Lifestyle
Ruang untuk Koneksi Jiwa Lebih Dalam dan Bermakna Bersama onlights

31 Mar 2026

Shahnaz Soehartono (kedua dari kanan). Foto: Dok. onlights


Di banyak kota besar di dunia, saat ini manusia hidup semakin berdekatan satu sama lain. Namun di saat yang sama, semakin banyak orang yang merasa sendirian.

Secara global, hampir satu dari enam orang mengatakan mengalami kesepian. Hal ini menjadi sebuah isu kesehatan yang semakin mendapat perhatian karena berdampak pada kesehatan mental maupun fisik. 

Selain itu, budaya kerja modern terus menekan kita, setiap orang dituntut memiliki keseimbangan emosional. Berbagai studi menunjukkan bahwa hingga 85% pekerja mengalami gejala burnout, mulai dari kelelahan kronis hingga kelelahan emosional.

Bahkan di dalam lingkungan kerja dan jaringan digital yang menjanjikan koneksi dan lingkungan kerja lebih baik, satu dari lima karyawan di dunia mengaku merasa kesepian saat ini dibandingkan beberapa waktu lalu. Hal ini menunjukkan adanya jarak makin lebar antara kedekatan secara fisik dan koneksi manusia yang benar-benar bermakna.

Berangkat dari kegelisahan ini, Shahnaz Soehartono (Pemenang I Wajah Femina 2009) bersama Christa Linggar (Art Director) dan Michelle Kusuma (Business Development) menghadirkan onlights, sebuah platform digital dan komunitas yang berfokus pada refleksi diri dan dialog kolektif.

Diluncurkan dengan filosofi onlights, radiate from within, platform ini hadir di tengah realitas kehidupan urban modern, ketika banyak orang menghadapi tekanan hidup di kota besar.

Mereka sulit menyeimbangkan tuntutan karier yang tinggi, perhatian yang terpecah, serta rasa disconnect yang semakin terasa dari diri sendiri, dari alam, dan dari sesama manusia. 

Meski kehidupan urban menawarkan peluang dan kecepatan, sering kali sang individu terus mencari rasa pijakan, makna, dan rasa memiliki. Di sinilah onlights hadir sebagai respons terhadap kondisi yang dirasakan bersama ini.

Ruang untuk diskusi

Platform ini menghadirkan berbagai konten reflektif yang disajikan untuk memperlambat ritme percakapan dan membuka ruang bagi pemikiran yang lebih dalam. 

Audiens onlights diajak untuk berhenti sejenak dan berpikir, lewat dialog panjang dengan para healer, terapis, praktisi spiritual, dan pakar wellness, dalam topik seperti menumbuhkan ketahanan emosional, praktik penyembuhan, kesadaran diri, hubungan antarmanusia, serta proses transformasi batin dan spiritual.

Manusia modern rindu koneksi yang nyata. Foto ilustrasi: Dok. onlights

Ada pula episode solo reflektif yang mengeksplorasi tema-tema yang relate saat ini, yakni menemukan makna sebagai orang tua, belajar mencintai diri sendiri, menyeimbangkan pikiran, tubuh, dan jiwa, serta mengintegrasikan pertumbuhan pribadi dengan tanggung jawab kehidupan sehari-hari.

Selain itu, onlights menerbitkan esai dan artikel in-depth dari penulis dan tokoh-tokoh terkenal di industri wellness yang menggali pemikiran filosofis, wawasan psikologis, simbolisme mimpi, serta pertanyaan-pertanyaan mendalam yang sering kali terlewat dalam ruang digital yang serba cepat.

Melalui berbagai format ini, onlights berupaya menciptakan sebuah ekosistem konten yang mendorong introspeksi, sekaligus tetap berakar pada pengalaman manusia sehari-hari.

Kerinduan akan komunitas yang akrab

Selain sebagai platform digital, onlights memperkenalkan The Light Club, sebuah klub storytelling untuk mempertemukan orang-orang dalam ruang yang lebih intim dan penuh kesadaran.

The Light Club berangkat dari premis sederhana namun kuat: Bercerita adalah salah satu bentuk koneksi tertua dalam sejarah manusia. Kita bisa menyembuhkan dan disembuhkan lewat cerita.

Dalam setiap pertemuan, para peserta diundang untuk membagikan cerita personal dalam ruang yang didedikasikan untuk mendengar dengan penuh perhatian. Fokusnya bukan pada performa atau memberi nasihat, melainkan pada witnessing—untuk didengar dan ditampung bersama dalam sebuah komunitas.

Di tengah interaksi dengan mediasi layar dan identitas terkurasi, The Light Club berupaya mengembalikan koneksi autentik dan kehadiran yang nyata.

Merespons tantangan kehidupan modern

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa isolasi sosial secara global meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sehingga makin banyak yang butuh dukungan sosial yang dekat dan hubungan yang bermakna.

Saat acara peluncuran onlights dan perkenalan The Light Club. Foto: Dok. onlights

Budaya kerja modern semakin mengaburkan batas antara kehidupan profesional dan personal, membuat keseimbangan hidup semakin sulit dijaga.

Ketika semakin banyak orang bergulat dengan burnout, tekanan kehidupan urban, dan pencarian keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, ruang untuk dialog yang bermakna dan refleksi komunal menjadi semakin penting.

Kelahiran onlights mencerminkan pergeseran budaya lebih luas, dan onlights berupaya menjadi bagian dari perubahan ini dengan menghadirkan konten dan pertemuan yang mengajak individu untuk berhenti sejenak, kembali terhubung dengan diri sendiri, dan mengingat kembali pentingnya berbagi pengalaman.

Kita memang bergerak di dunia yang begitu cepat, tapi kita juga butuh untuk berkumpul, mendengar, dan merefleksikan kehidupan dalam koneksi yang nyata. (f)

Baca juga: 
Finding the Light in Me, Perjalanan Mencari Jati Diri Shahnaz Soehartono
Bagi 31% Singles, Tuntutan untuk Menikah, Lebih Besar Datang dari Masyarakat Dibanding Keluarga
Buat Hidup Lebih Bahagia, Ini 5 Cara Mencintai Diri Sendiri

 

Bennita Luisa


Topic

#feminaindonesia, #wajahfemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?