sebagai Vice President, Head of Sales and Marketing di Divisi Kartu Kredit Bank Mega, Irni berhasil memperluas basis kartu kredit bank tersebut secara signifikan dalam kurun waktu beberapa tahun.

Di MasterCard Indonesia, Irni bisa melihat masalah payment ecosystem dalam tingkat yang lebih tinggi. “Di sini, saya berperan sebagai fasilitator bagi perbankan, menerapkan strategi-strategi untuk bisa memajukan penggunaan kartu di Indonesia. Tidak terbatas pada kartu kredit saja, tapi juga kartu debit dan lainnya. Karena perusahaan ini berbasis teknologi, ada banyak terobosan baru dari sisi teknologi yang bisa diaplikasikan.”

Irni memaparkan, misalnya, inisiatif untuk mengedukasi bank bahwa kartu debit bukan sekadar kartu ATM, tapi juga kartu yang bisa dipakai untuk bertransaksi. Dalam praktiknya, masih banyak bank yang salah mengedukasi konsumennya, tidak membuat nasabah mereka memahami tentang kegunaan kartu debit untuk bertransaksi.  

Pihaknya juga harus memikirkan solusi bagaimana mengintegrasikan semua pembayaran dengan berbagai kartu bisa disederhanakan menjadi satu kartu seperti yang telah dilakukan di banyak negara. Contohnya saat ini, membayar berbagai fasilitas publik antara lain tol, parkir, transportasi publik, dan lainnya, masih difasilitasi berbagai kartu yang berbeda.

Tantangan ada pada bank serta pemegang kartu karena infrastruktur yang dibangun bank sangat besar jumlahnya, bank perlu melakukan edukasi finansial, program serta upaya lainnya untuk menarik nasabah baru. Sedangkan bagi pemegang kartu, mereka harus melakukan pembukaan rekening yang berbeda pada masing-masing bank penerbit. Di sinilah peran institusi seperti MasterCard sangat diharapkan sebagai fasilitator yang bersifat netral. 

Di sisi lain, lewat program inklusi finansial yang berpartner dengan bank, pihaknya juga turut serta mendorong masyarakat --terutama di pedesaan-- untuk memiliki rekening bank. Irni percaya, pasti ada solusi yang bisa dicari dari segala keterbatasan dan hambatan-hambatan infrastruktur di negeri ini. 
Irni mengakui, di lingkungan yang mayoritas pria, sebagai wanita (terlebih lagi di usianya yang masih cukup muda), ia kerap dipandang sebelah mata. “Ada kecenderungan para pria lebih comfortable untuk menjalankan bisnis dengan sesama pria. Apalagi kalau menyangkut hal-hal yang bersifat teknis. Wanita  biasanya dianggap kurang memahami hal teknis.” 

Hal ini tidak membuatnya gentar. Irni melihat ada banyak kelebihan yang dimiliki wanita di industri finansial. “Biasanya, sikap pria akan berbeda jika berhadapan dengan wanita sebagai lawan bicara. Sikap mereka akan lebih soft, dan mau memberikan kesempatan. Untuk itulah, wanita harus mempergunakan kesempatan ini sebaik mungkin. You have to speak your mind and show what you are capable of.”

Sebagai ibu dari 3 anak, Whitney Allison Budiman (14), Britney Adeline Budiman (11), dan Wyland Kin Budiman (9), Irni percaya, sebetulnya selalu ada jalan untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga yang sama-sama demanding. “It’s all about balance. Tapi, jangan pernah takut untuk keluar dari comfort zone,” pungkas istri Billy Budiman ini. (f)


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?