Berawal dari 'rajin' masuk klub, cowok yang dikenal sebagai Adip Kiyoi ini pun memutuskan untuk menjadi DJ. Walau sempat ditentang keluarganya, cowok kelahiran 28 Januari 1983 ini pun tetap semangat mengejar passionnya. Biar nggak penasaran, yuk, simak cerita Adip dengan CC di sini...
Cerita, dong, awal mula tertarik jadi DJ...
Saat masih kuliah, saya sering main ke klub. Saya pikir, kenapa masuk klub cuma buat dengerin musik yang dimainin DJ, saya juga ingin orang-orang mendengarkan karya saya. Tepat 1 Januari 2006, saya memutuskan untuk belajar nge-DJ dengan DJ Riri, beli alat DJ pun di dia. Nggak tanggung-tanggung, 5 hari setelahnya, saya langsung diminta nge-DJ di sebuah klub ngetop!
Wah, gimana, tuh, perasaannya?
Yang pasti deg-degan dan nervous banget! Semalaman saya latihan, dan untungnya tampil dengan lancar selama satu jam.
Reaksi keluarga gimana?
Awalnya nggak disupport. Orangtua beranggapan, keluar masuk klub adalah hal yang buruk dan mengganggu waktu kuliah saya. Saat itu saya juga masih dibatasi keluar malam, persis Cinderela, hehehe. Begitu dapat honor, bukannya didukung, justru makin ditentang keluarga. Maklum, awalnya saya sempat memberi alasan bahwa nge-DJ itu cuma hobi, hehehe.
Cerita, dong, tentang proses pembuatan album perdananya...
Saya membuat album Life In You saat masih bekerja kantoran. Butuh waktu dua tahun untuk memproduksi 14 lagu, karena saya ingin total saat mengerjakan albumnya. Yap, memang agak susah atur waktu, hanya di malam hari inspirasi datang dan saya bisa fokus mengerjakan album. Paginya, bukannya ngantuk, saya malah makin semangat karena sudah membayangkan malamnya akan mengerjakan album.
Suka duka jadi DJ?
Berhubung berawal dari hobi, saya sangat enjoy menjalaninya. Yang penting jangan terlalu idealis, ikutin saja selera pasar supaya banyak yang mengundang. Konsekuensinya, jam tidur jadi berkurang karena DJ, kan, baru main di malam hari, bahkan dini hari. Rekor nge-DJ paling larut, saya pernah main pukul 4 pagi! Pernah juga nggak sengaja tekan pause sehingga lagunya berhenti beberapa detik. Untung saya buru-buru sadar, hehehe....
Lagu wajib saat nge-DJ?
Tentunya lagu saya sendiri, dong, judulnya Follow Me Up. Unik karena diselipkan instrumen band, pengunjung bisa ikutan nyanyi bareng, deh.
Pendapat kamu tentang profesi DJ yang dikelilingi kaum hawa?
Hmm, bisa jadi, sih. Saya sendiri nggak terlalu mempermasalahkan soal fisik, yang penting cewek itu pengertian, terutama masalah waktu. Maklum, profesi DJ, kan, jam kerjanya berbeda dengan kebanyakan orang, ya.
Lebih suka mendekati apa didekati?
Mendekati, dong, karena ada tantangannya. Pasangan saya sekarang susah ditaklukkan, proses pendekatannya panjang. Triknya, yang penting sabar dan pintar membaca kemauan si dia. Saat si dia emosi, kita harus lebih sabar. Saat si dia senewen, kita yang menenangkan. Gini-gini, saya pernah pdkt dengan seorang cewek sampai 2 tahun! Hehehe....
Cewek seperti apa yang bikin kamu ilfeel?
Saya paling 'gerah' lihat cewek yang drama queen. Saya pernah dibawakan makanan oleh seorang cewek agresif, dan dia hobi publish segala hal tentang saya, padahal kami belum pacaran. Akhirnya saya mundur, deh, hehehe....
Menuntut pasangan yang satu selera soal musik?
Nggak, kok. Pasangan saya malah nggak pernah ikut saat saya nge-DJ. Yang penting saat saya nggak kerja (nge-DJ), kami bisa have fun bareng.
Kencan favoritnya seperti apa?
Biasanya, sih, saya ajak pasangan dinner. Yang pasti saya selalu ingin memperlakukan si dia dengan spesial. Nggak perlu nunggu momen spesial untuk bikin kejutan, kapan saja bisa, kok. Saya pernah datang ke rumah cewek hanya untuk masakin menu kesukaannya. Maklum, saya memang hobi masak, hehehe....
Last but not least, apa harapan kamu di 2014?
