Trending Topic
Visi Para Pendiri Femina untuk Perempuan Indonesia Tetap Relevan dengan Zaman

12 Feb 2026

Berawal dari mencari bacaan lokal yang tepat menggambarkan realitas mereka; Widarti Gunawan, Atika Makarim, dan Mirta Kartohadiprodjo. Jumpsuit + kemeja putih: Puragraph Foto: Hakim Satriyo (akreditasi lengkap foto di akhir artikel)


Sampul digital Femina pembuka tahun ini sangat istimewa, karena menampilkan tiga perempuan hebat yang mendirikan majalah Femina, yaitu Atika Makarim, Mirta Kartohadiprodjo, dan Widarti Gunawan.

Merayakan Hari Pers Nasional pada 9 Februari lalu, kehadiran Pendiri Femina di sampul digital kali ini menunjukkan bahwa lahirnya Femina jadi salah satu bagian penting dari perkembangan pers Indonesia di era modern.

Di awal 1970-an, ketika media di Indonesia masih didominasi koran hitam-putih dan suara perempuan jarang mendapat sorotan, sekelompok perempuan memilih bergerak menciptakan bacaan baru. 

Dari keresahan sederhana—mengapa belum ada majalah perempuan yang benar-benar berbicara tentang hidup perempuan Indonesia—lahirlah Femina, yang memberi warna baru dalam sejarah pers nasional.

Femina lahir pada September 1972, di masa awal pemerintahan Orde Baru. Atika Makarim mengingat suasana itu sebagai periode ketika media perempuan nyaris tak tersedia. “Ibu-ibu kami lebih sering membaca majalah wanita dari luar negeri yang berbahasa Belanda atau berbahasa Inggris,” kenangnya. 

Saat itu, belum ada media lokal yang memberi ruang bagi perempuan untuk melihat dirinya sendiri—dengan realitas, aspirasi, dan pilihan hidupnya. Keinginan untuk memberikan pilihan bacaan kepada perempuan Indonesia pun juga dilontarkan Mirta Kartohadiprodjo dan Widarti Gunawan.

Kebetulan ketiganya berada di lingkungan para jurnalis dan penerbit, dan akhirnya mendirikan majalah perempuan. Mereka tertantang dengan ide yang datang dari Sofjan Alisjahbana, kakak Mirta, yang melihat kesuksesan majalah lokal seperto Tempo dan Intisari. 

Ide ini bukan hanya memiliki peluang bisnis, tapi menjadi respons ketiga pendiri Femina terhadap perubahan sosial. “Di zaman itu peran perempuan mulai menonjol," kata Mirta, dan perempuan butuh ruang berekspresi.

Widarti menggambarkan lanskap media kala itu. “Media di Indonesia waktu itu ya koran. Majalah pun belum pakai warna, cover-nya kebanyakan masih kertas koran.” 

Femina hadir membawa konsep berbeda di masa itu: Berwarna, majalah gaya hidup, dan berfokus pada perempuan yang bukan hanya bagian dari keluarga, tapi juga individu merdeka dengan segala kesibukannya.

Proses kreatif Femina juga lahir dari keberanian memulai. Mereka menyusuri lapak loak di Jalan Surabaya (kawasan Menteng, Jakarta Pusat), mencari majalah-majalah bekas dari luar negeri (biasanya bekas bacaan para istri diplomat asing di Indonesia) sebagai referensi, yang kemudian disesuaikan dengan realitas lokal. 

Halaman fashion pun awalnya tanpa pemotretan dengan model profesional. “Model-modelnya, ya, kita-kita aja. Keluarga-keluarga aja,” cerita Widarti sambil tersenyum, mengenang masa-masa awal Femina berjuang. 

Bahkan untuk sampul edisi perdana, para pendiri menampilkan kakak tingkat mereka, yang baru debut sebagai aktris setahun sebelumnya, Tuti Indra Malaon (yang kemudian jadi salah satu aktris ternama Indonesia dan peraih 2 Citra).

Sampul pertama ini ikonik karena membuktikan kalau para pendiri Femina adalah perempuan visioner. Tuti Indra Malaon, yang berpose bersama anaknya, menginterpretasikan sosok Dewi Durga, dan perempuan multitasking—sebuah gambaran nyata perempuan modern Indonesia sekarang.

Perempuan modern namun menghormati tradisi jadi visi para pendiri Femina akan perempuan Indonesia; Widarti Gunawan, Mirta Kartohadiprodjo, dan Atika Makarim. Busana: Ghea Fashion Studio Foto: Hakim Satriyo (akreditasi lengkap foto di akhir artikel)

Lebih dari visual dan gaya hidup, Femina membawa ide besar tentang perempuan mandiri. “Bukan cuma perempuan yang nurut-nurut,” kata Atika. 

“Sejak awal perempuan Femina itu punya pendapat, dan mampu berdiri setara,” Mirta menambahkan. 

Lewat berbagai artikel, hingga kini Femina berusaha relevan dengan zaman dalam menjadi suara bagi perempuan untuk beropini. Selain itu, Femina hadir menegaskan peran pers perempuan dalam peta masyarakat. 

Secara tidak langsung, para pendiri Femina ikut mengubah cara media memandang dan merepresentasikan perempuan, serta membuka ruang partisipasi perempuan dalam dunia pers.

“Media wanita harus punya tujuan, visi, dan misi. Memajukan harkat wanita,” ujar Atika. Pernyataan ini langsung disetujui Mirta dan Widarti”pesan yang terus kami pegang.

Bagi para pendirinya, Femina bukan sekadar majalah. Ia adalah pernyataan sikap bahwa perempuan bukan pelengkap, melainkan penggerak. Dari halaman-halaman awal yang sederhana, Femina menanamkan keyakinan bahwa pers bisa menjadi alat perubahan—dan perempuan adalah pelakunya. (f)

Terima kasih untuk kolaborasi sampul digital ini:
Fotografer: Hakim Satriyo
Stylist: Peter Zewet
Busana foto utama: Puragraph
Busana foto kedua (thumbnail): Ghea Fashion Studio
Aksesori Atika Makarim: Tulola
Makeup & hairdo: Sariayu Martha Tilaar
Desain grafis: Papermint Studio
, Yosef Sulistiantoro

Produser & logistik: Martha Simanjuntak, Ratnasanti Sulistyorini, Bennita Luisa
 

Laili Damayanti


Topic

#HariPersNasional, #PerempuanBersuara

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?