Family
Hadapi Alergi Tanpa Cemas, Bekali Anak Aturan yang Jelas

18 Sep 2025

Orang tua perlu memberi edukasi alergi pada anak dengan penuh cinta dan berkomunikasi secara positifAnak dengan alergi tetap bisa mencoba berbagai makanan. Foto ilustrasi: Canva


Sahabat Femina dengan anak dalam masa tumbuh kembang mungkin tahu bahwa memiliki anak dengan alergi bukanlah hal mudah. Apalagi jika efek dari alerginya cukup parah.

Kekhawatiran kerap muncul, terutama saat anak mulai bersekolah dan bersosialisasi. Risiko terpapar makanan atau lingkungan yang bisa memicu alergi tentu membuat kita sebagai orang tua merasa was-was.

Namun, yang terpenting bukan hanya menjaga, melainkan juga membekali anak dengan pengetahuan yang tepat agar mereka mampu melindungi dirinya sendiri.

“Kualitas hidup anak dengan alergi bisa menurun karena adanya pembatasan diet, kesulitan makan di restoran, hingga keterbatasan mengikuti aktivitas bersama teman. Hal ini berpotensi mengganggu pertumbuhan,” ujar dr. Endah Citraresmi, Sp.A, Subsp.A.Im(K), dokter spesialis anak sekaligus anggota Bidang Ilmiah UKK Alergi Imunologi IDAI, dalam Seminar Media daring dengan topik Mengenali dan Mengatasi Alergi Makanan pada Anak yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) beberapa waktu lalu.

Meski begitu, Endah menegaskan bahwa anak tetap bisa bahagia, aktif, dan sehat jika orang tua mampu menyampaikan kondisi alergi dengan cara yang menenangkan dan membangun rasa percaya diri.

Ekspresi positif sangat berpengaruh

Anak mudah membaca emosi orang di sekitarnya. Senyum, nada bicara yang ceria, serta sikap tenang dapat membantu mereka menerima informasi tanpa rasa takut.

Kalimat sederhana seperti, “Ada beberapa makanan yang tidak cocok untuk tubuhmu, tapi itu tidak apa-apa. Kita bisa mencari pilihan lain yang tetap sehat dan enak,” bisa bikin anak merasa lebih aman.
 

Bahasa ringan, pesan lebih mudah dipahami

Istilah medis sering kali membingungkan, apalagi untuk anak kecil. Menggunakan perumpamaan sederhana jauh lebih efektif.

Daripada berkata, “Tubuh mengalami reaksi alergi karena sistem imun terlalu sensitif” lebih baik katakan, “Tubuh punya pasukan khusus yang kuat, tapi pasukan itu kurang suka dengan makanan tertentu. Supaya tetap sehat, makanan itu perlu kamu hindari.”

Dengan analogi seperti ini, anak lebih cepat memahami tanpa merasa terbebani.
 

Latihan menolak dengan percaya diri

Membekali anak dengan kalimat penolakan yang sopan tetapi tegas sangat penting.

Beberapa contoh:
“Terima kasih, aku punya alergi.”
“Aku hanya boleh makan makanan dari orang tuaku.”

Melalui latihan berulang, anak akan terbiasa menjaga dirinya sendiri dan merasa bangga atas kemampuan tersebut.
 

Libatkan anak dalam proses sehari-hari

Mengajak anak mengenal obat-obatan, memilih makanan aman di supermarket, atau menyiapkan bekal sekolah memberi mereka rasa kontrol atas tubuhnya sendiri. Perlahan, alergi tidak lagi dipandang sebagai kelemahan, melainkan bagian dari keseharian yang bisa diatasi.
 

Alergi sebagai kesempatan belajar

Dengan pendampingan yang penuh empati, anak akan memahami bahwa alergi bukan penghalang untuk tumbuh sehat dan bahagia. Justru melalui kondisi ini, anak belajar untuk lebih sadar akan kesehatan, mandiri, serta tangguh menghadapi tantangan hidup.

“Anak dengan alergi bisa tetap aktif, ceria, dan mencapai tumbuh kembang optimal. Kuncinya ada pada pemahaman, komunikasi, serta dukungan penuh dari keluarga,” kata dr. Endah.

Memahami alergi pada anak bukan hanya soal menjaga pantangan, tetapi juga tentang membangun rasa percaya diri dan kemandirian sejak dini.

Dengan komunikasi yang hangat, bahasa sederhana, dan pendampingan penuh kasih, alergi tidak lagi menjadi penghalang, melainkan bagian dari proses tumbuh kembang yang justru memperkuat karakter anak.

Baca juga:
Tertawa Bikin Paru-paru Lebih Sehat? Ini Fakta Medisnya!
7 Tip Simpel Hidup Lebih Sehat, Nomor 5 Sering Diabaikan
Oculoplast Kembalikan Fungsi dan Tingkatkan Kualitas Hidup

 

Ghina Athaya


Topic

#AlergiAnak , #ParentingTips , #KesehatanKeluarga

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?