Dibandingkan wilayah selatan dan barat, wilayah timur Jakarta memang jarang disambangi oleh para pemburu kuliner ibu kota. Bisa jadi karena memang tak mudah menemukan tempat makan enak di sini. Namun belakangan, anggapan tersebut sirna ketika mampir di Jl. Balai Pustaka, Rawamangun, Jakarta Timur. Kawasan itu ternyata dipadati makanan kaki lima yang legendaris. Bahkan kini, resto baru dengan konsep modern dan masa kini mulai bermunculan di sana dan menjadikan sepanjang Jalan Balai Pustaka ini salah satu magnet kuliner di Jakarta.
MENYAMBUT MALAM

Hari masih sore ketika femina tiba di Jl. Balai Pustaka. Namun, di kanan-kiri dua ruas jalan, puluhan penjaja makanan kaki lima mulai mendirikan lapaknya. Lampu terang yang dipasang di tiap lapak mulai merangkul malam, seakan tak mengizinkan untuk menggelapkan jalan ini. Daerah yang terkenal dengan swalayan Tip Top dan Apotek Rini ini berubah wujud menjadi kawasan street food di malam hari.
Kali ini, femina memulai petualangan lidah dengan Tahu Slawi di sudut jalan yang berbatasan dengan Jl. Pinang. Tampilan lapaknya sederhana, namun soal rasa, tahu aci khas Tegal hasil karya Pak Taufik ini membuat lidah ketagihan. Tahu lembut terbungkus kulit dari campuran tepung ini terasa sangat renyah karena digoreng dalam minyak banyak.
Bagi pencinta kue manis, gerobak Putu Ayu Medan pasti akan menarik perhatian. Etalase gerobak yang terang, berisi jajaran kue putu mayang, klepon, kue lapis, dadar gulung, dan masih banyak lagi yang lainnya dengan wangi yang menggoda, terasa menggiurkan. Belum lagi, tiupan peluit dari dandang kue putu bambu siap ‘memanggil’ para pelintas jalan.
Tak jauh dari Tahu Slawi Pak Taufik, kerumunan orang mulai terlihat di Bakmie Djawa Mbah Sastro. Letaknya sedikit masuk ke Jl. Pinang, di samping gedung karaoke D’Frenz. Tempat yang mulai berjualan pukul 6 sore ini tak pernah sepi pengunjung. Wajar kalau antre, karena tiap pesanan dimasak satu per satu dan hanya menggunakan dua buah anglo (alat masak dari tanah liat dengan arang sebagai sumber panas). Kuah mi rebus terasa segar dengan aroma bawang putih yang dominan.
Di sini, tersedia pula nasi goreng Jawa yang tak kalah sedap. Penggunaan kecap manis yang tidak berlebihan, menjadikan rasa nasi goreng lebih netral dan cocok untuk lidah siapa saja, termasuk yang tidak suka manis. Aroma smokey dari arang cukup memberikan andil pada cita rasa mi dan nasi gorengnya.
MELEWATI ZAMAN

Pembangunan di area ini cukup pesat. Penertiban dan pembangunan ruko mau tak mau membuat tatanan kuliner kaki lima di kawasan ini pun berubah. Namun, Pak Sardi dengan Soto Jakarta racikannya mampu melewati itu semua. Sejak tahun 1960-an, ia sudah berjualan soto di sini. Awalnya hanya berupa warung tenda, hingga saat ini mobil-toko (moko) digunakannya untuk berjualan. Sejak awal berjualan hingga sekarang, Pak Sardi memiliki pelanggan setia.
Racikan soto pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, ini serupa dengan soto Betawi, yakni menggunakan kuah santan yang gurih. Isiannya pun serupa, ada daging sapi dan jeroan (paru, babat, usus, hingga lidah sapi). Bedanya, kuah soto ini lebih kemerahan dibandingkan soto Betawi yang berkuah kuning. Mungkin, kuah soto ini menggunakan rempah untuk gulai. Agar lebih segar dan pedas, tambahkan air jeruk limau yang disertakan sebagai pendamping soto.
Selain soto, Sate Padang H. Ajo Manih asal Pariaman, Sumatra Barat, juga berhasil menembus zaman karena konsistensinya dalam menyajikan satai berbumbu kari yang sedap sejak tahun 1975. Letaknya sejajar dengan Soto Jakarta dan swalayan Tip Top. Sangat mudah ditemukan karena tenda ini terang dan selalu ramai. Ratusan tusuk satai yang berjajar di balik kaca gerobak amat menggoda. Tamu cukup pilih daging sapi atau jeroan, atau campuran keduanya.
Potongan daging dan jeroannya besar-besar, sehingga puas saat menyantapnya. Sebelum disajikan ke tamu, satai dibakar sejenak, dicelup, lalu disiram saus kari. Dagingnya lembap, tidak kering, dengan tekstur yang kenyal. Sedap! Jeroan, khususnya usus yang jarang ditemukan di penjual satai Padang lainnya, juga tak kalah menggoda dan kerap menjadi favorit di sini.
Drama penggusuran juga pernah dilalui Martabak Favorit. Dulu, gerobak martabak manis dan asin ini terletak berdampingan di pinggir jalan, sejajar dengan Apotek Rini. Namun, lokasi berdagang yang akan dibangun restoran, membuatnya terpaksa pindah. “Saat ini, martabak manis buka di sini (teras bengkel Lada Motor), martabak asin masih di tempat lama yang enggak kena gusur," ujar Dudiet, pengelola yang tak lain adalah menantu sang pemilik.
Martabak manis merupakan top selling berkat adonannya yang lembut. Tersedia dua macam adonan martabak manis, yakni menggunakan margarin atau roombutter. Sudah pasti, aroma martabak yang menggunakan adonan roombutter jauh lebih tajam dan sedap. Olesan margarin dan roombutter yang melimpah juga menjadi penyebab banyak yang menyukainya. Taburan konservatif berupa cokelat, kacang, wijen, dan keju pun masih menjadi andalan.
Munculnya gerai martabak baru dengan taburan cokelat Toblerone, selai Nutella atau Ovomaltine sempat membuat Dudiet ketar-ketir. Namun, pelanggannya yang sudah menjajal martabak trendi itu, tetap kembali ke gerainya. Ia pun tidak menolak permintaan pelanggan untuk memberi taburan cokelat Toblerone yang mereka bawa sendiri. “Cukup bayar kulitnya saja, nanti saya taruh Toblerone-nya,” jelas sarjana teknik ini.
SEKITAR APOTEK RINI

