
Foto: Dok. Feminagroup
Chinese food identik dengan hidangan nonhalal. Namun, warna Islam mengalir di dalam sejarah Cina, mengembangkan hidangan dengan warna berbeda. Hidangan ini disebut dengan qing zhen cai atau pure truth food.
Sajian halal berkembang di Tiongkok pada zaman dinasti Tang (618 – 907), kala Islam salah satunya diperkenalkan lewat kedatangan pelancong Arab dan Persia melalui jalur sutra. Mereka umumnya menetap di kawasan Xian, Kaifeng, Guangzhou, Quanzhou, Yangzhou, dan Hangzhou, menciptakan penyatuan kultur lewat pernikahan dengan etnis Han dan Mongol.
Keturunan mereka yang selanjutnya dikenal sebagai etnis Hui menikmati sajian perpaduan dapur Tiongkok dan Timur Tengah, berbeda jauh dengan hidangan lokal yang sarat daging babi. Etnis Hui hanyalah salah satu dari 10 etnis minoritas muslim. Etnis lainnya yang besar adalah Uygurs. Warganya senang menyantap pilaf daripada nasi putih yang tawar dan pulen.
Pengaruh Timur Tengah membuat produk berbahan tepung gandum dalam bentuk roti-rotian, seperti Nang (Roti Naan) yang menemani lauk. Kudapan manis juga lazim dalam menu. Daging kambing atau daging domba mendominasi wilayah Barat yang dingin, sementara daging ayam dan seafood mewarnai wilayah Selatan yang lebih panas.
Kini, Tiongkok dipenuhi oleh hampir 25 juta warga muslim, memudahkan pendatang untuk menemukan restoran halal. Ini terutama di bagian Barat yang merupakan pusat dari komunitas muslim, dengan rumah makan yang biasanya dimiliki oleh kaum muslim atau pendatang dari Timur Tengah. Di Tiongkok bahkan berkembang beberapa destinasi jajan hidangan halal yang sarat street food dan menggoyahkan diet, seperti yang ada di kota Xian, Guangzhou, dan Beijing. (f)
Baca Juga:
Sajian halal berkembang di Tiongkok pada zaman dinasti Tang (618 – 907), kala Islam salah satunya diperkenalkan lewat kedatangan pelancong Arab dan Persia melalui jalur sutra. Mereka umumnya menetap di kawasan Xian, Kaifeng, Guangzhou, Quanzhou, Yangzhou, dan Hangzhou, menciptakan penyatuan kultur lewat pernikahan dengan etnis Han dan Mongol.
Keturunan mereka yang selanjutnya dikenal sebagai etnis Hui menikmati sajian perpaduan dapur Tiongkok dan Timur Tengah, berbeda jauh dengan hidangan lokal yang sarat daging babi. Etnis Hui hanyalah salah satu dari 10 etnis minoritas muslim. Etnis lainnya yang besar adalah Uygurs. Warganya senang menyantap pilaf daripada nasi putih yang tawar dan pulen.
Pengaruh Timur Tengah membuat produk berbahan tepung gandum dalam bentuk roti-rotian, seperti Nang (Roti Naan) yang menemani lauk. Kudapan manis juga lazim dalam menu. Daging kambing atau daging domba mendominasi wilayah Barat yang dingin, sementara daging ayam dan seafood mewarnai wilayah Selatan yang lebih panas.
Kini, Tiongkok dipenuhi oleh hampir 25 juta warga muslim, memudahkan pendatang untuk menemukan restoran halal. Ini terutama di bagian Barat yang merupakan pusat dari komunitas muslim, dengan rumah makan yang biasanya dimiliki oleh kaum muslim atau pendatang dari Timur Tengah. Di Tiongkok bahkan berkembang beberapa destinasi jajan hidangan halal yang sarat street food dan menggoyahkan diet, seperti yang ada di kota Xian, Guangzhou, dan Beijing. (f)
Baca Juga:
Bukan Hanya Tempura, Ini 4 Jenis Gorengan ala Jepang Yang Kriuk
Perbedaan Lotek, Karedok, Pecel, dan Gado-Gado
Perbedaan Lotek, Karedok, Pecel, dan Gado-Gado
Topic
#halalfood


