
Foto: Fotosearch
Hati-hati, sikap impulsif tidak hanya melanda saat Anda melihat tanda ‘sale’ itu terpampang di toko sepatu kesayangan, tetapi juga saat memutuskan jumlah makanan yang harus disantap untuk berbuka puasa. Rasa yang enak pun dipastikan menjadi pertimbangan utama. Jenis yang tepat? Tunggu dulu, Anda pasti sudah terburu-buru ke kantor dan berseru, “Tak ada waktuuu…”
Bisa jadi, saat sahur pun, lagi-lagi chicken wing beku atau dadar telur yang jadi andalan. Sebagian berdalih merasa tidak sehebat chef yang bisa meracik sebuah jamuan dalam sekejap, sebagian lagi karena tidak mau dipusingkan dengan urusan dapur, apalagi di saat harus bangun lebih awal dari biasanya.
Berbeda dari Biasanya
‘Rumus matematika’ yang kerap mampir di kepala saat harus menentukan hidangan untuk sahur adalah jumlah porsi yang besar supaya tubuh mempunyai cukup suplai energi hingga saat berbuka tiba. Penginnya, sih, bisa bikin kenyang sepanjang hari!
Namun, sering kali, karena masih mengantuk membuat Anda justru tidak memiliki nafsu makan selahap biasanya. Saat pukul 12 siang tiba, perut melakukan ‘orkestra’ yang khas, dan hati membatin mengapa saat sahur tadi Anda tidak melahap porsi nasi lebih banyak lagi.
Sedang membaca cerita tentang diri sendiri? Jika ya, sudah saatnya Anda keluar dari gaya bersantap lama ini. Kondisi tubuh saat berpuasa sangat berbeda dari kondisi biasanya.
Menumpuk 3 porsi makan sehari dalam 2 sesi bukanlah sebuah antisipasi. Menyurutkan aktivitas secara drastis juga bukan jawaban yang dinanti tubuh saat berpuasa. Energi beraktivitas bisa ditabung dimulai dari memilih hidangan sahur yang tepat, tanpa perlu menyantapnya dalam porsi besar. Untuk menu buka puasa, layaknya sahur, juga perlu dirancang dengan memperhatikan kondisi tubuh di jam tersebut.
Untuk ini, singkirkan dahulu keinginan menyantap makanan yang manis. Tahan juga tangan yang tak sabar ingin menyendok lauk yang pedas-pedas. Perut yang berada dalam kondisi kosong membutuhkan jenis makanan yang cukup ramah di pencernaan.
Saat Lebaran, bukan tidak mungkin menu makan lepas kontrol. Jika sebulan penuh terbiasa sahur dan berbuka dengan makanan manis dan karbohidrat tinggi, maka hormon serotonin di otak, yang membuat tubuh kita terasa nyaman, akan meninggi dengan cepat lalu turun dengan cepat pula. Karena, karbohidrat sederhana cepat hilang dari tubuh akibat kerja hormon insulin yang memasukkan gula tersebut ke dalam darah.
Perasaan nyaman yang hilang inilah yang menyebabkan otak memerintahkan tubuh untuk senantiasa mencari karbohidrat dan lemak. Namun, jika terbiasa mengendalikan menu secara cerdas, tubuh akan mengenali kebutuhan sesungguhnya. Hasilnya? Bulan puasa dan Lebaran bisa dilalui dengan lebih istimewa. (f)
Trifitria Nuragustina
Topic
#puasadanlebaran


