Pameran
Mata Irlandia 2025 Menelusuri Lanskap Sosial dan Budaya dalam 2 Perspektif

21 Mar 2025

Mata Irlandia 2025 dibuka untuk umum hingga 11 April 2025. Foto: Dok. Prefinite Communications


Salah satu cara mengintip kehidupan suatu negeri dan mengenal sosial dan budayanya lebih dekat adalah melalui karya seni dari para seniman lokalnya.

Mengenal lebih dekat Irlandia bisa kita lakukan dengan menyaksikan Mata Irlandia atau Ireland's Eye, sebuah rangkaian pameran seni kontemporer yang menawarkan sebuah pandangan tentang lanskap budaya modern Irlandia kepada masyarakat luas di Indonesia.

Dihadirkan oleh ISA Art and Design bekerja sama dengan Kedutaan Besar Irlandia untuk Indonesia dan PT Jakarta Land, Mata Irlandia telah membawa perspektif seni modern Irlandia ke Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya sejak 2022. Pameran terbarunya digelar di area lobi World Trade Centre 2, Jakarta, dari 17 Maret hingga 11 April 2025.

Dalam episode keempatnya ini, Mata Irlandia kembali memberikan panggung kepada karya-karya seniman baru Irlandia, yang dikurasi oleh seniman Irlandia, Mark Joyce. Karya terpilih dari para seniman ini mempertontonkan esensi dan keanekaragaman seni rupa Irlandia.

Mata Irlandia 2025 menelusuri lanskap sosial dan budaya Irlandia kontemporer, menampilkan karya enam seniman Irlandia—Isobel McCarthy, Olivia Normile, Mary Sullivan, Aaron Sunderland Carey, serta duo Electronic Sheep (Brenda Aherne dan Helen Delany). Melalui karya-karya mereka, pameran ini mengeksplorasi pertentangan antara tradisi dan modernitas serta pengalaman hidup di Irlandia di masa kini—baik dalam konteks urban maupun rural, individu maupun kolektif; dari pulau-pulau terpencil di Atlantik hingga denyut energi kota Dublin.

Sepanjang sejarahnya, Irlandia telah menjadi tanah dengan batas-batas yang berpori—baik secara politik, geografis, maupun psikologis. Sebagai sebuah bangsa yang muncul dari bayang-bayang kolonialisme, Irlandia telah melewati siklus pergolakan, ketahanan, dan penemuan kembali identitasnya.

Para seniman dalam Mata Irlandia 2025 menanggapi sejarah berlapis tersebut melalui beragam medium, mulai dari tekstil dan cetak grafis hingga film, instalasi, dan gambar. Bagaimana masa lalu Irlandia membentuk masa kininya, menghubungkan ingatan, materialitas, dan transformasi dalam era perubahan yang cepat terangkum dalam karya-karya mereka.

Lebih dekat dengan para seniman

Sebagai seniman yang berakar di lanskap pesisir barat daya Irlandia, Mary Sullivan menghadirkan sensibilitas sinematik dalam praktiknya, merangkai pola-pola kehidupan di wilayah pinggiran dengan subtil tetapi mendalam.

Video besutannya, The Fine Line, merefleksikan keberadaan perempuan di pulau-pulau terpencil yang kerap tak terlihat, tetapi menjadi tulang punggung komunitas mereka. Karya Sullivan berbicara tentang sejarah panjang kerja perempuan di Irlandia—generasi ibu, pekerja, dan perawat yang kontribusinya jarang tercatat dalam sejarah resmi.
 
Karya Aaron Sunderland Carey. Foto: Dok. Prefinite Communications

Di pinggiran Dublin, Aaron Sunderland Carey bekerja dengan komunitas marginal yang menghadapi pengabaian sistemik dan siklus kemiskinan yang turun-temurun. Carey memiliki latar belakang pendidikan S2 dalam seni dan aksi sosial. Praktik seninya dalam penggunaan beragam media memantik empati dan pemahaman seputar isu sosial.

Dalam karyanya, Seánachas, Carey berkolaborasi dengan komunitas-komunitas di Ballymun. Karya ini terasa sederhana tetapi menggugah, menangkap perjuangan tak kasatmata orang-orang yang tinggal di Ballymun.

Lain lagi dengan Isobel McCarthy; seniman ini mengeksplorasi lapisan-lapisan ingatan personal dan kolektif, menggali sisa-sisa kehidupan sehari-hari—objek, tekstur, dan ritual domestik—untuk membangun ruang yang berayun antara keintiman dan ketidaklaziman. Aspek kunci dalam karya McCarthy adalah penggunaan hewan sebagai perwakilan hubungan manusia. 

Dengan mengambil sisa-sisa material dari kehidupan sehari-hari dan membawa makna baru kontekstualisasinya, karya McCarthy menyoroti sifat rapuh dan dinamis dari rasa memiliki—bagaimana rumah juga sebuah narasi yang terus-menerus dibangun kembali melalui ingatan, mitos, dan pengalaman hidup.
 
Karya Isobel McCarthy. Foto: Dok. Prefinite Communications

Electronic Sheep (Brenda Aherne dan Helen Delany) adalah duo seniman multidisiplin yang berbasis di London dan Dublin dan memulai kolaborasi kreatif mereka pada 1998 setelah menempuh studi di National College of Art di Dublin. Praktik mereka, yang berakar pada seni bercerita, mencakup lintas generasi dan benua, menjembatani masa lalu dan masa kini Irlandia melalui medium yang telah lama dikaitkan dengan industri dan kerajinan.

Karya terbaru mereka, dikembangkan bersama Kilburn in Motion, merefleksikan diaspora Irlandia di London, khususnya di daerah seperti Kilburn, yang secara historis menjadi rumah bagi generasi pekerja Irlandia.

Lain lagi dengan Olivia Normile, yang mengeksplorasi batas-batas dinamis antara bahasa, komunikasi, dan persepsi, menavigasi ruang-ruang liminal ini melalui medium animasi, instalasi, dan film eksperimental yang menggugah.

Karyanya secara halus menantang dominasi bahasa verbal yang diasumsikan, memilih untuk membangun lingkungan visual imersif di mana makna berkembang melalui kefasihan gestur, kekuatan repetisi, dan permainan ruang yang penuh makna.

Ketika seni jadi saksi

Judul Mata Irlandia atau Ireland’s Eye menawarkan dua perspektif—melalui lensa orang dalam dan orang luar, penduduk asli dan pengamat.

Dalam dunia yang semakin terpecah oleh perpecahan politik, krisis lingkungan, dan percepatan kehidupan digital, pameran ini mempertanyakan apa artinya melihat Irlandia hari ini. Bagaimana lanskap merekam memori? Bagaimana komunitas bertahan dan berubah? Dan bagaimana seni menjadi saksi sekaligus agen perubahan?

Melalui karya dan sudut pandang para seniman ini, Mata Irlandia 2025 mendorong kita untuk merenungkan dari mana kita berasal, di mana kita berada, dan ke mana kita menuju, melalui seni yang tetap berakar kuat pada tempatnya, tetapi terbuka terhadap cakrawala kemungkinan yang terus berkembang. (f)

Baca juga:
Kedutaan Besar Irlandia Menggelar Pameran Seni di Jakarta
Karya Alumni ITB Mendunia bersama Dazzling Wallacea
Europe on Screen Akan Menayangkan 75 Film dari 28 Negara Eropa, Termasuk dari 3 Negara yang Pertama Kali Ikut


Topic

#feminaindonesia

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?