
Acara Future Menus 2024 milik Unilever Food Solutions di tengah rangkaian Worldchefs Congress 2024 di Marina Bay Sands, Singapura, merilis laporan Future Menus 2024 Trend Report. Worldchefs Congress sendiri bergengsi, menginjak tahun ke-94 dan mengumpulkan chef dari 17 negara, termasuk Indonesia. Para chef dari restoran yang disegani hadir, termasuk Emile van der Staak (2 bintang Michelin - De Nieuwe Winkel Restaurant) dan Emmanuel Stroobant (2 bintang Michelin - Saint Pierre Restaurant).
Siap dirilis untuk publik November nanti, Future Menus 2024 Trend Report dikompilasi dari himpunan data pihak ketiga seperti Kantar, Firmenich, Symrise, IFF, The Forge, dan CMJ-PDS.
Analitis media sosial juga menyokong data, yang dikumpulkan dari 77.000 kata kunci yang mewakili 69 juta pencarian data di 21 negara. Perspektif dari 250 koki internal UFS juga dilibatkan, dibarengi insight dari 1.600 panelis koki di 21 negara.
Temuan perkiraan dibagi dalam delapan topik sebagai berikut:
1/ Flavor Shock
2/ The Plant-Powered Protein
3/ Local Abundance
4/ Low-Waste Menus
5/ Irresistible Vegetables
6/ Modernized Comfort Food
7/ Feel-Good Food
8/ The New Sharing

Mendobrak rasa yang sudah lazim
Yang pertama dan menarik adalah Flavor Shock, selera masa kini yang digerakkan oleh Gen Z.
Tiadanya kekangan informasi membentuk konsumen yang tak lagi membatasi selera. Konsumen di era digital ingin keluar dari rasa-rasa yang baku dan kaku. Konsumen mendorong koki untuk mendobrak resep-resep lama dan menciptakan versi modern.
Report mencontohkannya melalui saus-saus tradisional yang mengambil alih saus konvensional dalam sebuah burger. Report ini menyebutnya sebagai ‘next-level condiments'. Sebagaimana ditulis oleh Chef Joanne Limoanco-Gendrano dalam laporan:
“The future of dining is about seeing food as a form of escapism, a vision that is achieved through the need to surprise and challenge diners with sensorial dishes that are designed to delight.”
Gen Z benar-benar pengendali pasar. ‘Berpindah’ haluan dari satu negara ke negara lainnya melalui pencarian di internet membuat mereka haus pengalaman segar. Jika satu tempat makan tidak menyodorkan hal baru, mereka tancap gas ke tempat lain yang memenuhi.
‘Keharusan’ tempat makan untuk punya opsi takeout juga merespons konsumen yang keburu nyaman dengan melahapmakanan yang disukai, di mana pun dan kapan pun. Imbas positifnya, berkembangnya industri kemasan takeaway dalam penciptaan produk-produk yang lebih canggih.
Karenanya, ekspansi dalam bentuk ghost kitchen maupun pop-up tidak pernah terasa basi. Sebuah jenama F&B perlu berambisi menampilkan jenamanya di aplikasi food delivery dan masuk dalam radar alamat terdekat dari konsumen.
Di acara Future Menus 2024, area Flavor Shock diterjemahkan di meja Culinary Infinity. Country Executive Chef Unilever Food Solutions dari Filipina, Kenneth Chacho, meracik Truffle Bar with Fermented Cassava dan Chocolate with Golden Egg Powder (foto bawah).
Tiadanya kekangan informasi membentuk konsumen yang tak lagi membatasi selera. Konsumen di era digital ingin keluar dari rasa-rasa yang baku dan kaku. Konsumen mendorong koki untuk mendobrak resep-resep lama dan menciptakan versi modern.
Report mencontohkannya melalui saus-saus tradisional yang mengambil alih saus konvensional dalam sebuah burger. Report ini menyebutnya sebagai ‘next-level condiments'. Sebagaimana ditulis oleh Chef Joanne Limoanco-Gendrano dalam laporan:
“The future of dining is about seeing food as a form of escapism, a vision that is achieved through the need to surprise and challenge diners with sensorial dishes that are designed to delight.”
