
Apa pula pasalnya lidah kita harus ‘kena’ nasi? “Belum makan namanya, kalau belum makan nasi,” ungkapan ini melekat berpuluh-puluh tahun di benak masyarakat Indonesia, hingga menimbulkan ketergantungan besar pada nasi. Bayangkan, jika satu orang mengonsumsi beras 350 g/hari, maka berapa banyak beras harus diproduksi untuk memenuhi 250 juta jiwa penduduk Indonesia?
Saking banyaknya kebutuhan tersebut, kapasitas produksi tidak mencukupi, hingga akhirnya 10 juta ton beras harus diimpor guna memenuhi kebutuhan dalam negeri (data Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman/PPIMM, tahun 2013).
Merunut ke tiga dekade silam, negeri ini pernah merasakan swasembada beras. Dengan segala daya upaya, pemerintah berusaha mengembalikan kejayaan tersebut dengan meningkatkan jumlah produksi beras. Sayangnya, upaya peningkatan ini kurang berjalan mulus.
“Namun, jika mau melihat dari sudut pandang yang berbeda, sebaiknya bukan peningkatan saja yang diusahakan, penurunan angka konsumsi beras juga bisa diusahakan sebagai jalan menuju swasembada,” papar Prof. Dr. Ir. Slamet Budijanto, M.Agr. Dengan menurunnya konsumsi beras, maka kapasitas produksi akan naik dengan sendirinya. Inilah yang kini sedang digarap oleh beberapa instansi, termasuk IPB.
“Sebetulnya, makan nasi (beras) itu hanya menyangkut masalah status sosial,” tambah Slamet. Dulu, singkong, ubi, dan jagung adalah makanan masyarakat kurang mampu. Paradigma ini telanjur melekat di benak, menjadikan makanan pokok selain nasi hanya sebagai selingan. “Kalau ubi disantap tanpa didampingi lauk yang baik, memang tampak kurang menarik. Coba bayangkan jika ubi menyertai steak atau salad!” tekan Slamet.(f)



