Money
Djalin, Identitas Indonesia dalam Desain Furniture Modern

1 Aug 2021


Foto: Dok. Djalin


Pengalaman tinggal di luar negeri membuat Sita Fitriana, Co-Founder dan Design Director Djalin, tergelitik untuk terjun ke dalam bisnis furniture. Saat itu ia melihat banyak sekali merek terkenal yang sangat bagus dengan harga mencapai ribuan dollar ternyata dibuat di Indonesia. Sebagai desainer interior Sita merasa tergugah. Ia ingin Indonesia tak hanya dikenal sebagai negara manufacturing, tapi juga memiliki desainer yang diakui.   

Mimpi tersebut berusaha ia wujudkan dengan bergabung dalam bisnis keluarga dan mendirikan Djalin pada tahun 2015. Mereka membawa misi ingin mengkolaborasikan pengrajin Indonesia dengan desainer Indonesia. Lewat kerjasama yang baik diharapkan ini dapat meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal yang bekerja sama dengan Djalin. 

Tak hanya itu, mereka juga berusaha senantiasa mengedepankan produksi yang ramah lingkungan dan memberi kualitas produk dengan desain terbaik, sehingga bisa menjadi merek yang diakui secara global. 

“Djalin hadir sebetulnya untuk menghadirkan unsur desain modern kemudian memberikan identitas Indonesia di setiap karya yang kami buat. Djalin ingin menjadi sebuah perusahaan atau new generation of Indonesian quality of modern contemporary design. Dari misi itu Djalin dibuat dengan tujuan utama ingin memperkenalkan kualitas produk kerajinan Indonesia secara global,“ ujar Sita dalam webinar Bincang UKM Sesi 3, UKM Siap Ekspor, bertema Desain Produk yang Disukai Pasar Global. Webinar ini merupakan kolaborasi Wanita Wirausaha Femina dengan Facebook #shemeansbusiness dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia tahun 2021 yang memasuki angkatan ke 3

Dari misi tersebut mereka berkomitmen bahwa setiap koleksi yang mereka buat tiap tahunnya harus ada unsur kebudayaan dan kekayaan alam dari Indonesia. Mereka ingin menceritakan, di belakang semua produksi mereka tentang apa Indonesia, siapa Indonesia, apa kekayaan yang dipunyai Indonesia. Yogyakarta menginspirasi Djalin menciptakan koleksi Keraton, sementara Sumatera menginspirasi lahirnya Sabai collection.

“Saya sebetulnya menggabungkan antara identitas Djalin yang berakar dari Indonesia yaitu ada teknik anyaman, material yang asli dari Indonesia, dan kualitas kerajinan craftsmanship. Itu yang menjadi unique selling point yang kami kedepankan sebagai core dari Djalin.”

Gaya anyaman, bentuk arsitektural, kombinasi konsep keberagaman hayati dan budaya dari daerah atau nama yang diambil selalu memakai inspirasi dari Indonesia, karena itu identitas Djalin. 

“Konsep identitas tersebut, kita gabungkan dengan desain yang ergonomis, dengan hasil riset kondisi tren dunia,
fashion, isu sosial, arsitektural, dan inspirasi desain dari para desainer interior, desainer produk dan arsitek seluruh dunia,” ungkap Sita.

Sehingga lahir harmonisasi desain yang modern dan unsur kontemporer dari ciri khas tradisi kerajinan asli Indonesia. Dengan demikian diharapkan produk Djalin bisa diterima oleh pasar global dengan tetap mengedepankan desain yang original dan identitas Indonesia di dalamnya.

Sejak awal mereka sudah mengincar baik pasar lokal maupun internasional. Djalin bekerja sama dengan pengrajin yang sudah terbiasa melakukan ekspor. Sita ingin merek Djalin tak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga secara global, karena komitmen mereka untuk tidak hanya membawa nama Djalin, tapi juga nama Indonesia dan desainer Indonesia agar bisa diakui di dunia internasional. 

Untuk menyatukan idealitas dan identitas desainer dengan selera pasar, Djalin selalu melakukan riset untuk mengenali tren dan pasar yang dituju. Saat ini pasar terbanyak mereka berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. 

Salah satu koleksi tahun 2017 mereka, Merapi Lounge Chair berhasil memenangkan penghargaan sebagai produk baru terbaik dalam kategori karya kerajinan furnitur dalam NYNow 2019. “Sebelum membuat Merapi Lounge Chair, yang pertama dilakukan adalah mengenal market yang kami tuju, dengan melakukan riset. Siapa target market kami, apa yang mereka butuhkan, bagaimana strategi
pricing, dan lain sebagainya.”

Harga produk Djalin bagi pasar lokal termasuk kelas premium, karena itu demi meraih pasar kelas menengah, tahun ini mereka membuat
sub brand, dengan nama Kias. “Merek ini ditujukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih youthful, fun, dengan harga yang lebih terjangkau.

Untuk penjualan furnitur secara global, bagi Djalin, kontak langsung dengan pembeli yang sebelumnya dikenal melalui pameran-pameran memiliki pengaruh sangat besar. Namun bukan berarti Djalin tidak memiliki strategi digital marketing. “Website dan Instagram juga memengaruhi terutama untuk pasar lokal,” tutup Sita. (f)


Baca Juga: 

Strategi Tas Kulit Rorokenes Menembus Pasar Ekspor
Perjalanan Tehdia dari Parahyangan Menuju Amerika Serikat


 



Topic

#bisnis, #shemeansbusiness, #bincangukm, #Facebook, #ukmsiapekspor, #ekspor

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?