Money
Pergeseran Prioritas

11 Apr 2016


Seri gadget terbaru sudah keluar! Menurut review di media, gadget ini memiliki semua spesifikasi canggih yang tidak ada di gadget sebelumnya. Harus punya!
Ada promo tiket pesawat! Harus beli sekarang juga. Kapan lagi bisa ke Jepang dengan harga miring?
Astaga, ada midnight great sale sampai 70% untuk merek tas premium!
           
Ilustrasi di atas tentu sering Anda dengar, Anda temui, atau bahkan Anda alami sendiri. Berbagai tawaran itu terdengar sangat menggiurkan. Apalagi jika ditambahi kata-kata: ‘hanya hari ini’, ‘penawaran terakhir’, ‘persediaan terbatas’,  apa-apa yang tidak terlalu penting pun jadi terlihat dan terdengar urgen! Alhasil, orang mulai merasakan desakan impulsif untuk membeli dan memiliki. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kebutuhan lain, masih bisa menunggu!
“Pengaruh lingkungan dan gaya hidup menggeser prioritas. Teori hierarki kebutuhan Maslow seolah kehilangan relevansinya,” jelas sosiolog dari Universitas Indonesia, Daisy Indira Yasmine. Kebutuhan dasar fisik dan rasa aman yang ada di dua lapisan terbawah piramida, dalam kenyataannya mengalami

penyesuaian definisi. Kepuasan dan rasa aman mereka bukan lagi terukur dari hidup mapan di rumah hasil keringat sendiri, atau memiliki simpanan dana besar di bank. Namun, rasa aman dan kebahagiaan mereka justru tumbuh dari keterhubungan dengan lingkungan sosial mereka dan nilai-nilai yang ada di dalamnya.
Keinginan untuk diterima lingkungan, diakui, dan dipandang sederajat, menjadi kebutuhan urgen di era kehidupan sosial yang serba terkoneksi ini. Tiap orang tidak ingin menjadi yang tertinggal di ‘kawanannya’. Kalau dia bisa pergi ke luar negeri, saya tentu juga bisa. Kalau semua orang setidaknya punya dua atau tiga tas dan sepatu bermerek mahal, kenapa saya tidak?

Menurut Daisy, banyak yang tidak sadar bahwa keputusan-keputusan yang kita ambil sebenarnya bukan keputusan kita pribadi. Tetapi, keputusan yang kita ambil karena kita menjadi bagian dari sebuah masyarakat. “Masalahnya, kelemahan dari masyarakat di perkotaan adalah bahwa nilai-nilai yang terinternalisasi adalah konsumerisme,” jelas Daisy.

Pengaruh kuat lingkungan ini pula yang dirasakan oleh Putri (28). Lama bekerja di media lifestyle, ia sering terpapar gaya hidup kelas atas, di kalangan sosial yang memiliki pemahaman yang tinggi terhadap barang-barang bermerek. “Tanpa sadar saya terbawa arus mengikuti selera high class,” ungkap wanita yang sejak 7 tahun lalu gemar mengoleksi tas-tas dan sepatu mewah dari merek-merek ternama dunia, seperti Celine, Givency, YSL, Tods, Charlotte Olympia, dan Louis Vuitton, ini. Ia rela membayar Rp25 juta untuk sepasang sepatu Louis Vuitton. Apalagi, sekarang, bekerja di dunia humas seolah menjadi pembenaran baginya untuk menghabiskan gaji untuk barang-barang bermerek itu.

“Padahal, saya belum punya rumah dan terpaksa harus membayar Rp10 juta per bulan untuk sewa apartemen di bilangan Casablanca,” ujar Putri, yang kini bekerja sebagai public relations. Baru awal tahun ini, ketika pindah kerja di lingkungan yang tidak begitu memedulikan merek, ia mulai merenung. Ia menyadari bahwa selama ini kegemarannya berbelanja tas dan sepatu bermerek hanya memberikan kepuasan psikologi  sementara. “Ada rasa puas bahwa saya mampu mendapatkan barang yang sangat berharga. Saya merasa menjadi seorang winner. Rasanya saya harus menata ulang perencanaan keuangan lagi,” ujarnya, meyakinkan diri.

Menurut Daisy, banyak orang yang tak sadar bahwa dirinya telah terjebak dalam pola conspicuous consumption dan fetishism. Dalam ranah sosiologi, conspicuous consumption ditunjukkan lewat perilaku konsumtif seseorang yang hanya membeli barang-barang mewah hanya untuk pamer kekayaan dan besar pendapatan, bukan karena memang benar-benar membutuhkan. Sementara fetishism merupakan fanatisme seseorang terhadap sesuatu atau merek tertentu, termasuk di dalamnya kegemaran atau hobi.

Namun, yang mengkhawatirkan adalah bahwa gaya hidup konsumerisme ini juga terjadi lintas kelas. Kita tidak bisa lagi bilang ini gaya hidup kelas atas, atau bawah. “Meski resource mereka tidak mencukupi, mereka yang berada di kelas menengah ke bawah akan berusaha meraih mimpi-mimpi yang banyak disajikan oleh bermacam dunia industri,” ungkap Daisy. Alhasil, tidak sedikit yang kemudian menghalalkan segala cara, melakukan tindak kejahatan, untuk bisa memenuhi kebutuhan self esteem ini.

“Kita harus belajar menjadi konsumen yang cerdas. Bisa memilah mana yang kita butuhkan, mana yang hanya karena dorongan impulsif atau ikut-ikutan saja. Harus punya kontrol ini,” ujar Daisy. Namun, di sisi lain, juga harus ada kontrol dari masyarakat, institusi pendidikan, keluarga, dan pemerintah. Keluarga dan pendidikan adalah agen-agen sosialisasi terhadap penanaman nilai-nilai yang baik. (f)
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?