Komunitas Slow Food wilayah Yogyakarta Pisang, mengangkat pisang sebagai salah satu perwakilan kekayaan hayati negeri ini. Pisang (Musa Paradisiaca) adalah salah satu buah eksotika tropis yang disinyalir berasal dari Indo Malaya, salah satunya Indonesia. Kandungan nutrisinya baik dan mudah dicerna, layak konsumsi setiap hari untuk berbagai umur. Pisang erat dalam kehidupan sosial budaya masyarakat, dari ritual bersih desa hingga proses daur hidup.
Di Kebun Plasma Nutfah yang dikelola Dinas Pertanian Kota Yogyakarta saja berkumpul sekitar 300 jenis pisang. Bahkan di lingkungan Kabupaten Bantul ada desa pisang, yakni Desa Ponggok Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, sejak tahun 1997.
Pisang ambon dan pisang kepok masing–masing memiliki 48 jenis, pisang mas ada 18 jenis, dan pisang raja ada 35 jenis. Semua umumnya masih di tanam secara liar.
Di sisi lain, ada keironian pada industri pangan yang mendewakan keseragam bentuk, rasa, bahkan berat satuan. Disinyalir, 30% - 50% bahan pangan di seluruh dunia terbuang karena tidak lolos seleksi terhadap standarisasi pasar modern atau hal lainnya.
Slow Food - Yogyakarta bersama dengan masyarakat Sidomulyo, Bambanglipuro, berupaya melestarikan sekitar 12 jenis pisang menggunakan sistem pertanian ramah lingkungan. Agen hayati digunakan untuk melindungi dan memperkuat tanaman pisang. Ada Trichoderma sp sebagai microbial peptiside, bioaktivator natural molas, serta pemakaian empon-empon (tanaman rintang) seperti bangle (Zingiber Casumounar), lengkuas (Alpinia Galangal), temu putih (Curcuma Zedoaria), gadung (Dioscorea Hispida D), daun pepaya (Carica papaya), dan daun mimba (Azadirachta indica).
Dalam kegiatan yang sudah berjalan tiga tahun ini, tokoh pisang Kecamatan Sidomulyo, Lasiyo Syafudin, pernah diberangkatkan oleh komunitas Slow Food – Yogyakarta ke Italia, berada di jajaran petani terhormat dalam ajang Salone del Gusto Terra Madre 2016 milik komunitas Slow Food dunia.
Hubungan erat pisang sebagai sumber pangan dan bagian dari ritual budaya di berbagai daerah di Nusantara menginspirasi gerakan Slow Food wilayah Yogyakarta untuk menggelar acara Pisang Presidia Parade Party, 11 Desember lalu. Di tiap 160 negara yang tergabung dalam Slow Food global, Desember adalah saatnya merayakan pesta bumi pertiwi, Terra Madre Day. ‘Terra’ berarti bumi, sedangkan ‘madre’ berarti ibu/ pertiwi. Di tahun ini, Slow Food turut menjadi bagian dari gerakan internasional Climate Change Campaign #Make a Gift.
Lily T Erwin, penggiat pangan lokal yang punya sebutan populer Iboe Dapoer Indonesia, kembali membuka penginapannya yang asri di Omah Garoengpoeng Homestay di Magelang untuk perayaan ini.
Ia menyajikan ragam masakan Indonesia berbasis pisang, dari bonggol, inti batang pisang, jantung, sampai menampilkan daun pisang sebagai pengemas ramah lingkungan yang memberikan aroma sedap pada masakan. Acara santap yang kasual diselingi presentasi, ngobrol bersama Pak Laiyo, didukung display pisang ragam jenis.
Dari temu komunitas ini ditarik pemikiran bahwa pengetahuan akan pemanfaatan bagian dari pisang menjadi ragam olahan adalah peluang menjadikan Indonesia negata mandiri pangan. Kuncinya, pendidikan pangan dan promosi.
Slow Food adalah jejaring internasional non-profit yang berdiri di Italia di tahun 1984 dan kini tersebar di hampir 160 negara. Keanggotaan Slow Food terdiri dari petani, masyarakat awam, ibu rumah tangga, akademisi, chef, hingga penggerak masyarakat. Slow Food merupakan suatu gerakan yang memandang bahwa semua yang terkait dengan pangan, dari hulu ke hilir, merupakan proses yang harus berprinsip pada Fair, Good, and Clean.
Slow Food memiliki satu katalog online yang mendata makanan yang hampir punah dari seluruh dunia, yakni Ark of Taste. Makanan tersebut memiliki peran penting dalam suatu area dan terhubung erat dengan sosial-budaya setempat. Berbagai jenis pisang tercatat di dalamnya, merepresentasikan biodiversitas Indonesia.
Penulis: Amaliah – Koordinator Presidia & Ark of Taste, Slow Food – Yogyakarta (Kontributor – Yogyakarta). Penyunting: Tria Nuragustina


