Money
Millennial dan Jebakan Hiperealitas di Media Sosial, Pantaskah Disebut Generasi Halu?

2 Nov 2017



Psikolog Roslina Verauli menekankan perlunya memandang persoalan belanja si generasi millennial dengan lebih hati-hati. “Kita tidak boleh menghakimi dan menggeneralisasi hanya berdasarkan data survei semata.”

Sebab, menurut Roslina, tidak banyak dari studi tersebut yang melibatkan kompetensi psikolog untuk melihat jawaban di balik data atau fenomena yang terekam. “Saya takut survei-survei ini terlalu dini untuk membuat kesimpulan. Bahwa sebenarnya ini hanyalah masalah perbedaan perilaku akibat faktor psikologis lintas usia, dan bukan generasi,” Roslina melanjutkan.

Ia mengatakan bahwa di usia 20-an, secara psikologis para dewasa muda ini sedang merayakan kebebasan finansial mereka. Di kondisi budaya Indonesia, di usia tersebut mereka telah mandiri secara finansial, tapi kebanyakan masih hidup dengan fasilitas orang tua, apakah itu tempat tinggal, makan, atau transportasi.

Kondisi inilah yang mendorong mereka untuk membelanjakan uangnya secara lebih bebas. Sehingga, pengeluaran pun bengkak. “Dalam tahapan ini, apa yang dialami oleh generasi millennial sekarang pun, juga dialami oleh generasi-generasi sebelumnya di eranya,” jelas Roslina.

Ia melihat bahwa prinsip YOLO pun bukan dominasi generasi millennial saja. Mereka yang tumbuh di era flower generation juga mengadopsi konsep hidup yang sama. Menurutnya, yang menjadi garis dasar dan pembeda terhadap perilaku belanja ini adalah karakter dari masing-masing pribadi.

Mereka yang mudah terseret arus besar daya tarik media sosial biasanya adalah mereka yang memiliki masalah konsep diri di usia perkembangan psikologisnya. “Jadi, bukan masalah perbedaan generasi,” tekan Roslina lagi.

Seseorang yang memiliki konsep diri yang benar dan mengalami tahapan perkembangan psikososial yang normal akan memakai media sosial sebagai justifikasi dan afirmasi dari dirinya yang sesungguhnya, atau true self.

“Namun, pada individu yang penghayatan dirinya masih negatif, media sosial menjadi cara atau alat untuk membangun konsep ideal tentang diri, bahwa dirinya sebaik apa yang ia harapkan. Di sinilah media sosial berubah peran menjadi alter-ego.

Dampaknya adalah jebakan hiper-realitas. “Penghayatan diri dengan versi terbaik terjadi saat seseorang tahu bahwa ia punya kelemahan dan kelebihan. Sisi kuat dalam dirinya ini yang kemudian dia pakai untuk mengembangkan diri lebih baik lagi,” ujar Roslina.

Bagaimanapun, penghayatan yang positif tentang diri ini tidak terjadi secara instan, tapi melalui proses. Bahkan, terkadang dibutuhkan bantuan ahli, seperti psikolog. Namun, tiap orang bisa mengawalinya dengan membenahi gaya hidup, dan menjaga agar inferioritas atau perasaan diri kecil terkompensasi dengan cara yang benar. Apakah itu dalam bentuk prestasi, kepedulian sosial yang berdampak positif bagi orang-orang di sekelilingnya.

“Sebab, ada banyak millennial yang tidak termasuk generasi ‘halu’ dan berkontribusi positif terhadap lingkungannya. Tidak perlu takut terlibas oleh zaman. Selama kita memiliki konsep diri yang positif, kita akan survive,” kata Roslina. (f)
 


Topic

#gadget, #mediasosial, #millennial

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?