Kebebasan berekspresi memuluskan jalan Ayesha Felice Nayyara Zain, Pemenang III Wajah Femina 2025, membangun berbagai komunitas. Foto: Vidi Hagiansyah
Di tengah arus informasi yang makin deras dan serba digital, suara perempuan justru menemukan bentuknya yang paling beragam. Bukan lagi tentang siapa yang paling lantang, melainkan siapa yang paling konsisten, kritis, dan berani melangkah.
Perjalanan media perempuan selalu punya makna lebih dari sekadar menyampaikan kabar. Ia adalah ruang aman untuk berpikir, tempat bertumbuh, sekaligus cermin perubahan zaman.
Hal itulah yang dirasakan Ayesha Felice Nayyara Zain, Pemenang III Wajah Femina 2025, saat memandang peran Femina hari ini. “Aku look up banget, sih, ke Femina, karena menurutku Femina itu salah satu pionir majalah perempuan di Indonesia.”
Dalam sejarahnya, Femina hadir ketika perempuan masih sulit bersuara, terjepit oleh situasi sosial dan politik yang membatasi ruang ekspresi. Kini, konteksnya berbeda. Perempuan tidak lagi harus turun ke jalan untuk didengar; ekspresi memiliki spektrum yang jauh lebih luas.
“Berani berekspresi itu, kan, macam-macam. Bukan cuma soal demo, tapi lebih ke berani pursue karier, mimpi, dan jalan hidup masing-masing,” kata Ayesha.
Ketika informasi datang dari berbagai arah dengan proses yang tak selalu sama, di sinilah etika jurnalistik menjadi pembeda. “Kalau ada media yang masih mengikuti etika jurnalistik, aku pro banget. Rules are set for a reason,” ujar Ayesha.
Baginya, proses penyaringan informasi adalah kunci, terutama saat algoritma media sosial sering kali membentuk apa yang muncul di lini masa. ‘Kurasi’ pribadi untuk informasi juga membuatnya makin kritis.
Menurut Ayesha, langkah pertama untuk bersikap kritis adalah membuka pikiran. “You cannot just base your opinion based on one source. Itu sudah no buat aku,” katanya tegas.
Bagi Ayesha, kurasi pribadi diperlukan dalam menyaring beragam informasi. Foto: Vidi Hagiansyah
Membaca dari banyak sumber, mengamati, lalu menggunakan akal sehat menjadi proses yang tak bisa dilewati. Tantangan algoritma memang nyata, tetapi bukan alasan untuk pasrah. “Kita bisa memfilter informasi mana yang mau masuk ke otak dan mana yang cukup lewat saja,” Ayesha menambahkan.
Kesadaran ini juga ia terapkan dalam hidup sehari-hari. Membatasi konsumsi media sosial, mengambil jeda, membaca buku, hingga sekadar “touch the grass” menjadi cara menjaga kewarasan di tengah banjir informasi. Sikap ini terasa penting, terutama bagi generasi muda yang tumbuh di dunia serba cepat dan reaktif.
Bagi Ayesha, kebebasan bersuara hari ini justru datang dengan tanggung jawab untuk bertindak. Ia berbagi pengalaman mendirikan organisasi yang awalnya tanpa gambaran besar, namun perlahan berkembang hingga memberi dampak nyata bagi perempuan di bidang venture capital dan kewirausahaan.
Menurutnya, langkah kecil yang diletakkan hari ini bisa menjadi fondasi besar di masa depan. “Sekarang itu bukan zamannya takut mulai. Just do it.” katanya. (f)
Baca juga:
Nawasi Laisha Ramadhania: Mengasah Empati dengan Membaca
Alfath Alima Hakim: Perempuan Merdeka Punya Pilihan
Visi Para Pendiri Femina untuk Perempuan Indonesia Tetap Relevan dengan Zaman
Laili Damayanti
Topic
#WajahFemina2026, #PerempuanBersuara


