Profile
Irma Hardjakusumah Bersinar di Hollywood

29 Feb 2016


Namanya sudah muncul sejak acara after party Academy Awards Governors Ball di Kodak Theatre, Hollywood, Los Angeles, tahun 2011 lalu. Femina pertama kali mewawancarainya tahun 2012, dan  memunculkannya di edisi tahunan Femina pada tahun yang sama.

Pada masa itu,  belum banyak yang tahu kalau ada orang Indonesia yang ikut terlibat dalam perhelatan Oscar 2011. Wanita itu adalah Irma Hardjakusumah (40), wanita yang berprofesi sebagai desainer multidisipliner.
           
“Bisa menangani proyek sebesar itu merupakan buah dari kerja keras dan perjalanan panjang saya menekuni dunia desain,” ungkap lulusan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik  Universitas Indonesia ini, bangga. Tak hanya Oscar, Irma juga dipercaya menangani desain ruangan untuk after party Emmy Awards di tahun yang sama. Proyek tersebut Irma kerjakan bersama sejumlah desainer interior papan atas dunia.
           
Apa sebetulnya yang dimaksud Irma dengan desainer multidisipliner? Banyak orang yang belum memahami profesi desainer multidisipliner. Bahkan, saat diwawancara oleh berbagai media, Irma mengaku sering kesulitan menjelaskan seluk-beluk profesinya itu. “Sebenarnya, bidang itu sudah ada sejak lama. Hanya, ilmu desain multidisipliner baru saja menjadi jurusan resmi di beberapa universitas sejak beberapa tahun terakhir,” jelas Irma.    
           
Sudah banyak brand papan atas yang menggunakan jasa Irma, seperti Burberry, Swarovski, Hugo Boss, Patek Philippe, Cartier, Salvatore Ferragamo, hingga Dior. Selain luxury brands, ia juga menangani perusahaan game (Ubisoft dan Disney), korporasi (Lazard, AES, dan Walmart), otomotif (Bentley, Audi, dan Chrysler), dan fashion (westfield dan H&M).
           
Dalam mengerjakan beragam proyek desain tersebut, peran Irma bisa berbeda-beda, tergantung keinginan klien. Ia bisa menjadi desainer, art director, dan designer director.  “Secara keseluruhan, pekerjaan saya meliputi konsep desain, sketsa, technical drawing, dan supervisi lapangan,” jelas istri dari Enrol Panay ini.
           
Mengingat banyak brand yang harus dikerjakannya, ia menegaskan pentingnya mengasah kemampuan pemahaman branding sebagai desainer profesional. Saat mendesain untuk merek kosmetik dan minuman, misalnya, menurut Irma, baru bisa dikatakan berhasil bila program desain terpenuhi dan mencerminkan persona masing-masing brand.

“Nah, untuk bisa memahami dan peka terhadap berbagai nilai estetis dan karakter, seorang desainer memerlukan wawasan, pengalaman, dan jam terbang yang cukup,” jelas penggemar desainer Tokujin Yoshioka, Andra Matin, Charles & Ray Eames ini.
           
Bidang desain memang sudah mencuri hati Irma sejak kecil. Waktu masih duduk di kelas 2 SD, Irma mengaku senang membaca buku tentang Leonardo Da Vinci, tokoh di bidang seni, sains, dan matematika. Sosok Leonardo itulah yang membuat Irma menyukai ketiga bidang tersebut. “Nah, lewat ilmu desain, saya bisa menemukan ilmu seni, sains, dan matematika sebagai satu kesatuan,” jelas ibu dari Gyan Askari (6) ini.
           
Passion di bidang desain inilah yang mendorong Irma hijrah ke Los Angeles, untuk melanjutkan studinya di jurusan Multi-discipliner Design, Art Center College of  Design, Pasadena, serta jurusan Environmental Design Program, University of California di Los Angeles (UCLA). “Walau saat itu desain multidisipliner masih terbilang ‘abu-abu’, saya merasa tertantang mengambil jurusan itu karena mampu menggabungkan ilmu arsitektur, desain interior, dan desain produk,” terang wanita yang hobi membaca ini.
           
Saat ini, Irma memang sudah memiliki karier cemerlang di negeri Paman Sam. Namun, wanita yang mengaku masih sering mengalami homesick ini ternyata  memiliki cita-cita terbesar dalam hidupnya. “Saya ingin terlibat dalam desain set film science fiction seperti Blade Runner, juga mendesain museum exhibition di Indonesia, agar sekalian bisa pulang kampong,” harap Irma.

Di ajang Oscars 2016 ini, Irma kembali dipercaya untuk merancang ruang pesta Governors Ball. Governors Ball tahun ini mengambil tema Hollywood tempo dulu, dimulai dari era 1920-an hingga 1940-an. Irma bekerjasama dengan perpustakaan Margaret Herrick di Beverly Hills yang menyimpan sejarah dan perkembangan dunia perfilman di Amerika. Ia pun menuangkannya ke dalam desain untuk pesta Governors Ball kali ini. “Mulai foto-foto di belakang layar, foto-foto publikasi atau istilahnya photo set, desainer kostum, pokoknya dunia perfilman dari mungkin awal abad ini,” jelas Irma, seperti yang dikutip dari VOA. Ribuan foto yang menggambarkan perkembangan dunia film di Amerika dari perpustakaan tersebut, menghiasi ruangan pesta Governors Ball yang diselenggarakan di Ray Dolby Ballroom, Hollywood & Highland Center, Los Angeles. (f)
 

 
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?