Food Story
Selalu Hadir Dalam Acara Perayaan, Ini Arti Tumpeng dan Lauk-Lauknya

16 Aug 2021

arti tumpeng
Foto: Shutterstock

Bulan Agustus adalah bulan perayaan bagi rakyat Indonesia. Hari Kemerdekaan Republik Indonesia jatuh pada bulan ini. Begitu bulan Agustus tiba, semua mulai mempersiapkan diri untuk menyambut perayaan hari bersejarah ini. Mulai dari mendandani rumah hingga mempersiapkan acara.

Sebelum pandemi tiba, perayaan ini selalu dimeriahkan dengan berbagai perlombaan seru. Lomba makan kerupuk, lari kelereng, dan balap karung, selalu diadakan untuk anak-anak merasakan nilai-nilai perjuangan. Namun, untuk ibu-ibu, biasanya ada yang namanya lomba menghias tumpeng.

Tumpeng selalu ada dalam acara perayaan. Ukurannya yang besar dan rupanya yang megah, menjadi sebuah simbol pada suatu acara. Selain nasi yang dibentuk kerucut menyerupai sebuah gunung, beramacam-macam lauk selalu menemani.

Tumpeng adalah nasi yang dibentuk kerucut. Umumnya dibuat dari nasi putih, nasi kuning, atau nasi gurih. Merupakan budaya masyarakat jawa yang tertera dalam Serat Centhini. Disebut juga dalam naskah sastra Ramayana, Arjuna Wijaya, dan Kidung Hasra Wijaya sebagai hidangan dalam berbagai pesta.

Tak pernah diketahui dengan pasti sejak kapan tumpeng mulai dikenal. Yang jelas, kehadiran nasi berbentuk kerucut, disertai lauk-pauk pilihan ini, begitu sarat makna. Ada 16 jenis tumpeng yang dikenal dalam budaya Jawa. Bentuk yang menjulang ke atas, menyimpan harapan agar kehidupan manusia  makin ‘naik’ atau ‘tinggi’.


Sebagai Simbol Permohonan

Bentuknya dianalogikan sebagai gunung Mahameru, yang dalam kepercayaan Hindu merupakan tempat bersemayamnya para dewa.
 
Oleh karena itu, tumpeng tidak disajikan sembarangan untuk  keperluan sehari-hari. Ia hadir dalam upacara penting untuk mengingatkan manusia kepada Tuhannya.
 
Tumpeng merupakan singkatan dari “tumapaking penguripan, tumindak lempeng tumuju Pangeran.” Artinya, berkiblatlah kepada pemikiran bahwa manusia itu harus hidup menuju jalan Tuhan.
 
Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa ada kekuatan gaib (red: Tuhan) yang mempengaruhi hidup mereka. Karena itu tumpeng hadir sebagai simbol permohonan kepada Yang Kuasa.

 
Walau berasal dari budaya Hindu, filosofi ini diadopsi oleh Sunan Kalijaga yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Tradisi Islam Jawa menyebutkan bahwa “Tumpeng” merupakan akronim “yen metu kudu sing mempeng” (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu makanan lagi yang namanya “Buceng”, dibuat dari ketan, akronim  “yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh). Lauk pauknya yang berjumlah tujuh (pitu) macam bermakna pitulungan (pertolongan)
 
Kalimat-kalimat tersebut berasal dari Al Quran, surat Al Isra ayat 80, yang berarti: “Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan”.
 
Beberapa ahli tafsir percaya ayat ini merupakan doa Nabi Muhammad SAW saat akan hijrah ke Madinah. Maka, jika seseorang menyajikan tumpeng, berarti ia sedang memohon pertolongan kepada Sang Pencipta agar terhindar dari keburukan dan memperoleh kemuliaan. Dan, itu semua akan didapatkan jika kita berusaha  dengan sungguh-sungguh.
 
