Health & Diet
Dua Jenis Terapi untuk Menangani Endometriosis

3 Aug 2016


Foto: 123RF
 
Endometriosis pernah disebut-sebut sebagai penyakit wanita produktif usia 30-an. Namun, dari berbagai penelitian terbaru diketahui bahwa endometriosis bisa terjadi pada wanita produktif, berapa pun usianya. Di Indonesia belum ada angka pasti, tapi diperkirakan sekitar 10%-20% wanita menderita endometriosis. Nyatanya, angka tersebut terus meningkat  tiap tahun. Gawatnya, Global Study of Women’s Health (GSWH) tahun 2012 di Inggris menemukan, endometriosis rata-rata terlambat diketahui hingga 7 tahun sampai akhirnya penderita memeriksakan diri dan diobati. Dengan kemajuan pengobatan terbaru, harapannya angka keterlambatan ini bisa dikurangi.  

Pengobatan Terbaru
Untuk menangani endometriosis, ada dua jenis terapi yang bisa dilakukan, yaitu secara medikamentosa menggunakan obat-obatan dan terapi bedah. “Kalau dulu pasien mengonsumsi pil KB atau Danazol, kini ada beberapa obat baru dari golongan Gonadotropin-releasing Hormone (GnRH) Analog yang dapat menekan hormon dan membuat menopause sementara,” jelas dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) dari Omni Hospitals.

Namun, yang penting diketahui, pengobatan secara medikamentosa ini sifatnya temporer, sehingga harus tetap menjalani terapi bedah. Tenang saja, teknologi bedah kini sudah  makin canggih. Yang terkini adalah teknik laparoskopi untuk mendiagnosis sekaligus melakukan tindakan pembersihan jaringan endometriosis.

Diagnosis endometriosis lewat prosedur laparoskopi dilakukan dengan memasukkan kamera melalui lubang kecil di perut untuk dapat melihat bercak-bercak di dinding perut atau panggul. Pasalnya, sering kali endometriosis stadium I-II tidak dapat dilihat dengan USG transrektal atau transvaginal, bahkan MRI (magnetic resonance imaging). Dengan menggunakan kamera laparoskopi, endometriosis akan terlihat dengan jelas. Dari segi peralatan, laparoskopi ada yang dilakukan secara konvensional dan ada yang robotik. Menurut dr. Caroline, laparoskopi konvensional sudah cukup baik dan harganya lebih ekonomis, juga efektif.

Tindakan ini tergolong minimal invasive, yaitu dilakukan dengan sayatan minimal, dengan membuat lubang kecil sekitar 0,5-1 cm di perut, bisa 3-4 lubang tergantung seberapa parah kondisi pasien. Selain bekas luka yang lebih kecil dan rapi, pasien pun sembuh lebih cepat. Cukup 1-2 hari, pasien bisa langsung pulih dan pulang, juga bisa kembali beraktivitas secara normal.

“Ini adalah prosedur yang terbaik untuk kasus-kasus endometriosis dan kasus infertilitas juga. Prosedur ini dapat mengembalikan anatomi organ reproduksi menjadi normal kembali,” tegas dr. Caroline.

Satu yang perlu dicatat, endometriosis bisa muncul kembali. Jika sudah menjalani operasi dan pasien yang belum menikah ternyata mendapati jaringan endometrium muncul lagi di organ reproduksinya, dr. Caroline biasanya menyarankan menggunakan obat-obatan untuk menekan hormon, seperti obat-obatan golongan GnRh yang tersedia dalam berbagai merek. “Khusus untuk wanita yang belum menikah, memang perlu diberikan obat seperti ini agar endometriosisnya tidak bertambah parah. Tetapi perlu diingat, obat tersebut sifatnya hanya sementara,” tegasnya.

Jika pasien endometriosis ingin memiliki anak, disarankan, setelah menjalani operasi pembersihan endometriosis segera menjalani program kehamilan. Pasalnya, mereka berlomba dengan kambuhnya penyakit  satu hingga dua tahun kemudian. Agar endometriosis tidak muncul lagi, pasien disarankan untuk memilih bahan makanan sehat yang minim zat tambahan, seperti pengawet.(f)
 


Topic

#endometriosis

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?