Gen Z benar-benar pengendali pasar. ‘Berpindah’ haluan dari satu negara ke negara lainnya melalui pencarian di internet membuat mereka haus pengalaman segar. Jika satu tempat makan tidak menyodorkan hal baru, mereka tancap gas ke tempat lain yang memenuhi.
‘Keharusan’ tempat makan untuk punya opsi takeout juga merespons konsumen yang keburu nyaman dengan melahapmakanan yang disukai, di mana pun dan kapan pun. Imbas positifnya, berkembangnya industri kemasan takeaway dalam penciptaan produk-produk yang lebih canggih.
Karenanya, ekspansi dalam bentuk ghost kitchen maupun pop-up tidak pernah terasa basi. Sebuah jenama F&B perlu berambisi menampilkan jenamanya di aplikasi food delivery dan masuk dalam radar alamat terdekat dari konsumen.
Di acara Future Menus 2024, area Flavor Shock diterjemahkan di meja Culinary Infinity. Country Executive Chef Unilever Food Solutions dari Filipina, Kenneth Chacho, meracik Truffle Bar with Fermented Cassava dan Chocolate with Golden Egg Powder (foto bawah).

Persona sang koki
Storytelling mempengaruhi keputusan belanja Gen Z (dan juga Milenial), dibentuk melalui sentuhan emosional di balik makanan.
Uniknya, cerita tidak perlu diantarkan dari sosok ‘celebrity chef’ agar terasa bernilai (dan cepat menjalar). Status yang gemerlap ini bukan lagi indikator. Menjadi ‘influencer’ di lingkup kecil atau menjadi ‘chef skena’ justru menumbuhkan kesan approachable yang dicari konsumen masa kini yang melulu ingin merasa dekat. Bagi mereka, sosok yang dekat cukuplah dalam membangun kredibilitas tempat makan!
Di tengah teknologi yang terus berevolusi, melejitnya harga bahan baku dan biaya operasional terus-menerus menjadi tantangan yang sulit ditanggulangi. Memiliki kehadiran yang kuat di media sosial (sambil tentunya menjaga kualitas makanan) menjadi penyelamat yang terhitung cost-effective. Terus membangun ‘noise’ bisa membangun relevansi dengan pembelanja di segmen usia manapun dan membantu kontinuitas belanja. (f)
Baca juga:
Ini Wanita di Belakang Dubai Chocolate Bar yang Viral
Daun Jati Bikin Gudeg Berwarna Gelap? Ini Alasannya!
Brunch di Mana Weekend Ini?
Uniknya, cerita tidak perlu diantarkan dari sosok ‘celebrity chef’ agar terasa bernilai (dan cepat menjalar). Status yang gemerlap ini bukan lagi indikator. Menjadi ‘influencer’ di lingkup kecil atau menjadi ‘chef skena’ justru menumbuhkan kesan approachable yang dicari konsumen masa kini yang melulu ingin merasa dekat. Bagi mereka, sosok yang dekat cukuplah dalam membangun kredibilitas tempat makan!
Di tengah teknologi yang terus berevolusi, melejitnya harga bahan baku dan biaya operasional terus-menerus menjadi tantangan yang sulit ditanggulangi. Memiliki kehadiran yang kuat di media sosial (sambil tentunya menjaga kualitas makanan) menjadi penyelamat yang terhitung cost-effective. Terus membangun ‘noise’ bisa membangun relevansi dengan pembelanja di segmen usia manapun dan membantu kontinuitas belanja. (f)
Baca juga:
Ini Wanita di Belakang Dubai Chocolate Bar yang Viral
Daun Jati Bikin Gudeg Berwarna Gelap? Ini Alasannya!
Brunch di Mana Weekend Ini?
Trifitria Nuragustina
Topic
#kuliner, #foodTrend2024