Bagi mereka yang berkutat dengan obat-obatan, Apotek Rini adalah nama yang tak asing di telinga. Apotek ini tak pernah sepi. Itu sebabnya, banyak pedagang makanan kaki lima berjualan di pelatarannya dan menjadi ikon street food di Balai Pustaka. Karena berjualan di depannya, embel-embel ‘Apotek Rini’ pun melekat pada nama jualan mereka, seperti, Sate Padang Apotek Rini dan Nasi Goreng Apotek Rini.
Bakso Gepeng Pak Kosim (Bakso Gepeng Rawamangun) buatan pak Kosim punya ciri bakso yang gepeng. Dulu gerobaknya berada tepat di depan apotek. Kini sedikit bergeser ke samping. Seporsi berisi tiga buah bakso gepeng dan dua buah bakso bulat (bakso urat). Aroma, rasa, dan teksturnya yang kenyal membuat bakso ini jadi favorit. Walau saat ini bermunculan warung bakso gepeng di Jakarta, nama Rawamangun tetap melekat di warung Bakso Gepeng Pak Kosim. Alhasil, pelanggan setianya tak pernah lupa akan kelezatan bakso depan Apotek Rini ini.
Selain bakso, di sekitar Apotek Rini juga hadir penjaja nasi goreng gerobak yang lezatnya, juara. Nasi goreng ayam, nasi goreng ikan asin, hingga nasi goreng petainya, sering mendapat pujian. Nasinya pulen dengan wangi rempah yang kuat. Untuk nasi goreng petainya, petai diiris agak tipis dan digoreng hingga matang sehingga aromanya tidak terlalu menyengat. Satai Padang yang berjualan di sebelahnya pun terkenal. Bernama asli Sate Padang Buyung. Gerobaknya sedikit tersembunyi di balik mobil yang parkir di pinggir jalan.
Padatnya parkiran di depan apotek tak jarang disebabkan oleh mereka yang ingin menyambangi para penjaja makanan ini. Jangan mengharapkan tempat makan yang nyaman. Hanya tersedia beberapa bangku tanpa meja. Jadi, Anda harus memiliki keahlian makan sambil memegang mangkuk bakso atau makan sambil berdiri. Tak jarang pula yang memesan untuk diantarkan ke mobil.
TAK HANYA KAKI LIMA

Pusat kuliner tampaknya memang cocok disandang oleh kawasan Balai Pustaka. Jajanan kaki lima memang menjadi andil keramaiannya, sehingga mendorong para pebisnis kuliner untuk membuka restoran di daerah ini. Nama-nama terkenal seperti Sate Khas Senayan, Warung Pasta, Sushi Miyabi, dan Bebek Goreng H. Slamet, juga tertarik membuka gerainya di sini.
Ayam Kremes Bu Djagat juga tak pernah sepi saat makan siang. Pelanggan rumah makan berlogo ibu berkebaya ini kebanyakan mahasiswa. Apa lagi yang mereka inginkan, selain makanan berharga pas di kantong dengan rasa enak. Paket ayam kremes komplet, bisa jadi pilihan. Pelengkap berupa nasi dan lalapan, cukup mengenyangkan.
Belakangan, Kedai Locale jadi tempat nongkrong yang populer di sini. Bangunan rustic di ujung jalan yang sarat dengan sentuhan etnik ini menyajikan makanan bercita rasa tradisional. Nama di daftar menunya unik, mencerminkan kreativitas pemilik dalam mengolah masakan Indonesia. Kopi yang disajikan pun diramu unik dengan campuran rempah-rempah lokal. Pertunjukan live music oleh band-band baru menjadi magnet kaum muda Rawamangun. (f)