Saya masih mengincar berbagai award di Indonesia. Pengen juga mengajak kerjasama musisi luar seperti Natalie Peris, kebetulan dia memang tertarik untuk bikin musik di Indonesia. Wish me luck, guys! (PG)
Cerita, dong, awal mula tertarik jadi DJ...
Saat masih kuliah, saya sering main ke klub. Saya pikir, kenapa masuk klub cuma buat dengerin musik yang dimainin DJ, saya juga ingin orang-orang mendengarkan karya saya. Tepat 1 Januari 2006, saya memutuskan untuk belajar nge-DJ dengan DJ Riri, beli alat DJ pun di dia. Nggak tanggung-tanggung, 5 hari setelahnya, saya langsung diminta nge-DJ di sebuah klub ngetop!
Wah, gimana, tuh, perasaannya?
Yang pasti deg-degan dan nervous banget! Semalaman saya latihan, dan untungnya tampil dengan lancar selama satu jam.
Reaksi keluarga gimana?
Awalnya nggak disupport. Orangtua beranggapan, keluar masuk klub adalah hal yang buruk dan mengganggu waktu kuliah saya. Saat itu saya juga masih dibatasi keluar malam, persis Cinderela, hehehe. Begitu dapat honor, bukannya didukung, justru makin ditentang keluarga. Maklum, awalnya saya sempat memberi alasan bahwa nge-DJ itu cuma hobi, hehehe.
Cerita, dong, tentang proses pembuatan album perdananya...
Saya membuat album Life In You saat masih bekerja kantoran. Butuh waktu dua tahun untuk memproduksi 14 lagu, karena saya ingin total saat mengerjakan albumnya. Yap, memang agak susah atur waktu, hanya di malam hari inspirasi datang dan saya bisa fokus mengerjakan album. Paginya, bukannya ngantuk, saya malah makin semangat karena sudah membayangkan malamnya akan mengerjakan album.
Suka duka jadi DJ?
Berhubung berawal dari hobi, saya sangat enjoy menjalaninya. Yang penting jangan terlalu idealis, ikutin saja selera pasar supaya banyak yang mengundang. Konsekuensinya, jam tidur jadi berkurang karena DJ, kan, baru main di malam hari, bahkan dini hari. Rekor nge-DJ paling larut, saya pernah main pukul 4 pagi! Pernah juga nggak sengaja tekan pause sehingga lagunya berhenti beberapa detik. Untung saya buru-buru sadar, hehehe....
Lagu wajib saat nge-DJ?
Tentunya lagu saya sendiri, dong, judulnya Follow Me Up. Unik karena diselipkan instrumen band, pengunjung bisa ikutan nyanyi bareng, deh.
Pendapat kamu tentang profesi DJ yang dikelilingi kaum hawa?
Hmm, bisa jadi, sih. Saya sendiri nggak terlalu mempermasalahkan soal fisik, yang penting cewek itu pengertian, terutama masalah waktu. Maklum, profesi DJ, kan, jam kerjanya berbeda dengan kebanyakan orang, ya.
Lebih suka mendekati apa didekati?
Mendekati, dong, karena ada tantangannya. Pasangan saya sekarang susah ditaklukkan, proses pendekatannya panjang. Triknya, yang penting sabar dan pintar membaca kemauan si dia. Saat si dia emosi, kita harus lebih sabar. Saat si dia senewen, kita yang menenangkan. Gini-gini, saya pernah pdkt dengan seorang cewek sampai 2 tahun! Hehehe....
Cewek seperti apa yang bikin kamu ilfeel?
Saya paling 'gerah' lihat cewek yang drama queen. Saya pernah dibawakan makanan oleh seorang cewek agresif, dan dia hobi publish segala hal tentang saya, padahal kami belum pacaran. Akhirnya saya mundur, deh, hehehe....
Menuntut pasangan yang satu selera soal musik?
Nggak, kok. Pasangan saya malah nggak pernah ikut saat saya nge-DJ. Yang penting saat saya nggak kerja (nge-DJ), kami bisa have fun bareng.
Kencan favoritnya seperti apa?
Biasanya, sih, saya ajak pasangan dinner. Yang pasti saya selalu ingin memperlakukan si dia dengan spesial. Nggak perlu nunggu momen spesial untuk bikin kejutan, kapan saja bisa, kok. Saya pernah datang ke rumah cewek hanya untuk masakin menu kesukaannya. Maklum, saya memang hobi masak, hehehe....
Last but not least, apa harapan kamu di 2014?
Saya masih mengincar berbagai award di Indonesia. Pengen juga mengajak kerjasama musisi luar seperti Natalie Peris, kebetulan dia memang tertarik untuk bikin musik di Indonesia. Wish me luck, guys! (PG)


