Fiction
Seratus Hari

25 Oct 2016

 
“Jadi hanya kita berdua yang berangkat?” Aku berhasil menepuk pundak Ruben setelah menerobos kerumunan orang yang menunggu.  Ia tampak celingukan dan masih mengenakan setelan kerjanya, kemeja putih bergaris dan celana bahan slim fit, sambil menenteng ransel.  Ia menengok sambil tersenyum, “Kenapa? Kamu mau berubah pikiran juga?”
 
“Ya, enggaklah. Kan memang sudah diniatin dari awal. Harus berangkat.” Kebiasaan kebanyakan orang, antusias di depan, tapi saat jelang hari H, banyak yang bertumbangan.
 
 “Tapi, pacarmu enggak masalah kita pergi berdua?”
 
“Mau berdua, sendiri, atau sekampung juga tidak ada bedanya. Enggak ngaruh.” Aku melihat ke arah layar ponsel, tidak ada notifikasi. Waktu menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit.
 
“Oh, maksudnya ini pertanda bagus atau bahaya?” tanya Ruben, menegaskan.
 
Sudah lama tidak bertemu. Ah, tidak juga, sih, baru kurang lebih tiga bulan yang lalu. Kenapa tiba-tiba dia jadi banyak tanya, sih? Adakah pengaruh suasana hati Alex dengannya? Aku hanya membatin.  Lagi pula, sebenarnya aku  bingung juga harus bereaksi apa. Toh, dari tadi aku mencoba menelepon Alex, tidak pernah diangkat. Pamitan lewat pesan instan juga tidak dijawab. Boro-boro dijawab, dibaca saja tidak.
 
“Tenang saja, sudah dapat restu, kok. Kamu sudah pamit sama pacar?” Baru saja terlontar, aku tersadar pertanyaan barusan punya kemungkinan merusak suasana hati teman perjalanan selama delapan jam ke depan.
 
“Cukup pamit sama orang tua,” jawab Ruben, tersenyum. Bukan sebuah senyuman yang dipaksakan. Aku lega. Ia kemudian menawarkan diri untuk menenteng tas pakaianku dan mengajakku naik ke kereta.
 
 
PERLAHAN KERETA mulai bergerak. Aku mengamati Monas yang perlahan menjauh. Kututup tirai, menutupi seluruh bagian jendela. Lagi pula, tak ada pemandangan yang bisa dinikmati dari dalam kereta malam. Ruben melepaskan plastik pembungkus selimut dan memberikannya padaku. Lalu memberiku sebotol air dan sebungkus roti cokelat keju. Sungguh perhatiannya di luar dugaanku.
 
 “Kita tidak pernah benar-benar saling mengenal, ya?” tanya Ruben tiba-tiba, setelah petugas pengecek tiket beralih ke bangku berikutnya.
 
“Kita hanya beberapa kali hang out bersama Laura. Tapi, Laura banyak bercerita tentang kamu. Bagaimana kalian bertemu….”
 
“Bagaimana kami putus…,” Ruben menimpali. “Kalian memang sangat dekat, ya?”
 
“Ya, sudah seperti saudara kandung, terutama saat ngekos bareng di Bandung.”
 
Kami kembali terdiam. Bingung juga harus bicara tentang apa lagi kalau bukan tentang Laura dan  kalau dipikir-pikir karena Laura-lah kami duduk bersisian di kereta ini. 
 
“Sebenarnya aku ingin kalian balikan lagi, tapi, yah kenyataan berkata lain.” Aku coba buka suara. “Aku sendiri tidak benar-benar paham kenapa kalian putus. Laura bilang, ia tidak sanggup berhubungan jarak jauh. Tapi, setelah kalian berdua ada di Jakarta, tidak juga bertemu. Aku ingat dia meneleponku sambil menangis setelah melihatmu dekat dengan seseorang waktu itu.”
 
Aku tidak menyangka kata-kata barusan keluar tak terkontrol dari mulutku.
 
“Bisakah kita tidak membicarakan perkara Laura lagi. Mengapa kita tidak membicarakan yang lain, seperti film terakhir yang kamu tonton atau apalah,” sahutnya lirih. Ia tampak sedih.
 
Kami sepakat tak lagi mengungkitnya lagi, meski perjalanan ini adalah tentang Laura. Ternyata, jika tidak menyangkut Laura, kami berdua bisa menjadi lawan bicara yang asyik. Selera humornya boleh juga, pikirku. Dan cara dia menatapku, agak di luar dugaan, begitu hangat. Ia memberi perhatian penuh saat aku bercerita.  Aku tidak melihatnya mengecek  ponsel sama sekali sepanjang perjalanan. Selama ini, jujur saja, aku sempat naksir cara Ruben mencintai sahabatku. Tapi, kali ini aku memandang Ruben dengan cara berbeda. Dia adalah Ruben tanpa embel-embel Laura.
 
Kami tertawa, bertukar playlist lagu yang sedang didengar, kembali tertawa. Hingga akhirnya lampu dalam gerbong mulai diredupkan. Tak ada lagi orang yang berlalu- lalang. Kami pun sepakat untuk  beristirahat. Ia lalu membetulkan posisi selimutku dan menariknya hingga menutupi leher. Susah payah aku menyembunyikan senyumku yang mulai mengembang tak terkendali. Alex --yang sedari tadi tidak membalas telepon dan pesanku-- tidak pernah melakukan hal-hal manis semacam ini.
 