Dalam Islam, bentuk kerucut dengan satu nasi di puncak sebagai simbol Tuhan Yang Maha Esa. Banyaknya nasi di bawah melambangkan banyaknya manusia yang penuh dosa. Semakin ke atas, maka semakin sempurna.
Selama ini, masyarakat Indonesia terbiasa melakukan prosesi potong tumpeng. Tumpeng dipotong bagian pucuknya oleh si pemilik acara, untuk diberi kepada orang yang dituakan atau dihormati. Selanjutnya, tumpeng boleh disantap oleh semua tamu yang hadir, sebagai perlambang berbagi rezeki. Namun, sejatinya, tumpeng seharusya tidak dipotong bagian pucuknya, tapi dikeruk dari bawah hingga menuju puncaknya.


Arti Lauk Pauk Pada Tumpeng

Tumpeng ditata di atas wadah beralas daun. Di sekelilingnya  tersaji lauk-pauk yang lengkap, terdiri dari  hewan darat (ayam atau sapi), hewan laut (lele atau ikan teri), telur, dan sayur- mayur yang umumnya dibuat urap (kangkung, bayam, taoge, dan kacang panjang). Selain menjadi simbol kekayaan bumi nusantara, dalam tiap lauk yang disajikan terselip doa dan harapan.

Ayam

Perwakilan dari hewan darat. Dalam tumpeng kuning biasa berupa ayam goreng. Umum juga tersaji sebagai ayam bakar dalam tumpeng putih. Kini, ayam dimasak bervariasi sesuai selera. Ada juga yang hanya menggunakan bagian hati dan ampelanya saja. Lauk ini menjadi simbol keikhlasan berkurban si pemangku hajat. Selain ayam, hewan lain yang sering digunakan adalah sapi. Biasanya dimasak menjadi Sambal Goreng Kreni.

Ikan

Mewakili hewan air. Dulu, ikan lele sering digunakan. Karena hidupnya yang selalu berenang di dasar sungai atau kolam, ikan lele dimaknai sebagai kerendahan hati. Falsafah ini diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ikan bandeng juga sering disajikan dengan harapan rejeki yang selalu melimpah seperti banyaknya duri dalam ikan bandeng.
 

Ikan teri

Walau juga berasal dari air, ikan teri memiliki arti yang berbeda dengan lauk ikan sebelumnya. Kehadirannya bisa berupa rempeyek teri atau hanya teri digoreng tepung. Melambangkan kerukunan seperti hidup ikan teri yang selalu bergerombol.
 

Telur

Awalnya telur hadir berupa telur rebus, utuh bersama kulitnya. Kulit, putih, dan kuning telur melambangkan tindakan yang harus dilakukan dalam menjalani hidup. Yaitu, menyusun rencana dengan baik, bekerja sesuai rencana, dan mengevaluasi hasilnya. Kini, telur hadir dalam bentuk telur dadar atau pindang.
 

Sayur

Biasa disebut Ghudangan atau Urap Sayuran yang mewakili tumbuhan. Jenis sayuran yang digunakan pun tidak sembarangan, karena tiap sayuran memiliki makna tertentu.
 
Kangkung: Manusia diharapkan dapat hidup dimana saja dan dalam kondisi apapun seperti kangkung yang dapat hidup di darat dan air.
 
Bayam: Melambangkan kehidupan yang tentram.
 
Taoge: Selain menjadi lambang kesuburan dan kemudahan, taoge juga mengandung makna kreativitas tinggi.
 
Labu siam/kluwih: Sebagai pengharapan rejeki berlebih dan kepintaran yang unggul . (Luwih=lebih).
 
Kacang panjang: Hadir utuh, tidak dipotong. Memiliki makna panjang umur. Selain itu diharapkan manusia selalu perpikir panjang sebelum bertindak. Kacang panjang utuh umumnya tidak hadir sebagai lauk, tapi sebagai hiasan yang mengelilingi tumpeng atau ditempelkan pada badan tumpeng.
 
Selain lauk di atas, biasanya ada lauk lain yang disajikan, seperti perkedel kentang, tahu tempe bacem, kering tempe kentang, dan variasai lainnya. (f)


Baca juga:
6 Hal Yang Tak Kamu Ketahui Tentang Tempe
Daun Jati Menjadikan Gudeg Berwarna Gelap. Ini Alasannya!
Sejarah Satai Rembiga Khas Lombok
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?