Hati-hati jebakan camilan! Foto ilustrasi: Pexels/Cottonbro StudioKonsumsi makanan manis yang berlebihan, terutama dalam periode perayaan seperti Imlek dan Lebaran, dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan.
Selain itu, konsumsi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit yang 'tenang tapi menghanyutkan' yakni diabetes.
Diungkapkan Prof. Dr. dr. Imam Subekti, Sp. P.D, Subsp. E.M.D. (K), FINASIM., Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi Metabolik dan Diabetes dari RS Pondok Indah, Jakarta, tubuh obesitas bukan hanya menghambat aktivitas sehari-hari namun juga menyebabkan penurunan sensitivitas tubuh terhadap insulin, yang dikenal sebagai resistensi insulin. Sebuah kondisi yang pada akhirnya membuat seseorang divonis menderita diabetes.
"Awalnya, pankreas memproduksi lebih banyak insulin untuk mengatasi kondisi tersebut. Jika kondisi ini berlanjut, pankreas akan mengalami kelelahan dan berujung pada terjadinya diabetes," jelas Imam.
Sebelum mulai menerapkan gaya hidup lebih sehat, Imam menyarankan untuk dilakukan pengecekan kondisi tubuh.
Ukur kategori normal, overweight atau obesitas
Secara umum, obesitas dipahami sebagai kondisi tubuh yang mengalami penumpukan lemak berlebih. Ada cara mengukur kondisi kadar lemak pasien obesitas yang lebih akurat, yakni dengan CT-scan atau MRI.Namun, mengingat pemeriksaan dengan alat ini tidak murah dan hanya tersedia di tempat tertentu seperti rumah sakit saja, pengukuran kadar lemak bisa dilakukan dengan cara lain yang lebih terjangkau mengukur kondisi tubuh yakni dengan pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Hitunglah berat badan kuadrat (dalam kilogram) dibagi tinggi badan (dalam meter).
- IMT 18-22,9 = normal
- IMT 23-25 = kelebihan berat badan
- IMT 25-30 = obesitas 1
- IMT di atas 30 = obesitas 2
Pahami faktor penyebab obesitas
Ada empat faktor yang membuat seseorang mengalami obesitas, di antaranya:1/ Asupan berlebih
2/ Penggunaan energi yang kurang/ kurang aktif
3/ Faktor genetik
4/ Penyakit dengan faktor pertama dan kedua yang paling banyak terjadi.
Agar obesitas tidak jadi diabetes
Perjalanan obesitas menjadi diabetes melalui beberapa tahap. Pada tahap awal, akibat resistensi insulin, gula darah mulai meningkat (berkisar antara 140 hingga 199 mg/dL) tetapi belum menimbulkan gejala. Tahap ini disebut pre-diabetes dikenali dari kadar gula darah puasa dan atau sesudah makan, berada di atas kisaran normal (normalnya gula darah di kisaran kurang dari 140 mg/dL), namun belum sampai pada kriteria diabetes.Tahap berikutnya disebut diabetes, yaitu kadar gula darah puasa dan atau sesudah makan sudah sampai pada angka yang sesuai dengan kriteria diabetes (gula 200 mg/dL atau lebih). Pada tahap ini, mulai ada gejala, antara lain sering buang air kecil, banyak minum, banyak makan, tetapi berat badan turun.
4 cara mengantisipasi terjadinya diabetes
Bagi seseorang dengan berat tubuh berlebih, hal pertama yang perlu dilakukan agar terhindar dari diabetes adalah mencari tahu faktor penyebab kegemukan yang dialaminya. Informasi ini diperlukan untuk menentukan pola makan dan gaya hidup selanjutnya.1/ Mengatur pola makan
Lakukan penghitungan total kalori yang dibutuhkan untuk aktivitas harian, sehingga dapat ditentukan asupan yang diperlukan untuk terapi diet penurunan berat badan. Penghitungan ini diharapkan dapat menurunkan kalori sebesar 500 hingga 1.000 kilo kalori per hari. Jika sulit dilakukan sendiri, konsultasikan dengan ahli gizi atau dokter.2/ Aktivitas fisik rutin
Olahraga atau beraktivitas fisik dengan durasi tertentu dapat dilakukan setidaknya tiga kali dalam seminggu (minimal durasi 30 menit). Setelah tubuh terbiasa dengan aktivitas ini, durasi dapat dinaikkan menjadi 45 menit per sesi, dan frekuensi ditingkatkan menjadi lima kali seminggu. Aktivitas yang direkomendasikan untuk menurunkan risiko diabetes adalah olahraga bersifat aerobik, seperti jalan atau joging, renang, bersepeda, dan senam.3/ Perubahan perilaku
Obesitas bukanlah kondisi yang terjadi tiba-tiba, melainkan dalam durasi yang panjang. Diperlukan komitmen terus-menerus untuk melakukan perubahan terhadap gaya hidup yang dijalani.4/ Patuhi minum obat
Pada beberapa kasus, obat-obatan juga diperlukan jika program pengaturan makan (terapi diet) dan aktivitas fisik belum berhasil mencapai target penurunan berat badan.Bagi Sahabat Femina yang merasa khawatir dengan potensi terjadinya diabetes dengan kondisi berat badan yang sulit diturunkan, berkonsultasi dengan dokter dan ahli gizi adalah ide tepat. Yuk, kita perbaiki gaya hidup demi kualitas kesehatan yang lebih baik ke depannya!
Baca juga:
Penularan Virus hMPV Tidak Akan Memicu Pandemi Selanjutnya, Ini Alasannya!
7 Alasan Minum Jus Wortel Setiap Pagi Itu Penting
Jangan Anggap Remeh, Mata Bengkak Bisa Jadi Penanda Infeksi Serius
Laili Damayanti
Topic
#Diabetes, #MakanManis, #HidupSehat, #PolaMakanSehatGulaDarah