Hati-hati dengan dua orang kesepian yang duduk berdampingan. Belum lagi selalu ada efek yang melankolis dan romantis menaungi perjalanan kereta. Aku terbangun dan mendapati tanpa sadar kami saling mendekap. Wajahku telah berhadapan dengan wajahnya, terlalu dekat. Ia manis juga kalau sedang tidur, pikirku sembari memberi sedikit ruang untuk mengamati. Sepertinya perjalanan ini sudah mengacaukan kerja otakku. Dia akan selamanya menjadi milik Laura. Tapi biarlah, untuk sekali saja, aku menikmati sensasi kasmaran seperti ini. Aku yakin perasaan ini hanya mampir sejenak. Malam ini saja dan di kereta ini saja.
 
Aku membetulkan posisi selimutnya yang turun. Tak disangka di saat bersamaan ia terbangun. Ia merengkuh tubuhku dan mengecup keningku dan kubiarkan ia mencium ujung bibirku.
 
Ciuman barusan. Terasa salah dan benar sekaligus. Menggetarkan dan mendebarkan. Kami berdua sama-sama terkejut telah membiarkan momen tak lebih dari sepuluh detik itu terjadi. Ia berkali-kali minta maaf, aku berkali-kali pula menjawab, “Tidak perlu minta maaf karena aku juga membiarkannya terjadi,” sambil menyuruhnya kembali tidur.
 
Bukankah kita bisa memaknai sebuah ciuman dengan berbagai makna selain cinta? Aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ciuman tadi adalah ciuman pertemanan. Adakah ciuman semacam itu? Ah, ini cuma sebentuk ciuman keputusasaan. Tidak, tidak… ini ciuman terbawa suasana. Kami tidak sedang dimabuk cinta, ini hanya sebuah ketelanjuran.
 
Aku tidak tidur. Aku berusaha memejamkan mata, mengira-ngira berapa menit yang sudah menguap. Aku tahu ia pun gelisah, mungkin karena merasa bersalah. Aku menyingkap tirai jendela, di luar sana masih gelap. Begitu pula saat kubuka kembali ponselku yang seperti mati suri. Aku mengecek daftar pesan, hanya ada beberapa group chat teman SMA, pesan singkat dari ibuku yang memberikan sederet daftar titipan. Tak ada pesan dari Alex.  
 
 
 
SESAMPAINYA DI KOTA yang dituju, semuanya tidak jadi lebih baik. Kami naik becak dalam diam. Sesekali kami bergantian menguap. Hanya deru napas bapak becak yang tersengal-sengal dan kayuhan yang makin lama terasa berat yang akhirnya berhasil memecah keheningan.
 
“Sudah tidak jauh sepertinya, kita jalan saja.” Aku menyikut dada Ruben, memberinya kode untuk turun. Raut wajah bapak becak yang sudah terlampau tua untuk menarik becak pun dipenuhi kelegaan saat kami memutuskan berhenti.
 
“Kasihan. Tahu begini kita naik becak sendiri-sendiri. Ternyata kalau kita disatukan berat juga, ya,” ujar Ruben sambil tertawa. Tawa pertamanya pagi ini.
 
Ruben sudah menyalakan GPS dan aku mengeluarkan kertas panduan dari ayah Laura. Saatnya mengunjungi kembali sahabat kami. Tak disangka, seratus hari sudah mereka berpisah.
 
Tidak sulit menemukan nisannya karena terlindung di antara dua pohon rindang. Tak perlu repot membersihkan, karena sepertinya ada yang baru saja berziarah ke sini. Aku mengamati cara Ruben mengelus pusara Laura, mengusap foto Laura seukuran pasfoto yang terpampang di batu nisan.
 
Aku terus memandanginya. Ia tepekur menatap nisan. Lama sekali hingga aku melihat ia menitikkan air mata yang lama-lama menderas. Hanya ada kami berdua dan burung-burung yang sibuk berceriap.
 
Angin terasa dingin, padahal matahari begitu hangat menyengat. Aku lalu memejamkan mata. Kulayangkan doa dan sebuah pertanyaan untuk Laura, Apa rasanya dicintai seseorang sebegitu besar, bahkan setelah kamu tiada?”
 
“Aku sudah terlalu banyak berbuat salah pada Laura. Itu juga yang membuat kami tidak pernah kembali bersama,” gumam Ruben, memecah keheningan. Semoga ciuman semalam bukan salah satunya, pikirku. 
 
Aku kemudian bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya mencintai seseorang begitu dalam?”
 
“Menyiksa,” jawabnya sambil tertunduk menangis. Apa pun yang sedang ia cari, aku harap ia segera menemukan jawabannya.
 
“Aku yakin Laura ingin kamu bahagia.”  Aku memberanikan diri untuk meraih tangannya dan menggenggamnya.
 
Kami saling menemukan dalam kehilangan. Atau sesungguhnya kami telah kehilangan satu sama lain saat saling menemukan? Andai kematian bisa pergi tanpa meninggalkan selubung luka dan ingatan.
 
Bunyi bip pendek menggetarkan saku celanaku. Bagaimana perjalanannya, Sayang? Besok pagi aku jemput di stasiun, ya. Love, Alex.”  Deret huruf yang menyala kemudian lenyap dalam gelap. Alex mendadak muncul. Tak ada kata maaf dan ungkapan penyesalan dalam pesannya. Anehnya, aku yang kini malah merasa bersalah.  
 
 Aku dan Ruben hanya meninggalkan jejak berupa tanda tanya. Jika memang ini cinta, rasanya ini kesimpulan yang tergesa-gesa. Aku sadar, selalu ada Laura di antara kami berdua. Sampai kapan pun. (f)
 
***

Adeste Adipriyanti


Topic

#FiksiFemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?