Health & Diet
Kendalikan Tekanan Darah Tinggi, Cegah Kecacatan
2 Sep 2019
Foto: shutterstockKapan kita harus waspada?
”Seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila secara meyakinkan memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg pada sedikitnya 3x pengukuran dengan cara dan alat yang benar selang waktu satu menit dalam suasana yang tenang, keadaan cukup istirahat di klinik atau fasilitas layanan kesehatan," dr. Tunggul D.Situmorang,Sp.PD-KGH,FINASIM, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI).
Namun bila meragukan, dr Tunggul menganjurkan untuk mengulang pengukurannya oleh pasien sendiri di rumah (Home Blood Pressure Monitoring = HBPM) atau bila ada fasilitas dengan mengukur TD secara 24 jam terus menerus dengan alat khusus (Ambulatory Blood Pressure Monitoring = ABPM). Ia menegaskan, pasien harus paham bahwa hipertensi primer tidak dapat sembuh total, tapi bisa dikendalikan tetap normal secara total.
Jika Anda diketahui mengalami tekanan darah tinggi setelah melakukan pemeriksaan rutin, langkah pertama adalah melakukan perubahan gaya hidup, menjaga berat badan ideal dan mengurangi asupan garam. Baru diberi pengobatan. Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala menjadi hal yang sangat penting dalam pengendalian hipertensi.
Dari prevalensi hipertensi sebesar 34,1%, diketahui bahwa sebesar 8,8% terdiagnosis hipertensi, dimana orang yang terdiagnosis hipertensi tersebut 32,3% tidak rutin minum obat dan 13,3% tidak minum obat. Alasan terbesar untuk tidak rutin dan tidak minum obat adalah penderita hipertensi telah merasa sehat. Hal ini terjadi karena banyak pasien yang beranggapan ia telah sembuh dari hipertensi manakala tekanan darahnya telah stabil dan cenderung menghentikan pengobatan.
Menurut dr. Tunggul, pada pasien dengan tekanan darah ≥ 140 mmHg / ≥ 90 mmHg diperlukan inisiasi obat untuk menurunkan tekanan darah. Di Indonesia sudah tersedia semua golongan obat-obatan pengendali tekanan darah, yaitu golongan: Calcium Channel Blocker (CCB), Diuretik, Penyekat Beta (Beta Blocker), Penyekat Alpha (Alpha Blocker), Anti Converting Enzyme Inhibitor (ACE inhibitor), Angiotensinogen Receptor Blocker (ARB), Central Blocker, Aldosteron Antagonist dan lain-lain. Termasuk salah satu temuan terkini, obat anti-hipertensi yang dapat melepas zat aktif secara perlahan sehingga dapat menjaga tekanan darah tetap normal sepanjang hari.
Teknologi dan ilmu kedokteran memang terus bekembang. Bahkan sesuai konsesus terbaru 2019, pemakaian obat pengendali tekanan darah dianjurkan secara kombinasi dari sejak awal pengobatan untuk mencapai tekanan darah sesuai target. Sudah terbukti bahwa pengendalian tekanan darah sesuai target dapat mencegah 35 - 40% kejadian stroke, 20 - 25% serangan jantung koroner dan >50% kejadian gagal jantung.
Karena hipertensi umumnya tidak hanya sendiri, tapi selalu disertai adanya faktor risiko lain atau bersama-sama dengan keadaan seperti diabetes, kolesterol dan lain - lain, dalam memberi perawatan, dokter kini tidak hanya menurunkan tekanan darah. Faktor risiko lain pun harus ikut diperhatikan dan diobati. (f)
Baca Juga:
Ini Bahaya Vape Yang Membuat Lebih Dari 100 Remaja Masuk Rumah sakit
Sering Merasa Lapar? Mungkin Ini Penyebabnya!
Metode Lasik Terbaru untuk Koreksi Penglihatan yang Lebih Nyaman
Topic
#kesehatan, #tekanandarahtinggi, #hipertensi, #stroke
event
recommended


