
Orang Indonesia adalah salah satu yang paling optimistis di dunia. Hasil survei yang dirilis oleh Yougov pada Februari 2016 menempatkan Indonesia di peringkat dua (23%) setelah Cina (41%). Selama bisa menjadi optimisme, maka segala sesuatunya akan menjadi baik di kemudian hari.
“What you think so it will be,” ungkap psikolog dari Universitas Tarumanegara, Monty Satiadarma, saat mengutip konsep positivist dalam ranah psikologi yang dikenal dengan istilah efek pygmalion. Akan sangat baik jika ini mendorong seseorang untuk lebih fokus dan lebih baik dalam merencanakan hidupnya. Tetapi, akan kurang baik dampaknya, jika fakta ini justru membuat orang jadi terlena. Sebab, secara negatif efek pygmalion juga menimbulkan bias optimisme.
Pada kondisi ini orang terlalu optimistis dengan kemampuan dirinya, karena sementara ini mereka tercukupi kebutuhannya. Mereka tidak waspada bahwa cadangan persediaan bisa memudar dan berkurang secara bertahap maupun mendadak. “Mereka tidak mengantisipasi hal ini,” ujarnya.
Seperti cerita Sandra (*bukan nama sebenarnya) yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif demi diterima dan menjadi sama dengan lingkungannya. “Saya harus mengimbangi penampilan rekan-rekan kerja saya,” ucap wanita perantauan asal Cimahi, Jawa Barat, ini, tentang ‘gegar budaya’ yang dialaminya saat bekerja sebagai asisten manajer berkebangsaan asing di hotel bintang 5 Jakarta.
Penghasilannya selalu dibelanjakan hingga ludes, sehingga ia tak punya tabungan. Ia mengaku tidak pernah kepikiran tentang kebutuhan masa depan. Setelah menikah, ia terpaksa menumpang di rumah mertua. Kehidupannya makin terpuruk setelah ia harus berpindah kerja dengan gaji hanya 30% dari pendapatan semula.
Celakanya, ia tetap hidup dengan pola konsumtif yang sama. Ia bahkan mengaku memiliki 13 kartu kredit dari bank berbeda untuk mendukung gaya hidupnya yang hedon. Dengan bunga sangat tinggi, alhasil utang kartu kreditnya menumpuk hingga Rp300 juta! Rumah peninggalan ayahnya terpaksa dijual untuk membayar utang kartu kredit. Ia bahkan tidak punya dana sekolah untuk kedua anaknya yang masih berusia 7 dan 4 tahun. “Beruntung ada sekolah negeri yang membebaskan biaya sekolah,” ujarnya.
Menurut Monty, fenomena bias optimisme ini tidak hanya terjadi di masyarakat urban, akan tetapi kondisi urban lebih membuka peluang tersebut. Misalnya, dengan tersedianya kartu kredit, layanan hiburan, pemanfaatan teknologi modern, dan tersedianya fasilitas penunjang kesenangan (pleasure).
Citra modern urban direfleksikan ke dalam simbol kebendaan, seperti teknologi komunikasi, barang-barang fashion bermerek, atau berlibur ke luar negeri. “Kondisi ini membuat individu hilang waspada, dan menggunakan kemampuan dan usahanya untuk hal-hal yang lebih bersifat trivial ketimbang yang primer atau necessary,” jelas Monty. (f)


