
dok.femina
Mencatatkan jalur rempah Indonesia sebagai world heritage UNESCO tengah digaungkan Kementerian Pendidikan dan Kebubudayaan di bawah Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. Ekspedisi mengarunginya digodok, mengundang lembaga dan nama berpengaruh di setiap titik berlabuhnya.
Berkaitan, jargon Indonesia Spice Up The World telah digiatkan Akademi Gastronomi Indonesia di tahun 2015, dikukuhkan di pertemuan berisi lebih dari 100 peserta lintas komunitas dan instutusi. Vita Datau, pendiri Akademi Gastronomi Indonesia di saat itu dan sekarang tetap menekankan pentingnya penyatuan pentaheliks dalam ‘membumbui’ dunia.
Indonesian Culinary Institute asuhan sociopreneur Robert Manan menutup tahun dengan ajang “Congress Diplomacy’. Bertempat di resto NUSA Gastronomy, diingatkan kembali cita-cita besar itu ke pegiat kuliner, menyediakan panggung untuk pemaparan strategi.
Dr. Hetijah Sjaifudin, Wakil Ketua Komisi x DPR RI mendukung gagasan diperjuangkannya jalur rempah sebagai world heritage di badan UNESCO. Upaya ini disebutnya bisa memperkuat koridor interaksi antar budaya.
“Rekomendasi hari ini diharapkan cukup spesifik dan jadi acuan gerakan bersama,” ujarnya.
Dewan Rempah Indonesia menyebut peringkat ketiga Indonesia sebagai penghasil rempah di dunia, yang terutama mengungguli ekspor pala dan kayu manis. Gastrodiplomacy bisa membangun brand yang kuat dan meningkatkan daya saing di posisi global.
Odo RM Manuhutu, deputi Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Bidang Parekraf, mendukung terciptanya ekosistem seputar rempah secara holistik. Sebutnya, Indonesia bisa menjadi pusat rempah dunia.
Sambutan pemerintahan disambung dengan paparan strategi yang disampaikan perwakilan komunitas.
Stefu Santoso (ACP/ Association of Culinary Professional) menyebut pentingnya menjaga networking komunitas Indonesia di luar negeri. Keinginan untuk menikmati makanan dari negeri asal menghidupkan demand.
Namun, ia menyebut berganti-gantinya strategi pariwisata karena pergantian pemerintahan menjadikan gerakan kerap berjalan dari nol kembali. Ia menginginkan adanya sosok leader demi menekan ramainya ego antar lembaga.
Ragil Wibowo, chef-owner NUSA Gastronomy, melihat strategi negeri tetangga tetangga dalam menetapkan restorannya dalam jumlah tertentu di negara tujuan. Negara tujuan bisa saja 10 negara pendatang devisa terbesar di Indonesia.
Menu serba grill dan konsep semi fast food disebutnya jarang gagal di luar negeri. Resto Indonesia bisa memakai seafood lokal namun memakai bumbu Indonesia. Pemerintah perlu mendukung ekspor bahan untuk menjaga orisinalitas.
Pandangan IGC (Indonesian Gastronomy Community), diwakili Ria Musiawan, adalah salah satunya penerbitan manual book dari kedutaan besar Indonesia setempat sebagai acuan restaurateur ini. Pemerintah juga perlu terlibat dalam pemberian insentif, yakni permodalan, didukung perizinan.
Sambungnya, kekuatan Indonesia sebagai negeri rempah bisa menjadikan rempah-rempah sebagai ikon yang mewakili Indonesia.
Untuk lunch buffet kongres, chef Ragil memperlihatkan kekayaan rempah ini melalui menu Indonesia. Hadir nasi pulen dari beras adan Krayan, mi lethek, lempah kulat pelawan, udang sambal balado, hingga satai rembiga.
Kekayaan ini diakui pakar kuliner William Wongso yang turut hadir di kongres. “Namun kekayaannya masih menjadi misteri bagi dunia,” ujarnya.
Ratna Tobing (IGA/ Indonesian Gastronomy Association) ingin menonjolkan keberagaman sebagai kekuatan. Pemerintah perlu mengajak duduk semua Pemda untuk sepakat menentukan masakan jagoan masing-masing agar semua terwakili.
Santhi Serad (ACMI) menyebut program menggandeng sekolah kuliner di negara tujuan diplomasi sebagai cara jitu berpromosi kekayaan ini.
Juga hadir pendiri Javara, Helianti Hilman. Menyelesaikan secara detail, dari hulu ke hilir dalam persoalan rempah menjadi penting. Sebagai pelaku industri, ia melihat tarif, logistik, dan beban bunga yang tinggi bagi petani membuat Indonesia tidak memiliki awal yang mudah dalam berkompetisi.
Alif Maulana (STP Trisakti) merasakan absennya pengetahuan sejarah di sektor perguruan tinggi menumpulkan minat pada kuliner negeri sendiri. Pembaruan kurikulum menjadi penting demi mengetahui fundamental cita rasa Indonesia.
Ini senada dengan pemaparan Oke Prawira (Universitas Multimedia Nusantara). Pengajar disebutnya perlu punya referensi yang baik dalam mengajarkan khazanah kuliner Indonesia. Erfin Roesian (STP Bandung) menekankan pentingnya kekuatan skill dalam masakan Indonesia sebagai nilai tambah yang dicari di industri F&B masa kini.
Albertien A. Pirade, tenaga hali Utama Kedeputian 1 KSP menyebut penggunaan kuliner memiliki multiplier effect, karena tak hanya berdampak ke luar negeri, tapi juga ke ekonomi secara umum di Indonesia.
Empat belas butir deklarasi dibacakan bersama, dipandu moderator Ade Putri Paramadita (ACMI/ culinary storyteller). (f)
Baca juga:
Cara Membuat Karamel Anti Gosong!
Resep Pisang Goreng Madu
#FridayShopping: Loyang Kue Cantik
Trifitria Nuragustina




