Health & Diet
Udara Kotor Bahaya Nyata Polusi dan Asap Rokok Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

11 Oct 2025

Ibu hamil berjalan di jalanan berpolusi, simbol bahaya partikel halus yang dapat memengaruhi tumbuh kembang janin.Biarkan anak-anak tumbuh di udara bebas polusi. Foto ilustrasi: Canva


Polusi udara dan asap rokok kini menjadi dua ancaman yang perlahan tapi pasti merusak masa depan anak-anak Indonesia.

Dari gangguan pernapasan hingga risiko stunting dan penurunan fungsi otak, dampaknya tak hanya terasa hari ini, tapi juga dapat membekas hingga mereka dewasa.

Para dokter anak Indonesia pun mengingatkan, udara kotor bukan lagi isu lingkungan semata, melainkan darurat kesehatan yang menuntut perhatian serius dari semua pihak—terutama karena efeknya sudah dimulai sejak masa kehamilan.
 

Polusi dan asap rokok, bahaya yang dianggap sepele

Polusi udara kini sudah jadi masalah nyata yang mengintai setiap napas, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil. Dalam seminar media daring (9 Oktober 2025) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bertajuk Dampak Polusi Udara dan Asap Rokok terhadap Perkembangan Anak, para dokter anak sepakat bahwa situasi ini sudah masuk tahap darurat kesehatan.

Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), mengatakan bahwa dampak polusi udara dan paparan asap rokok sering kali tidak disadari.

“Kita sering menganggap sepele karena efeknya tidak langsung terlihat. Padahal, dalam jangka panjang, polusi dan asap rokok bisa merusak masa depan generasi kita,” ujarnya.

Menurut dr. Piprim, paparan polusi bisa memicu berbagai penyakit seperti asma, infeksi saluran napas berulang, hingga penyakit paru kronik. Bahkan, pada ibu hamil, racun dalam asap rokok bisa menembus ke janin dan menyebabkan berat badan lahir rendah atau bayi lahir prematur. “Padahal, kita sedang berjuang menekan angka stunting, tapi polusi dan asap rokok justru memperburuk situasi.”

Data dari WHO menyebut hampir seluruh penduduk Indonesia hidup di daerah dengan kualitas udara di bawah standar sehat. Tak heran jika dampaknya paling terasa pada kelompok yang paling rentan—anak-anak. 

Menurut dr. Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp.Resp(K), anggota UKK Respirologi IDAI, anak-anak lebih mudah terpapar karena mereka bernapas lebih cepat dan banyak dibandingkan orang dewasa.

“Anak bernapas dua hingga tiga kali lebih banyak, tingginya juga lebih pendek, jadi posisi tubuhnya lebih dekat ke sumber polusi, seperti knalpot kendaraan,” jelasnya.
 

Dampaknya tidak main-main

Polusi udara dan asap rokok bukan cuma bikin batuk atau pilek. Dampaknya jauh lebih dalam dan bisa memengaruhi tumbuh kembang anak, bahkan sejak masih dalam kandungan.

Salah satu penelitian di Harvard University menemukan fakta bahwa anak dari ibu perokok aktif bisa lebih pendek hampir satu sentimeter dibanding anak dari ibu non-perokok. Penelitian besar di Tiongkok yang melibatkan lebih dari 40 ribu anak juga menunjukkan hubungan antara lamanya paparan asap rokok dengan risiko stunting.

“Semakin lama anak terpapar asap rokok, semakin tinggi risikonya mengalami gangguan pertumbuhan,” kata dr. Cynthia.

Penelitian di Indonesia juga menunjukkan hal serupa. peneliti dari RSCM, menemukan bahwa ibu hamil yang merokok memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi prematur, mengalami komplikasi, dan gangguan perkembangan.

Dampak polusi udara juga menyentuh sisi perkembangan otak. Zat polutan seperti PM2,5 yang ukurannya sangat kecil bisa masuk hingga ke aliran darah dan menembus sawar otak. Efeknya bisa menyebabkan gangguan saraf dan stres oksidatif yang berpengaruh pada fungsi kognitif.

“Beberapa penelitian bahkan menunjukkan hubungan antara paparan polusi udara dengan risiko autisme (ASD) dan ADHD pada anak,” ujar dr. Cynthia.

Studi internasional menunjukkan bahwa ibu hamil yang tinggal di dekat jalan raya dengan tingkat polusi tinggi memiliki kemungkinan dua kali lipat melahirkan anak dengan gangguan spektrum autisme.

Tidak hanya itu, anak yang tumbuh di lingkungan dengan udara kotor juga berisiko mengalami gangguan konsentrasi, sulit belajar, hingga depresi saat remaja. “Kalau kita biarkan, anak-anak kita tumbuh dengan paru-paru yang lebih lemah dan otak yang lebih mudah lelah,” dr. Piprim menegaskan.
 

Langkah kecil, dampak besar

Meski terdengar menakutkan, dampak polusi dan asap rokok masih bisa dikurangi dengan banyak hal. Salah satunya dengan menggunakan masker berkualitas (seperti N95) saat udara buruk, serta memantau indeks kualitas udara (AQI) sebelum beraktivitas di luar ruangan.

Bagi orang tua perokok, hindari paparan asap rokok di rumah sepenuhnya. Banyak orang berpikir merokok di jendela atau balkon aman, padahal sisa partikel asap (third-hand smoke) tetap menempel di baju, sofa, dan perabot rumah. Itu bisa terhirup kembali oleh anak tanpa disadari.

Selain itu, dr. Cynthia menyarankan penggunaan air purifier dengan filter HEPA di rumah, terutama bagi keluarga yang tinggal di kota besar. “Air purifier memang tidak bisa menggantikan udara segar, tapi cukup membantu mengurangi partikel halus di udara dalam ruangan.” 

Selain perlindungan pribadi, penting juga mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada kualitas udara, seperti pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil dan perluasan ruang hijau.

“Polusi udara dan asap rokok bukan cuma masalah individu, tapi tanggung jawab kita bersama. Setiap langkah kecil, seperti tidak merokok di rumah, bisa berarti besar untuk paru-paru kecil anak-anak kita,” kata dr. Cynthia.

Udara bersih adalah hak setiap anak. Mari mulai dari hal sederhana—jauhkan asap rokok dari rumah, pantau kualitas udara sebelum beraktivitas, dan dukung kebijakan lingkungan yang lebih sehat. Napas bersih hari ini adalah investasi untuk masa depan mereka.

Baca juga:
Hadapi Alergi Tanpa Cemas, Bekali Anak Aturan yang Jelas
Yayasan Jantung Indonesia Gelar Kampanye Lawan Hipertensi, Silent Killer yang Mengancam Segala Usia
Tidur Nyenyak Bikin Anak Tumbuh Optimal?

 

Laili Damayanti


Topic

#UdaraBersihUntukAnak, #StopAsapRokok

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?