Career
6 Mitos dalam Pekerjaan

11 Nov 2013

Tanpa sadar kita selalu membaca artikel soal karier yang (dipercaya) bisa menambah wawasan dan skill. Apalagi saat akan menghadapi rapat penting, kita bakal langsung googling: how to nail a presentation. Tapi… jangan terlalu percaya pada semua tip yang pernah kita temukan. Kadang beberapa di antaranya cuma mitos belaka!

#1 Dress to impress

Banyak yang bilang penampilan ikut menunjang karier sehingga muncullah istilah dress to impress. Sayang, bukan bos, rekan kerja, atau klien yang harus kita beri impresi. Pasalnya kunci berpakaian di kantor yang tepat adalah terlihat profesional sesuai bidang pekerjaan dan nyaman.

Jadi, baju paling trendi yang pas buat pekerja kreatif tentunya kurang cocok bila kita bekerja di bank. Apalagi nggak semua orang punya bujet khusus untuk selalu memperbarui koleksi baju kerja, kan.

“Kalau mau aman berpakaianlah mengikuti 70%-90% gaya orang di lingkungan kerja kita. Silakan beli pakaian yang mahal asal sesuai kemampuan, meski jumlahnya hanya segelintir dibanding koleksi baju kerja kita,” kata Robert Phipps, body language expert.

Dressed up ke kantor bukan berarti meninggalkan gaya pribadi kita. Cari tahu gaya yang membuat kita terlihat profesional sekaligus meningkatkan kadar pede, kemudian coret fashion items yang justru membunuh karier.

#2 Klien selalu benar
Kalau dipikir-pikir lagi, sih, klien juga bisa membuat kesalahan. Tapi, demi kepentingan perusahaan, kita diharapkan mengalah dan ‘menyetujui’ bahwa dia benar. Eits, kebiasaan ini hanya membuatnya besar kepala plus (semakin) semena-mena terhadap kita.

“Klien atau pelanggan tidak selalu benar, tapi mereka akan selalu jadi pelanggan dan klien kita. Dengan kata lain, nih, meski mereka salah, mereka harus tetap mendapat respek dan pertimbangan kita,” tegas Mary Nestor-Harper, konsultan karier sekaligus penulis di Beyond.com.

Seandainya klien berpaling kepada kompetitor karena tidak puas terhadap ‘pelayanan’ kita, bukan berarti kita yang harus disalahkan. Mary menambahkan bahwa karyawan—yap, kita!—merupakan klien internal bagi perusahaan. Baik atau buruk, kitalah klien yang paling loyal. Toh, selama 9-to-5 kita siap memberikan yang terbaik bagi perusahaan.

#3 Lembur meningkatkan produktivitas
Salah total! Kualitas dari lembur yang harus digarisbawahi, bukan kuantitasnya. Semakin sering lembur, semakin banyak orang menilai kita tidak bisa mengatur waktu di kantor. Kerugian lain? Waktu kita untuk bersosialisasi pun terbatas.

Menurut Annie Perrin dari The Energy Project, manusia butuh istirahat untuk meningkatkan produktivitasnya. “Setiap 90 menit sekali, kita harus melakukan sesuatu buat me-recharge energi yang terpakai saat bekerja. Setelah itu kita kembali bekerja selama 90 menit ke depan.”

Annie menyarankan agar kita mengisi waktu break dengan mencari camilan sehat, jalan-jalan sebentar, mendengarkan musik, atau sekadar menutup mata dan mengambil napas dalam. Tanpa terasa, nih, pekerjaan kita akan selesai satu per satu sebelum jam kantor berakhir.

Baca selengkapnya di Cita Cinta Terbaru No. 23 yaa...


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?