
Dok: Pixabay.com
Benarkah Boros?
Awal tahun ini, IDN Times, sebuah perusahaan media dan hiburan multi platform, meluncurkan Indonesia Millennial Report 2019 untuk memotret pola perilaku, sikap, dan minat masyarakat usia produktif di Indonesia. Salah satunya, tentang perilaku mereka dalam hal keuangan yang terkenal antiribet.
Generasi usia produktif ini suka membawa uang seperlunya, hanya cukup buat makan, nonton, dan parkir. Tapi bukan berarti pengeluaran mereka tidak besar. Dari hasil survei, diketahui bahwa sebenarnya mereka cukup konsumtif dalam menggunakan uangnya.
Dalam hal pengeluaran, mereka juga mengaku lebih boros jika membawa uang cash dalam jumlah besar. Gaya hidup cashless society pun dianggap sebagai solusi dalam hal keuangan. Sehingga pilihannya jatuh pada sistem pembayaran nontunai, mulai dari pembayaran dengan kartu kredit atau kartu debit, hingga transaksi menggunakan sistem teknologi perbankan seperti e-money atau e-wallet.
Banyak manfaat yang dirasakan pengguna e-wallet melalui kemudahan transaksi non-tunai. Salah satunya kita tidak perlu lagi memegang uang tunai dalam jumlah besar karena semuanya bisa dilakukan melalui smartphone. Selain itu, pemantauan arus keluar masuk kas juga lebih mudah karena semua pengeluaran tercatat di histori transaksi.
Achmad Gozali, Perencana Keuangan Independen dari Safir Senduk dan Rekan, cukup positif melihat perubahan perilaku yang mengarah pada cashless society ini. Ia melihat kondisi saat ini sebagai masa transisi, di mana orang tengah menyesuaikan dirinya dengan perubahan dalam menggunakan uang, terutama dalam hal kontrol.
“Dari faktor manusia, perubahan dari cash menjadi cashless ini memang akan terasa ada perbedaan dari sisi kontrol. Selama ini, salah satu faktor kontrol kita kepada uang adalah kebiasaan kita ketika secara fisik memegang atau melihat uang. Secara intuitif merasakan ada uangnya sehingga terasa pula saat uangnya masuk dan keluar. Ketika transaksi menjadi cashless, perasaan itu menjadi tidak ada karena tidak melihat atau memegang saat saldonya berkurang,” ungkap Achmad.
Di masa awal ini, bisa saja seseorang kehilangan kontrol atau tidak sadar berapa berapa banyak uang yang sudah keluar secara cashless. Jadi, kecenderungan untuk boros akan lebih besar. Apalagi ditambah dengan ramainya promo cashback besar-besaran yang bisa menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang menjadi lebih terdorong untuk membeli, walaupun mungkin sebelumnya tidak terlalu merasa perlu untuk beli.
Meski begitu, Achmad cukup yakin kondisi ini hanya akan berlangsung sementara. Sebab lama-kelamaan perasaan ‘pegang uang’ itu akan tergantikan dengan angka saldo yang ada di layar. Begitu pula dengan minat seseorang pada tawaran promo cashback, jika terlalu banyak diskon/cashback, kita justru akan menganggap hal itu sesuatu yang biasa, bukan hal yang luar biasa.
“Lama-lama, kita akan menjadikan cashback atau promo hanya sebagai penentu ‘mau belanja di mana’, bukan lagi ‘mau beli atau nggak’. Misalnya, ketika sudah memutuskan untuk membeli kopi susu, kita tinggal cari saja di mana yang sedang ada promo,” katanya.
Menurut Achmad, ibarat membuat rekening, penawaran untuk e-wallet akan datang dari mana saja. Lantas pertanyaannya, berapa ‘rekening’ yang perlu kita miliki? Faktor penentu kita akan menggunakan sebuah e-wallet atau tidak adalah kemudahan, aksesabilitas, jumlah merchant yang menerima, dan fitur-fitur yang ditawarkan.
Saat pertama membuka satu-dua akun e-wallet, mungkin kita akan rela dengan tawaran promonya. Tapi kalau keduanya sudah aktif dipakai, maka penawaran dari yang ketiga dan seterusnya harus luar biasa menarik. Karena yang aktif pada akhirnya paling 1-2 saja yang dipakai.
Achmad menyarankan agar memanfaatkan e-wallet sebagai post-post keuangan pribadi. “Idealnya e-wallet diibaratkan seperti amplop digital, manfaatkan satu akun e-wallet untuk satu kelompok pengeluaran. Misalnya untuk trasportasi, jajan, dan lainnya,” jelasnya.
Tapi memang bisa saja dalam pelaksanaannya akan sulit, karena ada akun-akun yang spesialisasi di transportasi dan juga konsumsi jajan, seperti GO-PAY dan OVO.
Survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menggambarkan pola perilaku keluarga milenial dalam membelanjakan uang mereka. Faktanya, keluarga milenial di kota-kota besar lebih banyak menghabiskan pendapatan mereka untuk sektor konsumsi. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2017 tentang proporsi pengeluaran bulanan rumah tangga milenial seolah mengamini pelabelan tersebut.
Hasil survei Susenas menunjukkan pengeluaran terbesar para keluarga milenial ada pada sektor konsumsi. Porsi pengeluaran untuk konsumsi ada di angka 60 persen dan terendahnya ada di angka 39,4 persen.
Teknologi memungkinkan seseorang menjadi lebih boros, tapi di lain sisi, teknologi juga memberikan kesempatan lebih bagi para pekerja produktif untuk saving dan investasi lewat financial technology. Bijaklah dalam mengelola keuangan.
“Ada banyak ragam fintech, dari peer to peer landing, hingga nvestasi reksadana dan saham yang sudah bisa dilakukan lewat ponsel. Intinya, lebih banyak pilihan bagi kita untuk berinvestasi, tanpa harus keluar kantor,” katanya.
Yang terpenting menurut Achmad, jangan pernah lupa untuk menerapkan prinsip keuangan pribadi 10-20-30-40, di mana biaya hidup diletakkan terakhir, setelah post investasi, tabungan, dan cicilan hutang.
“Karena sesuatu yang konsumtif kalau ditaruh di awal akan cenderung berlebihan,” tutup Achmad, mengingatkan.
Baca Selanjutnya: Tip Mengatur Keuangan Anda!
Faunda Liswijayanti
Topic
#epayment, #fintech, #ewallet




